KUMPULAN PUISI DALAM FRAGMEN: BERANJAK

0
Moving karya Marta Necurat

Roda

Roda.
Anggaplah bawah adalah sedih.
Anggaplah atas adalah senang.
Jika pedal hidup tak ada.
Dia tak akan berpindah.

Anggaplah bawah adalah pahit.
Anggaplah atas adalah manis.
Jika pedal cinta tak ada.
Suka itu hanya sementara.

Tak bisa senang selamanya, atau pahit sampai mati.
Roda tak akan beranjak menuju kemajuan.
Padahal hakikat roda adalah berputar.

Maka, itulah hidup.
Meratakan manusia dengan sakit.
Meratakan manusia dengan puas.
Menyiksa dengan cinta,
melumuri dengan tangis.

Apakah untuk menyiksa kita, Sayang? Bisa jadi.
Karena hidup tidak sejahat itu, dan tidak sesenang itu.
Setidaknya bagi kita,
yang selalu tak puas diri.

Penulis: Nur Istiyanti

Beranjak

        Kita b e r j a l a n, lalu rudnum kemudian ber-   
                                                                          henti. L a l u j a l a n l a g i

Akankah kita ‘kan menemukan akhir?                
Atau akhir akan duluan menghampiri?

Karena seperti itu definisi beranjak; pergi sedikit
Itu pun kalau kau percaya pada KBBI

Penulis: Elvaretta Rahma D.

Apa Prinsipmu?

Aku tidak mahir
berhadapan dengan bidak
kuda yang melangkah
membentuk huruf S

Karena langkah L
telah disisipi paham Liberal

Cortazar lalu membuka
penanya di sekujur aspal

“Aku adalah Menara Babel
setengah jadi sebelum Tuhan datang
dan Kau berantakan,”

JANGAN KAU ULANGI LAGI
JANGAN KAU ULANGI
JANGAN KAU
JANGAN

Penulis: Badra D. Ahmad

Mari Berlari,

(1)
seperti waktu di medan puisi. di kelas itu.
yang terpacu cepat: mari berkenalan!
dan darahmu naik.

segera saja esok terlampaui tanpa hampa:
hampa mengulur waktunya: mari pergi!
terkapar ia diinjak puisi.

hingga kau sadar telah naik setinggi darahmu.
yang membuatmu lemas. kau jatuh.
kau terkapar: sepertinya cukup!

tapi waktu kembali mengisimu.
dengan kecepatan yang berbeda.
dan kau balik berlari—

(2)
menuju jalan kebetulan
yang bertemu dan merekatkan
wajah-wajah kecewa atas dunia

: sudah seberapa jauh kita berlari?
kita membisu atas pertanyaan waktu

di situ gitar bernyanyi
berseteru dengan pertemuan
menyalahkan waktu
di pelukanmu

darah tak lagi naik;
ia mengalir di antara kita
lalu punah dalam rima yang baik
beranjak menuju apa inginnya

karena darah tahu
sambil berlari ia berkata
kita hanya berputar-putar tanpa tuju

Penulis: Muhammad Tajul Asrori

Menang itu, Persetan

Kita ini perenang-perenang yang malas
Puas tak beranjak dari tepi dangkal
Barangkali menyelam ke palung kelam menuntut banyak

Sudi membasahi ego yang kadung menjulang
Sedang…
Lempung di tubuh kita, hanya telaten menangkarkan dusta
dan dusta,
dan beranak-pinak dusta

Tahu apa kita tentang isi malam?
Paham itu tak pernah mau bertamu pada dadamu, yang mendongak

Tak ada gunanya bertengkar di atas podium kerdil itu
Siapa yang ingin,
sedang,
akan,
kita tipu?

Simpan saja sorak-sorai itu
(dalam kantongmu)

Biarlah,
tak usah berbuah dari pokok kedangkalan
Biarlah,
kita jadi wong kalahan

Penulis: Aulia Hasti Zalika R.

Aku Tidak Ingin

Aku tidak ingin dicintai dengan sederhana:
pujamu akan selalu kurindu ditiap waktu yang berlalu

Aku tidak ingin dicintai dengan sederhana:
angan tentang kita bersama turut
menyiksaku di kegelapan yang mencekikku

Penulis: Zahra Ramadhani Darmawan (kontribusi pembaca)
Terinspirasi dari: Sapardi Djoko Damono – Aku Ingin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *