PITA BIRU
Sumber: Canva
Jingga berangkat dengan penuh semangat mengenakan atribut lengkap serta pita biru di lengan kirinya. Ia berbaris dengan teman-teman sebayanya, berkenalan sembari menunggu gerbang dibuka. Hari itu adalah jadwal dimulainya rangkaian PKKMB fakultasnya. Saat seluruh mahasiswa baru dipersilakan untuk masuk, Jingga mencari nomor fasilnya di antara ratusan mahasiswa yang berkerumun di depan gedung fakultas. Namun, sebelum sempat menemukan kelompok fasilnya, seorang panitia menghampirinya dan memberi isyarat agar Jingga ikut dengannya untuk bergabung dengan mahasiswa berpita biru lainnya dengan alasan akan ada pendamping khusus untuknya. Jingga merasa sedikit sedih karena tak bisa bergabung dan berkenalan dengan teman satu fasilnya, tetapi dia hanya menurut dan mengikuti panitia ospek tersebut.
Selama rangkaian ospek berlangsung, Jingga hanya bisa duduk di sisi pinggir sambil menatap teman-teman satu angkatannya bersorak ria menyahut sapaan dari pembawa acara. Jingga merasa sedikit tersisihkan saat kedua MC memanggil setiap fasil di saat dia tak bisa bergabung dengan teman-temannya yang lain. Rasa tidak nyaman mulai merambat pada diri Jingga saat terdapat dosen yang menyebut dimana ia duduk bersama kawan-kawan difabel lainnya. Jingga merasa seperti dibedakan, dirinya tidak suka tatapan iba yang ditujukan olehnya dan sesama teman-teman difabel lainnya.
Ketika rangkaian ospek berakhir, Jingga berjalan meninggalkan gedung bersama mahasiswa difabel lainnya. Ia kembali melihat teman-teman satu fasilnya yang masih bercanda dengan satu sama lain. Jingga ingin menghampiri mereka, tetapi langkahnya terhenti. Ia sadar, sejak pagi tadi dirinya tidak pernah benar-benar diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari kelompok itu, Jingga sedikit merasa canggung untuk menghampiri mereka. Pita biru yang melingkar di lengan kirinya masih terpasang, tetapi kini bukan lagi sekadar atribut ospek. Pita itu terasa seperti tanda yang memisahkannya dari mahasiswa lain. Di tengah keramaian mahasiswa baru yang sibuk memulai pertemanan, Jingga hanya bisa bertanya dalam hati, “Aku datang sebagai mahasiswa baru seperti mereka, kenapa aku merasa seperti diperlakukan berbeda dari yang lain?”
Penulis: Andini Daniswari
