SIASAT PEMBERONTAKAN DAN PUISI LAINNYA

Siasat Pemberontakan
Saipul mendatangi ku malam ini
sambil mbeler ia bilang mau bikin pergerakan
kutanyakan apa yang ia punya
katanya hati yang terkekang dan
beberapa pistol mainan
“itu cukup, pul.”
ia manggut-manggut
lantas ngacir mencari kertas dan pena
terburu-buru menulis seruan
yang diawali takbir dan salam
diakhiri rentetan kekalahan
sedikit ingus yang harus dibereskan dan
kemenangan yang masih diharapkan
Borok di Dengkul
bola plastik meliuk cantik di jalanan gang
kawan kecil ku menggocek lawan dengan elegan
kiper bersiap menghadang harapan
bola itu melesat ajaib didukung angin kencang
gol tercipta, sorak-sorai, porak-poranda
membuat kami merasa pantas masuk Arema
bertanding untuk timnas garuda dengan bangga
membawa bekas borok di dengkul ke piala dunia
sekarang sudah umur dua puluh tiga
kawan dan bola entah kemana
borok di dengkul tetap setia
penuh tabah sebagai londo ireng Indonesia
Polisi-polisian
ling-ling-ling sopo dadi maling
si-si-si sopo dadi polisi
peran sudah rata terbagi
berhamburan kami ke setiap sudut kampung
yang di sana tiada nenek tua pemarah
ku semogakan mereka yang
kami kejar hanya maling-malingan
kami jelas hanya polisi-polisian
sebab kami tidak pencitraan dengan seragam
sebab kami tidak menangkap demonstran
sebab kami bukan tersangka tragedi Kanjuruhan
persetan bagi kami kalimat ijin siap komandan
Pemandangan
tema menggambar hari ini pemandangan
krayon, pensil warna, dan buku gambar
sudah sangat siap saling meraba
ku tarik dua segitiga hijau amat besar
ke jejalkan kuning setengah lingkaran di tengah-tengah nya
dibawah nya ku letakkan beberapa petak sawah
beserta petani dan kerbaunya yang mulai jengah
Ku dekatkan mulut untuk sebuah tanya
“Pak, apa padi masih tumbuh subur di Indonesia?”
“Le…le, ya jelas lebih subur
kuliner sekolah dan koperasi desa.”
jawabnya
kerbau nyengir saja
geleng kepala
Penulis: Memamu Dezek (kontribusi pembaca)
