DETAIL YANG TERLUPA DALAM CATATAN KAMPUS INKLUSIF
Sumber: Pinterest
“Memang secinta itu sama Universitas Brawijaya (UB),” katanya dengan terkekeh pada (10/08).
Setelah mengalami jatuh bangun selama proses menggapai kampus impiannya sejak sekolah kejuruan, usaha Nao (bukan nama sebenarnya), mahasiswa angkatan 2025, berujung manis ketika ia diterima melalui Seleksi Mandiri Penyandang Disabilitas (SMPD) tahun lalu. Ia lantas mulai menyiapkan diri mengikuti rangkaian orientasi mahasiswa baru—RAJA Brawijaya (Rabraw) 2025, hingga ospek jurusan. Satu pita khusus kemudian disiapkannya, agar panitia mengenalinya sebagai mahasiswa yang butuh kemudahan aksesibilitas.
Namun, sebelum hari orientasinya tiba, salah satu penugasan sempat membuat Nao emosional, yaitu jingle. Ia mengaku harus dibantu sang ibu yang bahkan terus meyakinkannya bahwa ia mampu. Sebagai seorang penyandang disabilitas daksa, Nao mengalami kendala motorik, sehingga mempraktekkan jingle merupakan suatu hal yang sifatnya pertama kali baginya. Teman-teman mahasiswa penyandang disabilitas daksa lain pun memiliki keresahan yang sama. Mereka pernah mengeluh kepada Nao, “Aku sempat reach out ke Instagramnya Rabraw tapi enggak direspon.”
Walau begitu, Nao akhirnya berhasil menyelesaikan jingle tersebut.
Hal-Hal yang Luput dari Seremonial
Sebagai pengguna kursi roda, Nao mengaku cukup kesulitan ketika titik kedatangannya sama seperti mahasiswa baru lain. Sebab selama rangkaian ospek, sepanjang bahu jalan dipenuhi oleh para mahasiswa baru yang terus berdatangan, bahkan sibuk berlalu lalang. Apalagi, tak hanya ratusan mahasiswa yang ada di sana, melainkan ribuan, terutama hari pertama yang merupakan Opening Ceremony. “Jujur agak kesusahan, karena kamu bisa bayangin betapa hectic-nya [Jalan] Veteran,” kekeh Nao.
Alih-alih merasa panik atas situasi tersebut, seperti halnya yang dialami sang orang tua, Nao mencoba menenangkan. Ia berkata pada hari itu, “Enggak apa-apa, nanti kan ada pendampingnya.” Dan memang tepat sehari sebelum pelaksanaan Rabraw, Pusat Layanan Disabilitas (PLD) telah menyiapkan seorang pendamping. Komunikasi pun terjalin dengan sikap proaktif antara ia dengan pendampingnya itu melalui kontak pribadi.
Mereka pun bertemu di tempat yang telah disepakati, di bawah videotron, Nao pun akhirnya mendapat bantuan untuk proses mobilisasinya hingga berakhirnya hari. Berbagai perasaan kemudian merasuk ke dalam dirinya begitu menjejaki kampus terkasih. Rasa haru membuncah ketika ia terpilih untuk tampil dalam Opening Ceremony, sebagai perwakilan mahasiswa difabel untuk selebrasi pelepasan burung.
Perasaan sedih dan kecewa kemudian terdengar dari nada bicaranya. Nao mengingat bahwa seharusnya hari itu, selain selebrasi burung, ia juga melakukan penyematan jas almamater. Namun, hal itu gagal akibat ketidaktersediaannya aksesibilitas untuk kursi rodanya. “Karena ada banyak tangganya, terus sempit kecil gitu,” kenangnya.
Akibat dari tangga sempit itu, ide Nao agar panitia mengangkat kursi rodanya pupus. Masalah akses itu tidak terpecahkan hingga sepulangnya ia dari gladi bersih. Ia hanya dapat berharap saat pelaksanaan besok, masalah tersebut sudah menemukan solusi, mengingat kesulitan-kesulitan yang dialaminya telah terpampang secara jelas. Namun, harapan itu sirna tepat di hari-H. Panitia mengabarkan bahwa penyematan yang telah dicanangkan batal. Ia berpendapat, “Aku sih menyimpulkan itu salah di mekanisme karena waktu itu alasan mereka adalah ‘kita enggak bisa naikin Nao karena jajaran rektorat udah naik’ gitu.”
Alhasil, Nao hanya melakukan selebrasi burung yang tidak perlu naik ke panggung. Saat itu, kursi rodanya didorong oleh sang ketua pelaksana melewati jalan-jalan yang telah ditentukan. Dengan perasaan campur aduk, ia lantas mencoba memahami apa yang telah diupayakan oleh panitia. Upaya-upaya itu bermuara pada tujuan untuk menunjukkan bahwa UB sebagai kampus inklusif menyambut mahasiswa difabel.
“Jadi, mungkin maksud mereka sudah baik ya untuk mengajak teman-teman difabel terlibat di RAJA Brawijaya, tapi untuk detail-detail kecil itu masih belum diperhatikan gitu,” tambahnya.
Detail Kecil yang Terlupa
Selesai dengan selebrasi yang membekas dalam ingatan, Nao kemudian melanjutkan jejak menuju venue utama, yaitu Samantha Krida. Tidak bersama dengan para mahasiswa baru lain yang melakukan mobilisasi, mahasiswa difabel yang tergabung dalam cluster 51 menunggu dan menunggu, hingga tersisa mereka. “Setelah teman-teman udah masuk, kita baru masuk ke Samantha Krida,” terangnya yang mengingat betul hari itu.
Ketika telah masuk ke dalam venue, ada satu hal yang menurut Nao terlewat oleh panitia terkait penempatan mahasiswa tuli. Ia berpikir bahwa mahasiswa tuli sudah seharusnya ditempatkan di depan untuk melihat Juru Bahasa Isyarat (JBI), tetapi malah ditempatkan di belakang. Mekanisme tersebut sempat membuat pihak dari PLD merasa kesal. Ia ingat saat itu, pihak PLD sempat beradu argumen dengan panitia.
“Setelah dari PLD menyampaikan bahwa enggak bisa kalau misalnya teman-teman tuli ada di belakang, akhirnya mereka bisa pindah di depan,” papar Nao.
Nao sendiri cukup berjarak dengan kejadian itu. Sebagai mahasiswa penyandang disabilitas daksa, ia berada di dekat pintu mobilisasi karena memang terkendala dalam hal mobilitas. Namun, melihat penempatan mahasiswa tuli tersebut, ia merasa detail penempatan mahasiswa difabel harus diperhatikan lagi, karena hal kecil seperti ini bisa terlewat. Padahal, untuk bagian besarnya sudah cukup bagus.
Masuk ke waktu-waktu istirahat, salat, dan makan (isoma), kursi roda Nao bergulir ke PLD yang berada tepat di samping Samantha Krida. Pada waktu itu, ia masih merasa bahagia-bahagia saja karena itu adalah kali pertamanya ke PLD dan bergabung bersama teman-teman mahasiswa difabel lainnya. Mereka melakukan isoma di sana. Tidak ada yang aneh, hingga telah cukup lama dari berakhirnya Rabraw, ia baru menyadarinya bahwa ada yang salah.
“Kalau dipikir-pikir sekarang kayak ‘iya, ya, kenapa disendirikan, ya?’ gitu. Kenapa kita disendirikan dari teman-teman yang lain gitu? Seharusnya memang tidak terpisah begitu, ya. Terlalu ada batasnya gitu antara mahasiswa difabel dan non-difabel,” pikirnya menimbang-nimbang.
Selain pemisahan ketika isoma, Nao merasa adanya cluster 51 telah membatasi dirinya untuk berteman dengan mahasiswa baru lain selama Rabraw. Teman-temannya hanya para mahasiswa difabel yang memang satu cluster dengannya. Baginya, itu menjadi nilai tambah karena membuatnya lebih akrab dengan teman-teman mahasiswa difabel, tetapi perlu dipertimbangkan.
Nao menyadari beberapa hal dilakukan panitia untuk mengakomodasinya, tetapi perlu untuk melakukan hal tersebut tanpa membuatnya merasa tersisihkan.
Suara yang Disisihkan
Perasaan tersisihkan itu melempar ingatannya pada momen ospek fakultas (osfak). Nao teramat merasa dikotak-kotakkan, ia duduk terpisah dari teman-teman satu cluster-nya. “Dan waktu itu setelah osfak, aku ketemu sama temen satu cluster-ku. Aku bilang, ‘Loh aku satu cluster sama kamu’. Dia jawab kayak, ‘Oh iya? Tapi kan waktu itu kamu disendirikan ya sama teman-teman difabel. Jadinya enggak bisa bonding’ gitu,” ucapnya memperagakan percakapan hari itu.
Tidak ada cluster khusus seperti pada saat Rabraw, baik mahasiswa difabel maupun non-difabel bergabung menjadi satu. Namun, tidak ada bedanya ketika Nao dan mahasiswa difabel lain justru duduk terpisah menggunakan bangku (kecuali ia yang memang menggunakan kursi roda), alih-alih duduk dan membaur dengan mahasiswa lain. Bahkan saat kegiatan, seperti Focus Group Discussion (FGD) dan isoma mereka tetap terpisah.
Kebingungan muncul ketika Nao acapkali mendapat pertanyaan, seperti, “Kamu mau ikut FGD, nggak?”
Dilema seketika menyelimuti batin Nao apalagi sebagai mahasiswa baru, ia seperti dipersilakan untuk mengikuti kegiatan osfak. Namun, jika kiranya ia bisa menjawab: misalnya kita bilang enggak, masa kita enggak ikut, sih? pikirnya. Ia merasa serba salah pada saat itu.
Selain itu, Nao menyoroti fasilitatornya yang kurang memiliki kesadaran bahwa dalam grup yang difasilitasinya terdapat mahasiswa difabel. Ia menekankan, mungkin ini hanya dialami olehnya karena tergantung dari fasilitator masing-masing. Begini, ketika fasilitator tahu ia sudah didampingi oleh volunteer PLD, mereka seperti, “Oh, ‘kan, Nao sudah sama volunteer-nya.”
Pada akhirnya mereka terkesan seperti lepas tangan, seakan-akan menyerahkan anggota cluster-nya kepada si volunteer.
Nao merasa segala hal yang telah terjadi selama orientasi mahasiswa membuatnya memiliki pandangan baru. Ia merasa, pengalaman-pengalaman itu tidak mungkin dialaminya di luar ospek. Ia kemudian menambahkan, “Tapi mungkin untuk hal-hal yang kecil dan detail masih sering terabaikan ya. Hal-hal yang aku sebutkan tadi itu mungkin bisa diperbaiki.”
Penulis: Elvaretta Rahma Devina
Editor: Muhammad Tajul Asrori
