LEMBAYUNG ASA DI SUDUT GERBANG BRAWIJAYA

0
Fotografer: Aulia Hasti Zalika R.

MALANG-KAV.10 Agustus selalu datang membawa angin yang berbeda bagi Kota Malang. Udara dingin khas musim mahasiswa baru mulai memeluk sudut-sudut kota. Sepanjang jalanan Universitas Brawijaya perlahan disapu oleh gelombang hangat antusiasme ribuan anak muda.

Antusiasme itu turut menghangatkan sebuah bangunan kecil yang berdiri tak begitu mencolok pada pos polisi di dekat Gerbang Veteran Universitas Brawijaya. Di sanalah Ibu Susi—seorang perempuan asli Malang, telah menghabiskan waktu lebih dari dua dekade untuk menjajakan keperluan ospek bagi mahasiswa baru yang dibuat kepalang bingung oleh penugasan. Bagi masyarakat awam, tempat itu mungkin hanyalah sekadar lapak kecil berisi alat tulis dan perlengkapan lain. Namun, bagi mahasiswa baru yang pernah berdesakan di sana, lapak Ibu Susi adalah suaka kecil di tengah badai ospek yang menegangkan. 

Dari Warung Nasi, Hingga Menjual Gulungan Pita dan Dasi 

Jauh sebelum pos polisi berdiri tegak dan pagar kampus menjulang tinggi mengelilingi area Jalan Veteran, tempat yang dinaungi Ibu Susi dan keluarganya merupakan sebuah warung nasi. Aroma lauk dari warung nasi Ibu Susi berhasil memanggil perut-perut mahasiswa pada masa itu, menjadi salah satu tempat berkumpul bagi lidah siapa saja yang merindukan masakan rumahan. 

“Dulu ini enggak ada pagarnya, itu bekas warung nasi saya, anak-anak [mahasiswa] kalau nongkrong di situ,” kenangnya sembari menunjuk salah satu spot kosong pada sudut jalan, pandangannya menerawang kenangan puluhan tahun silam.

Namun, roda kehidupan kian berputar mengikuti zaman. Seiring bertambahnya usia dan bergantinya paras kawasan Brawijaya, bentuk pelayanan Ibu Susi turut bertransformasi. Dari balik meja makan pada warungnya, ia mulai membaca pola tahunan yang sering kali terlihat pada sudut matanya, wajah-wajah mahasiswa baru yang kebingungan mencari barang-barang penunjang ospek. 

Sejak akhir dekade tahun 90-an, lapak kecil itu tak lagi menyajikan piring-piring nasi, berganti dengan deretan perlengkapan ospek yang tertata rapi. Tidak seperti pedagang musiman yang muncul bak jamur pada musim hujan lalu menghilang saat ospek usai, Ibu Susi dan adiknya memilih untuk bertahan sepanjang tahun. Dari pagi buta hingga jarum jam menunjuk angka delapan malam, lapak itu terus terbuka. Benda-benda kecil seperti pita warna-warni, slayer, dasi instan, hingga sepatu pantofel hitam selalu tersedia. Bahkan ketika musim ospek telah berlalu dan kampus tak lagi dikerumuni oleh mahasiswa baru.

“Kita [Ibu Susi dan adiknya] walaupun enggak ospek kan jualan, kalau [pedagang] yang lainnya itu pas ospek aja. Anak-anak mau cari apa, ya sedia, [misal] dasinya [atau] ikat pinggang hilang, itu siap tiap hari,” ujar Ibu Susi.

Welas Asih di Tengah Ketatnya Komersialisasi

Dua puluh tahun lebih mencari sesuap nasi dari barang-barang ospek tak lantas mengikis rasa kemanusiaan dalam diri Ibu Susi. Di tengah riuh pasar bebas di mana kepanikan mahasiswa baru sering kali dimanfaatkan untuk meraup keuntungan berlipat ganda, Ibu Susi dan adiknya justru memilih untuk bergeming pada jalan yang sederhana. 

Ketika pedagang musiman lain—bahkan yang datang memboyong barang menggunakan mobil dari luar kota mematok harga dua kali lipat untuk perlengkapan ospek, Ibu Susi justru menahan harganya pada tingkat yang teramat masuk akal. Di saat tempat lain menjual satu meter pita seharga lima ribu rupiah, barang yang sama bisa didapatkan di lapak Ibu Susi cukup dengan harga dua ribu rupiah. Bahkan, tak jarang jika ada mahasiswa baru yang diberikan pita tersebut secara cuma-cuma. 

Enggak tega, mbak. Siapa tahu anak cucu kita besok sekolah, kuliah. Jangan sampai digituin [aji mumpung] sama orang,” tuturnya sembari mengelus dada tanda iba. 

Ketulusan itu tak menguap begitu saja. Ia menjelma menjadi benih-benih kebaikan yang berbuah manis bagi tangan yang menanamnya. Informasi mengenai sebuah lapak yang menjual perlengkapan murah di dekat pos polisi ini menyebar dari mulut ke mulut. Dari pesan WhatsApp salah satu mahasiswa baru ke mahasiswa baru lainnya. 

Lapak sederhana milik Ibu Susi menjadi tak pernah sepi dari pesan masuk yang memesan perlengkapan ospek. “Pada pesan [lewat] WhatsApp, mahasiswa baru yang saya kasih nomor WhatsApp cerita ke teman-temannya, jadi banyak yang pesan.” 

Lebih dari itu, hubungan yang terbangun lewat lapak Ibu Susi bukan lagi sekadar antara penjual dan pembeli, melainkan telah menjelma menjadi ikatan kekeluargaan. Banyak alumni dari luar kota yang kini selalu menyempatkan diri mampir ke lapak kecil itu setiap kali kembali ke Malang, hanya untuk menyapa “Ibu” yang pernah menyelamatkan mereka dari hukuman ospek puluhan tahun lalu.

Badai Pandemi, Jasa Joki Ospek, hingga Batasan Aparat

Sejarah tak pernah berjalan pada satu garis lurus yang tenang. Dua dekade lebih melakoni usaha ini membuat Ibu Susi paham betul bahwa angin perubahan dapat berhembus kencang kapan saja. Seperti salah satu perubahan paling drastis yang ia rasakan dalam hidupnya, ketika pandemi COVID-19 merebak beberapa tahun lalu. 

Pasca pandemi itu, dinamika ospek tak lagi sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Kehadiran teknologi dan pergeseran perilaku telah melahirkan fenomena baru, yaitu jasa joki ospek. Mahasiswa baru tak perlu lagi berputar-putar menyusuri trotoar untuk mencari barang satu persatu, kini semua perlengkapan dapat dipesan dalam satu paket rapi melalui layar ponsel.

Bagi para pedagang kecil di tepi jalan, seperti Ibu Susi, perubahan ini ialah pukulan telak yang mulai meredupkan riuh rezeki tahunan mereka. “Jauh lebih ramaian dulu sebelum corona. Sekarang kan kakak-kakaknya [mahasiswa] jual paketan [perlengkapan ospek]. Dulu nggak ada joki ospek itu,” ujarnya seraya menunjuk ke arah jalanan yang kini terlihat lebih lengang dari pedagang kaki lima.

Tak berhenti di situ, ketatnya regulasi aparat penegak hukum seperti Satpol PP membuat ruang gerak pedagang musiman semakin terkikis. Jika pada tahun-tahun sebelumnya bahu jalan Gerbang Veteran hingga Gerbang BNI dipadati oleh pedagang yang menjual perlengkapan ospek, tahun ini penertiban berlangsung dengan sangat ketat. Banyak pedagang luar kota yang terpaksa gigit jari dan berputar balik, membawa barang dagangan beserta satu lembar seratus ribu yang diberikan aparat untuk ongkos kembali pulang ke kota masing-masing.

“Kasihan, mbak. Pulang-pergi ke Solo itu enam ratus ribu, [padahal] itu sudah biasa jualan di sini tiap tahun. Biasanya orang Solo itu jualan di Universitas Negeri Malang, baru di Universitas Brawijaya, [lalu] di Universitas Muhammadiyah Malang, keliling gitu loh. Tapi sekarang kayaknya enggak. Kalau sudah gagal, ya gagal semua, pulang,” tutur Ibu Susi

Di tengah batasan-batasan itu, lapak Ibu Susi menjadi salah satu dari sedikit barisan pedagang yang bertahan. 

Menjaga Nyala Lilin di Senja Usia

Kini, rambut Ibu Susi telah memutih dilintasi zaman. Waktu telah memperlambat langkah fisiknya yang dulu sempat lincah menata piring warung nasi hingga merapikan gulungan pita warna-warni. Ibu Susi berjalan melewati berbagai rintangan sebagai seorang ibu yang membesarkan anaknya di balik meja makan, kini ia telah menjadi seorang nenek dengan lima orang cucu. 

Tongkat estafet pengelolaan lapak kecil itu pun secara bertahap telah ia serahkan kepada adiknya. Ibu Susi kini lebih banyak hadir untuk duduk menemani dan membantu, pula mungkin menyapa wajah-wajah baru yang datang pada hari itu. 

Di antara lalu lalang kendaraan yang membelah dingin Kota Malang, juga keriuhan mahasiswa baru yang datang dan pergi setiap musimnya, Ibu Susi masih berada di sana. Menjaga nyala lilin di usia senja dari gulungan pita dan lembaran dasi ospek selama lebih dari dua dekade lamanya.

Penulis: Aulia Hasti Zalika R.
Kontributor: Aurelia Calista F. A.
Editor: Fenita Salsabila

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.