KUMPULAN PUISI DARI JURNAL OSPEK II 2026

0
ilus opini_juros 2 (mff yh teman2 gabisa maksimal_(( )

Ilustrator: Sofidhatul Khasana

Layar Suara

Mereka bilang bilik ini terbuka untuk semua, menyalakan layar, membiarkan huruf berbaris tanpa pernah melihat keadaan di belakang 

Seekor makhluk duduk meraba udara, mencari makna yang tak pernah dikirim lewat bias cahaya, hanya kursi yang berderit dan waktu yang terus berjalan

Yang berpendidikan bercerita panjang tentang teori, masa depan, serta peliknya masa lalu 

bibirnya bergerak cepat sama halnya orang yang lupa separuh kelasnya hidup tanpa suara

Sendi bertemu pena untuk mencatat, tawa hancur di sudut ruangan, sementara kepala itu menatap gerak mulut yang tak akan pernah selesai jadi salah satu kata

Inklusi katanya, kenapa hanya dibangun untuk bisa dilihat dan didengar, 

kenapa kami terpaksa menyusul dengan kaki yang sejak awal tidak diberi tangga

kami dilupakan bahwa dunia ini punya lebih dari satu cara untuk sampai ke telinga dan ke mata

karena aku kamu kita semua setara

Penulis: Farrel Yoga Putra

Yang Terkasih, Kesayangan Tuhan Semesta Alam

Terkadang aku bertanya,

Mengapa manusia diciptakan berbeda?

Apakah karena Tuhan tidak mengasihi sama rata? 

Atau hukuman turun dari Surga belum cukup untuk Adam dan Hawa?

Dari sudut mata biru itu,

Aku tidak akan pernah tahu

Tangan terulur meraba debu

Atau memang menunggu?

Tidak ada yang bisa membaca hati manusia

Tapi hati putih bersuara ria

Seolah dia memang bisa membaca dunia

Mendamba seseorang untuk dapat meraih bersama

Aku diam, menatap begitu lama

Sambil bertanya, apakah dia melihat sisi dunia yang sama?

Atau justru menghakimi sang Pencipta karena tidak memukul rata penciptaan manusia?

Aku tidak pernah tahu,

Sebab dibalik senyum itu—dia menunggu.

Penulis: Aisyah Aprilia Syofi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *