MAHASISWA BARU DIFABEL KELUHKAN PENUGASAN RAJA BRAWIJAYA 2026, KAPEL BERI TANGGAPAN

0

Sumber: Arsip foto mahasiswa baru 2026

MALANG-KAV.10 Beberapa mahasiswa difabel mengeluhkan penugasan yang ada dalam RAJA Brawijaya (Rabraw) 2026. Dari berbagai penugasan yang diberikan kepada para mahasiswa baru (maba) tersebut, terdapat beberapa penugasan yang dianggap kurang inklusif oleh maba difabel, seperti penugasan jingle dan bahasa isyarat sehingga mahasiswa difabel mendapati adanya kendala terkait penugasan tersebut.

Salah satu mahasiswa difabel, Jeka (bukan nama sebenarnya), mengatakan bahwa dirinya mengalami kendala dalam mengerjakan tugas jingle. “Nah, sebenarnya buat netra tuh susah ya, Kak. Kalau buat ngelatih gerakan gitu sehari itu sebenarnya enggak cukup ya. Tapi ya gimana lagi orang dia [deadline penugasan] tuh kan juga udah mepet. Jadi, ya udahlah seadanya aja. Yang penting kan ngerjain ya,” ungkapnya dalam wawancara yang dilakukan pada Senin (10/8).

Ketua pelaksana RAJA Brawijaya, Daffa, menjelaskan mengenai adanya penyesuaian penugasan kepada maba difabel. Jika ada penugasan yang dianggap sulit, maba difabel bisa mendapatkan tugas pengganti lainnya yang lebih fleksibel. “Mereka [maba] tetap mengerjakan tugas tapi dengan skema yang berbeda. Misal, tugasnya video, maka mereka akan kami arahkan untuk membuat esai, resume dan lain sebagainya. Jadi, itu yang masih bisa terakomodasi dan kita sangat fleksibel dengan kebutuhan mahasiswa difabel,” jelasnya pada Minggu (9/9).

Walaupun dapat mengerjakan tugas pengganti, Jeka lebih memilih mengerjakan tugas yang sama dengan mahasiswa baru lainnya, seperti saat ia mengerjakan penugasan jingle. “Sebenarnya ada tugas ganti sih, tapi menurut gua ya udahlah mendingan jingle ya. Daripada nge-vlog lagi, ribet lagi nge-take-nya. Sebenarnya aku bisa, tapi buat kebersamaan aja jadi ya udahlah yang penting sama-sama aja. Sama-sama netra kan itu lima orang, jadi ya udah akhirnya ngambilnya jingle,” ucapnya.

Penugasan lainnya yang membuat Jeka mengalami kendala adalah penugasan bahasa isyarat. Ia telah menyampaikan kendalanya sebagai mahasiswa difabel netra terkait penugasan bahasa isyarat kepada panitia supervisor (SPV) dengan meminta adanya keringanan melalui kolom komentar Google Classroom, tetapi ia mendapati kekurangan respon dari panitia SPV yang bersangkutan. “Nah, itu enggak direspon Kak, akhirnya kita minta ini, minta PLD buat ngajarin kita bahasa isyarat ya, alhamdulillah aja diajarin,” ujarnya.

Jeka merasa penugasan yang diberikan oleh panitia Rabraw masih kurang inklusif. Ia berharap panitia SPV dapat lebih aktif kepada teman difabel lainnya. “Karena kan disabilitasnya tuh banyak macam ya. Jadi saranku lebih aktif lah buat ngerespon pertanyaan dari mahasiswa difabel gitu, ya. Apalagi kan buat yang netra, jujur netra tuh salah satu disabilitas yang paling sulit untuk ngerjain tugas, apalagi video gitu.” Jeka juga berharap agar panitia dapat lebih responsif dalam sistem yang dibuat panitia terkait penugasan yang ada dalam RAJA Brawijaya 2026.

*)Hingga berita ini terbit, Koordinator Penugasan RAJA Brawijaya 2026 belum memberikan pernyataan.

Penulis: Aurelia Calista Fathimah Azzahra
Editor: Nabila Riezkha Dewi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.