Illustrasi cerpen

Ilustrator: Hasna Radita

Pergi ke Universitas Metrapolis, belajar di fakultas dan jurusan impiannya adalah kebahagiaan yang Tuhan ciptakan hari ini untuk Cakra. Dia tidak pernah berhenti bersyukur, sebab akhirnya perjuangannya telah usai. Malam-malam tanpa tidur telah berakhir, dan akhirnya dia bisa tidur nyenyak tanpa ada mimpi buruk hidup tanpa PTN. Pengumuman yang dia buka pukul tiga sore tadi rasa-rasanya mengubah alur hidup Cakra sepenuhnya. Dia bahagia, Ma dan Pa juga bahagia. Menurutnya, itu sudah cukup. Dia hanya perlu bekerja keras untuk menghidupi dirinya sendiri dan membayar UKT di perantauan.  

         Tapi dia terlalu cepat untuk berpikir demikian.

         Cakra bolak-balik menggulir Tiktok, Instagram, bahkan Facebook hanya untuk mencari seunit kamar kos kosong yang dapat dihuni. Masalahnya, kos idaman yang telah diincarnya sejak awal sudah terisi penuh. Bagaimana tidak? Kamar itu layak huni untuk kos putra dan dekat dengan universitas, ditawarkan dengan harga murah pula. Cakra sudah mencoba mencari kos-kos lain, tapi hasilnya nihil.

           Bram: Lo udah dapat kos?

         Pesan Bram membuat Cakra tersentak kembali ke realitas. Dia menghela napas sejenak sebelum menulis balasan bahwa dirinya belum mendapatkan kos. Balasan Bram cukup cepat disertai dengan tawaran yang tidak terduga, laki-laki itu menawarkan Cakra untuk satu apartemen dengannya, dan boleh membayar semampunya. Tawaran dari Bram tampak sangat menggiurkan. Untuk akomodasi selama kuliah, laki-laki itu memang membeli satu unit apartemen di dekat kampus. Ia kemudian memfotokan apartemennya di grup atas permintaan Diana, memang apartemen itu luas dan lebih dari cukup untuk dua orang. Namun, Cakra merasa tidak enak, sebab sahabatnya itu sudah terlalu banyak membantunya semasa SMA, dan dia tidak ingin terlihat seperti memanfaatkan kekayaan Bram.

         Dia dengan cepat mengetik balasan, pertama berterima kasih pada Bram, lalu menolak dengan halus tawarannya. Jawaban Bram seperti biasa: singkat, padat, dan jelas serta meminta Cakra untuk mengabarinya apabila dia sudah menemukan kos. Cakra mengiyakan saja permintaan sahabatnya.  

         Bram tidak membalas pesannya lagi, Cakra kembali fokus ke misi pencarian kosnya. Entah sudah berapa ribu kali Cakra menghubungi pemilik kos yang dirasa cocok dengan kebutuhannya, tetapi tertolak karena kamar kos sudah penuh. Mencari kos putra yang layak huni dengan harga cukup rendah memang seperti mencari jarum dalam jerami. Mata Cakra lalu tertarik pada sebuah iklan kos di TikTok: kamar tidak seperti lapas, ada cukup ruang untuk penyimpanan dan meja belajar, harga yang cukup murah …. sudah termasuk kamar mandi dalam?! Punggung Cakra langsung tegap kembali, seakan dia menemukan harta karun. Ia pun langsung mengirim pesan ke nomor pemilik yang bersangkutan.

         “Pleaseplease … masih ada ….” Cakra berdoa. Demi apapun, dia bisa menangis karena tidak mendapatkan kos dengan kamar mandi dalam yang semurah itu. Cakra menahan teriakan senang saat pemilik kos dengan cepat membalas pesannya sesuai yang dia inginkan: bahwa masih ada kamar yang tersedia. Cakra dengan cepat mengetik balasan, berkata bahwa dia berminat dan kapan bisa mensurvei kos. Jawaban pemilik kos cukup memuaskan: dia bisa survei kapan saja.

         Cakra  lantas berpikir sejenak. Memikirkan tanggal yang tepat untuk survei kos, mungkin dia bisa mengajak Bram sekalian. Dua minggu sebelum ospek? Terdengar bagus dan pas, tidak terlalu mepet dengan jadwal ospek universitas yang terkenal suka menyusahkan maba itu. Cakra menawarkan pada tanggal 20, dan sang pemilik kos mengiyakan permintaan Cakra hanya saja ada sesuatu yang mengganjal: DP, dengan nominal 700 ribu, setengah dari harga kos selama sebulan. 

         Setengah dari harga bulanan kos? Cakra mengernyitkan dahi, harganya tidak murah. Remaja itu juga tahu bahwa kos di dekat Universitas Metrapolis tidak ada yang murah. Dengan DP setengah harga, tidakkah itu terlalu mahal? Cakra mengetik balasan lagi, berusaha memberikan alasan yang masuk akal agar dia tidak membayar di depan. Namun, balasan pemilik kos sukses membuatnya bimbang tidak karuan: jika dia tidak mau DP, maka kamar yang tersisa satu itu akan dialihkan pada orang lain.  

         Rasa panik seketika membuncah dalam diri Cakra, dia jelas tidak bisa membuang kesempatan untuk memiliki kos dengan kamar mandi dalam itu. Lagipula Cakra juga tidak yakin akan mendapatkan kos lain lagi setelah ini karena semua kos yang di dekat universitas sudah penuh. Apalagi ini kos dengan kamar mandi dalam? Remaja itu menghela napas lantas dengan cepat memproses transfer ke rekening pemilik kos, kemudian mengetik balasan sekaligus mengirim bukti transfer yang hanya dibalas ucapan terima kasih singkat.

         Cakra menghela napas lega, setidaknya masalah kos sudah selesai. Sekarang dia hanya menunggu waktu untuk survei, kemudian menempati kos barunya setelah membayar uang penuh. Remaja itu lantas mengabari Bram bahwa dia sudah menemukan kos yang sesuai dan memintanya untuk menemani survei. Seperti biasa, anak orang kaya tujuh turunan itu membalas dengan cepat dengan ‘Hm’ khasnya yang berarti mengiyakan permintaan Cakra. 

                             *****

         “Lo yakin ini tempatnya?” gerutu Bram.

         “Kalau sesuai map sih harusnya bener.” Cakra berkata sambil menyembunyikan rasa cemas yang mulai tumbuh di hatinya. Bagaimana tidak? Sebelum mereka berangkat, Cakra sudah mengingatkan pemilik kos bahwa dia akan survei di jam 10 pagi. Namun, hingga saat dia datang, pesannya belum mendapatkan balasan juga. Mungkin pemilik kos sedang tidur atau sibuk? Entahlah, Cakra masih berusaha berpikiran positif.

         “Hm.” Bram mungkin tidak menyadari ekspresi cemas Cakra atau memang dia tidak peduli dan ingin segera kembali sebab lelaki itu biasanya teramat jeli dalam memperhatikan sekitarnya. Dia lantas melepas seatbelt-nya dan membuka pintu mobil untuk menghirup udara segar. Cakra ikut melepas seatbelt-nya dan keluar mengikuti Bram.

         Cakra memasuki kos terlebih dahulu, dan tepat saat dia melangkah masuk, pemilik kos muncul. Seorang bapak-bapak usia pertengahan 30 tahun tampak terkejut melihat kehadiran dua laki-laki asing itu. Cakra kemudian melangkah maju, dengan senyuman terhangat dan semanis yang dia bisa, dia menyapa terlebih dahulu.

         “Selamat pagi, Pak. Saya Cakra, yang kemarin bilang untuk survei kos pagi ini.” Cakra berkata. Pemilik kos itu mengernyitkan dahi mendengar perkataan Cakra seolah itu adalah perkataan yang paling tidak ia harapkan untuk didengar.

         “Survei kos? Maaf, Mas, tapi kos saya sudah penuh sejak sebulan lalu.” Pemilik kos itu berkata. Senyuman Cakra seketika ingin menghilang saja, tetapi masih tetap dia tahan. Kosong? Bukannya dia sudah membayar DP sesuai ketentuan?

         “Maaf, Pak. Tapi saya sudah DP 700 ribu ke rekening Bapak.” Cakra lantas mengeluarkan HP-nya dan menunjukkan room chat dengan seseorang yang diyakini sebagai pemilik kos sekaligus menunjukkan bukti transfer.

         Namun, dahi pemilik kos tersebut mengernyit semakin dalam seolah tidak paham akan apa yang Cakra bicarakan. “Mas, ini bukan nomor rekening saya, saya juga tidak pernah di-chat oleh Mas.”      

         Jawaban pemilik kos tersebut seolah membuat jantung Cakra langsung turun ke usus dua belas jari dalam sekejap. Apa maksudnya itu?! Bukannya Cakra sudah membayar DP ke rekening tersebut dan seharusnya ada kamar kosong untuknya sampai hari ini? Serta apa maksudnya kos tersebut sudah penuh sebulan lalu … itu bahkan sebelum Cakra menghubungi si “pemilik” kos tersebut.

Bahu Cakra terasa berat begitu saja sampai rasanya sulit untuk sekedar berdiri tegak. Tatapannya tertunduk, memandangi layar ponsel yang menampilkan room chat dengan si pemilik kos palsu itu. Seolah menolak realita, dengan jemari yang bergerak gemetar, ia membuka profil WhatsApp, lantas menekan ikon telepon, mencoba menghubungi nomor tersebut.

         “Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi.”

         Sekali, dua kali, hingga tiga kali, hasilnya tetap sama. Hanya nada dering dan pesan suara yang menyambut gendang telinga Cakra. Tidak ada suara ataupun kata-kata yang ia harap akan didengarnya untuk mematahkan bahwa semua ini bukan sandiwara yang sengaja dibuat sedemikian rupa untuk merugikan manusia yang tidak tahu apa-apa sepertinya.

         Cakra menggigit bibir bawahnya pelan. Dadanya mendadak terasa sesak begitu saja  Di belakangnya, Bram sudah menghela napas seakan sudah tahu ini akan berakhir di mana.  Mulut Cakra mencoba terbuka, berniat untuk membalas pemilik kos, tetapi Bram terlebih dahulu meletakkan tangan di bahunya kemudian menarik sahabatnya itu menjauh sembari melempar senyum sesopan mungkin pada pemilik kos seolah berkata, ‘Terima kasih Pak, kami ingin waktu sebentar untuk berbicara,’

         Setelah mereka cukup jauh dari jangkauan pemilik kos asli itu, pegangan tangan Bram pada bahu Cakra menguat meskipun dia menghela napas sekali lagi sambil memikirkan kata terlembut untuk menyadarkan Cakra meskipun begitu alih-alih yang keluar adalah: “Lo ditipu, Cakra.”

         Perkataan Bram langsung menohok ulu hati terdalam Cakra. Dia tertunduk, dia tidak bisa membalas apa-apa lagi. Setelah dipikir-pikir semua masuk akal, mengapa pemilik kos penipu itu meminta DP dengan jumlah besar kemudian mengabaikannya di hari dia akan survei. Remaja itu pun tahu bahwa kebodohan ini mutlak salahnya.

         “Lo mudah banget percaya apalagi kalau disuruh DP dulu,” cerca Bram. Dia mau tidak mau ikut frustasi dengan masalah ini. Namun, mata biru Bram melembut ketika memandang Cakra yang sudah tertunduk, tidak mampu membalas perkataannya seperti biasa. Bram juga tahu bahwa penipuan dengan nominal 700 ribu itu cukup besar untuk Cakra.

         “Tujuh ratus ribu ….” Suara Cakra nyaris terdengar seperti bisikan, atau barangkali terlalu lemah sehingga tidak bisa terdengar tata kalimat yang benar. Tatapannya kosong, kemudian dia menatap Bram seolah dia menantikan sahabatnya mengatakan bahwa semua ini hanya salah paham. Bahwa nanti pemilik kos palsu yang ia hubungi akan entah bagaimana muncul sambil meminta maaf dan mengembalikan uangnya.

         Tapi kenyataannya tidak seperti itu.

         “Tujuh ratus ribu, Bram,” lirih Cakra. Bram terdiam.

         “Itu bukan duit gue.” Cakra tertawa kecil, tapi di telinga jeli Bram, itu terdengar seperti suara isakan yang ditahan untuk keluar. “… itu duit Ma sama Pa.”

  Melontarkan kalimat itu saja membuat tenggorokan Cakra tercekat. Pa baru saja menjual hasil panen beberapa minggu lalu dan memberikan uang tersebut kepada Cakra beserta sisa-sisa tabungan yang telah mereka kumpulkan. Ma bahkan sempat berkata berkali-kali agar Cakra tidak terlalu memikirkan uang karena mereka akan berusaha mencukupi semua kebutuhannya. Namun, sekarang? Uang tersebut lenyap begitu saja karena dia begitu bodoh karena percaya pada sembarang orang.

         “Gue bodoh banget.”

         “Cak–”

         “Gue bahkan belum masuk kuliah.” Suara Cakra meninggi untuk pertama kalinya bahkan Bram saja sampai tersentak karena ini baru kali pertama Cakra meninggikan nada suara seperti itu. 

         “Belum seminggu ngurus administrasi. Gue udah bikin rugi orang tua gue.” Cakra mengusap wajahnya dengan kasar. Dia berjalan bolak-balik, seolah itu bisa meredamkan rasa frustasi. Ia ingin sekali memukuli dirinya sendiri karena bertindak begitu bodoh. “Harusnya gue curiga! Harusnya gue nggak transfer duit itu!”

         Bram terdiam, mendengarkan semua kata-kata frustasi Cakra yang berulang kali menghela napas kasar. Dia ingin memarahi dan menasehatinya, bahkan mencemooh lelaki itu karena begitu polos. Namun, untuk pertama kalinya, Bram merasa harus memendam hasrat untuk mendebat sahabatnya itu. Ia memandang Cakra lamat-lamat dan memutuskan untuk tidak bisa diam begitu saja.

         “Kita lapor polisi,” tegas Bram. Namun, tangannya ditahan oleh Cakra sebelum dia mampu beranjak.

         “Tapi gimana sama kos gue? Kos lain udah penuh, dan duit 700 itu ….” Suaranya terdengar menahan gemetar. Bram memahami kecemasan Cakra, tetapi dia tetap menggelengkan kepalanya.

         “Gampang, itu urusan gue.” Bagi Bram, keadilan adalah yang utama. Dia paham, mungkin uang Cakra tidak akan kembali, tetapi setidaknya, mereka mampu membawa si penipu ke pengadilan, sehingga mendapatkan hukuman yang setimpal.

         Bram beranjak pergi, kemudian dia menoleh sebentar dan melihat Cakra masih di sana.  “Lo ikut?”

         Cakra menatap Bram dan melihat ekspresi membara di mata biru itu, tanpa sadar kakinya melangkah mengikuti Bram. Insting dan hatinya seolah berkata bersamaan bahwa untuk saat ini, Bram adalah orang yang paling dapat dia percayai saat ini.

                             *****

Mereka melaporkan penipuan tersebut pada kepolisian. Tentu saja dengan proses yang sangat panjang dan rumit, dengan segala pengajuan berkas yang membutuhkan waktu tak sedikit. Dan Bram tidak ada waktu untuk menunggu, dia mempercepat segala proses pengaduan laporan (tentunya dengan sogokan yang tidak kira-kira) tanpa memberitahu Cakra yang sedari tadi hanya melamun dan tidak fokus. Bram juga tidak ingin membebaninya dengan perasaan bersalah.

Laporan mereka akhirnya diproses oleh kepolisian. Bram dan Cakra memutuskan untuk beristirahat sebentar dengan duduk di bangku Indomaret. Semua yang terjadi hari ini cukup membebani Cakra, dia bahkan tidak menyentuh aneka makanan ringan dan minuman yang terhampar di meja. Kepalanya masih tertunduk, dalam hati menyesali segala yang telah terjadi.

Bagaimana dia bisa memberitahu Pa dan Ma kalau dia tertipu? Bagaimana caranya dia bisa mengembalikan uang 700 ribu itu agar tidak sia-sia? Bagaimana dengan kosnya? Cakra tidak mungkin luntang-lantung di kota orang tanpa atap perlindungan. Juga bagaimana dia bisa sebodoh itu mempercayai orang yang baru saja dikenalnya hanya karena kos tersebut memiliki kamar mandi dalam yang sangat dia impikan dengan harga murah? Harusnya Cakra menaruh curiga dari awal.    

“Lo bisa tinggal dulu di apartemen gue.” Bram berkata sambil menegak kopi kalengannya dan mengernyit ketika rasa asing menerpa lidahnya. Dia memang tidak pernah minum kopi kalengan sebelumnya.

Perkataan Bram membuat Cakra tersentak. Ini bukan satu kali Bram menawarkan agar tinggal bersamanya dan untuk kesekian kali remaja itu merasa tidak enak pada sahabatnya. Cakra sudah menyusahkan Bram beberapa kali dulu, dan sepertinya kebiasaan itu entah mengapa tidak bisa berhenti begitu saja. Selalu Cakra yang kesusahan dan Bram yang dengan rela hati mengulurkan tangan untuk membantu keluar dari lubang tidak berkesudahan.

“Nggak–”

“Terus lo mau luntang-lantung di jalan? Mau tidur di masjid? Terus lo ngomong gimana sama Ma dan Pa lo?”

“Ini cuma sementara, Cak, sampai lo udah nemu kos yang cocok sama lo.” Bram berkata lagi, lantas mengangkat bahu. “… lagipula lo bayar ke gue kok setiap bulan. Jadi, nggak sepenuhnya gratis.”

Cakra terdiam lagi mendengar perkataan Bram yang saat ini terdengar masuk akal. Apalagi ia tidak tinggal dengan cuma-cuma di sana, sahabatnya itu seolah tahu bahwa dia tidak suka dibelas kasihani. Perlahan, Cakra tersenyum tipis dan mengangguk.

“Gue berhutang banyak banget sama lo.” Ia akhirnya meraih sebungkus makanan ringan di atas meja dan membukanya. Dia juga tidak mau membuat uang Bram sia-sia, seperti uang kosnya.

“Lo nanti jangan lupa mulai nyicil. Jangan nunggak mulu,” canda Bram. Tidak biasanya dia bercanda. Tawa seketika lolos dari bibir Cakra untuk pertama kalinya, Bram hanya tersenyum tipis.

Ponsel di tangan Cakra tiba-tiba menyala dan senyumannya seketika lenyap begitu saja ketika wallpaper keluarganya muncul memenuhi layar. Foto sederhana yang mereka bertiga ambil saat makan bakso di warung langganan mereka sepulang wisuda dengan Pa yang mentraktir mereka. Ma tersenyum lebar, Pa mengangkat jempol sambil merangkulnya, dan dia sendiri, tersenyum lebar sambil mengangkat garpu berisi pentol.

Cakra memejamkan mata. Jarinya perlahan bergerak membuka room chat dengan Ma. Ia menghela napas lantas mulai mengetik.

Ma… maaf ya.

Belum ada sedetik, dia menghapus pesan itu kemudian mengetik ulang.

Ma, uang DP kos …

Cakra menghapus kembali pesan itu. Dia kembali menulis untuk kali ketiga.

Ma, aku ketipu …

Kalimat itu hanya bertahan sekitar sepuluh detik sebelum dia hapus kembali. Cakra tidak sanggup. Dia benar-benar tidak sanggup. Bagaimana jika Ma menangis? Bagaimana jika Pa menyalahkan dirinya? Bagaimana kalau mereka diam saja? Entah mengapa, kemungkinan terakhir justru terdengar terasa lebih menakutkan.

Tepat saat itu, ponsel Cakra bergetar. Panggilan masuk dari Ma. Jantungnya langsung berdegup begitu kencang. Tidak, Cakra tidak bisa menjawab sekarang. Dia belum menyusun kata-kata yang tepat  untuk disampaikan pada Ma dan Pa.

“Angkat,” suruh Bram. Cakra menggelengkan kepalanya. “Gue nggak bisa.”

“Angkat, Cak.” Bram berkata sekali lagi, nada suaranya tegas seolah dia tidak menerima penolakan, dan jika Cakra masih menolak mengangkat? Bisa-bisa Bram mengambil ponsel itu dari tangannya dan berbicara langsung dengan Ma.

Cakra mengangguk pelan lantas bangkit dari bangku dan berjalan menjauh dari area dengar Bram. Lelaki itu memandang ponselnya dengan tatapan kosong, tapi perlahan dia mengangkat ponsel tersebut ke telinganya, membiarkan nada dering berbicara sebab dia tidak mampu menjawab apa-apa.

Penulis: Aisyah Aprilia Syofi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *