KUMPULAN PUISI DALAM FRAGMEN: LAPANG

0
The Wideness karya Svetlana Alexandrovna D.

Jangan Mengajakku

Singkirkan kawat karatanmu itu
Tak sudi kulitku koyak akan roncemu

Biarlah darahku mengucur
Daripada aku membeku
Di antara keringan amisku pada belitanmu

Lancang mengajakku ikut rusak
Memelihara korosi yang kau sebut nasib
Tanpa pernah sudi membenahi diri

Musnahlah dari hidupku
Rapuhlah sendirian

Penulis: Na’ilatul Najmi Alifsya

Sudah Tidak Ada, Mau Bagaimana?

hari ini saya dapat warisan, sepetak tanah lapang
bekas buyut-buyut saya menghabiskan hidup hingga senja
tanahnya tak pernah kering oleh peluh mereka yang bercucuran
ada jejak tawa pada lubang-lubang kecil tempat dulu persemaian
serupa pula tanah itu seperti persemayaman
ketika mereka mencoba bertahan saat gejolak pra-kemerdekaan
namun, sekarang memerah tanah itu sebagai perayaan kemerdekaan
jejak-jejak putih mereka membumbung ke angkasa
seakan-akan tidak diperkenankan menetap,
untuk bersemi menjadi jagung, padi, atau semacamnya—
tatkala cicit-cicitnya tengah kelaparan

kemarin saya dapat warisan, sepetak tanah lapang
yang sekarang tak pernah ada, 
kecuali hati lapang
tapak genetik buyut-buyut saya sejak lama
sebab tanah lapang telah berpapan nama.

Penulis: Elvaretta Rahma D.

Kelakar Lapang

Pelan. Satu-satu. Termasuk dirinya
Mereka harus mengerti
Aneh sekali

Ia bisa menjadi apa saja. Astaga
Aku menggeleng.
Karena kau tak hadir di sana
lagi, dan lagi,
Lucu

Begitulah tulisnya
Kumpulan Cerita Pendek
Bersampul merah
Intan Paramaditha

Penulis: Nadil Ulum Annafis

Laika, yang Ditinggalkan

Di dalam kurungan besi,
yang melayang-layang.

Bahwa tangan-tangan yang memungutku
Dari trotoar dingin
Akhirnya sudi mengusap kepala,
dengan cinta.

Nyatanya, hanya,
Mengisi lapang yang ada

Kini aku paham caramu bernapas, Laika.
Kini aku adalah Laika.

Maka kubiarkan dadaku meluas sejauh hening antariksa
Biar jadi lapang,
Biar jadi ada.

Penulis: Aulia Hasti Zalika R.

Lalu Luas

Dahulu kau hidup di cawan yang sempit,
mengira seluruh dunia seukuran telapak tanganmu.
Langit yang kau lihat hanya sebatas bingkai jendela,
dan batas-batas yang kau buat sendiri,
kau anggap itu takdir.

Lalu kau melangkah keluar.
Tembok yang kau sebut batas,
perlahan luruh diterpa angin,
kau kira tepi bumi,
lalu angin membawa kabar tentang luasnya semesta.

Semakin jauh kau mengenal semesta,
Semakin banyak ruang yang tak ingin kau penuhi.
Ada yang datang,
kau biarkan singgah.
Ada yang pergi,
kau biarkan menjadi jarak.

Hatimu pun ikut mekar seiring kau mengenal semesta,
tak lagi sempit menampung bimbang dan cemas.
Semakin lebar ufuk membentang di depan mata,
semakin lapang dadamu merangkul segala yang ada.

Penulis: Alfi Aulia Rahmah (kontribusi pembaca)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.