AKU BIRI-BIRI PEMAKAN KACANG PISTACHIO
Ilustrator: Nur Istiyanti
Jariku terhenti di kata terakhir, pistachio. Delapan belas biji.
Aku menatap kata pistachio di layar ponsel yang redup, lalu menatap dompetku yang kian mengkis-mengkis di atas meja kos. Namun, malam ini, di tengah riuhnya pesan grup yang bersahutan seperti pasar kaget, bahasa telah kehilangan daya luhurnya.
Delapan belas butir serupa jimat mahal yang harus kubeli dengan uang makan tiga hari, hanya agar besok pagi aku tidak dihakimi di depan ribuan mata sebagai maba yang membangkang.
Aku membayangkan adegan besok dengan detail yang mengerikan, seorang senior dengan bentakan yang dilatih di depan cermin, menghitung butir demi butir kacang itu.
Satu, dua, tiga… jika kurang satu, aku adalah kriminal. Jika tepat delapan belas butir, aku lolos sebagai kembalian untuk hari itu.
Aku hampir tertawa. Bukan karena ada humor yang tertinggal di kamar kos sempit ini, melainkan karena keputusasaan yang begitu pekat hingga tak ada lagi air mata yang tersisa. Aku tidak tahu harus merespons bagaimana lagi ketika martabatku sebagai seorang mahasiswa kini sepenuhnya digantungkan pada keutuhan jumlah biji kacang.
Besoknya, aku pergi mencari kacang. Aku mengelilingi beberapa toko. Ada yang tidak menjual. Ada yang menjual tetapi terlalu mahal. Aku akhirnya menemukan satu bungkus di sebuah warung madura yang cukup jauh dari kos, tersisa satu tepat di rak paling bawah. Aku membawanya pulang, lalu duduk di ujung kasur dan menghitung isinya dengan tangan yang masih gemetar karena lelah.
Delapan belas, pas. Tidak kurang, tidak lebih. Keselamatanku untuk besok resmi terbayar tunai dengan rasa lapar tiga hari ke depan. Begitu fajar meletus, panggung besar itu resmi membuka tirainya.
Kami digiring bagai kawanan ternak dari satu siksaan kecil ke siksaan lainnya. Kadang disekap dalam ruangan ber-AC. Kadang dijemur di lapangan luas, di bawah terik yang memanggang. Kadang hanya ditelantarkan berdiri tanpa tahu kepastian apa yang sedang ditunggu. Setiap kali aku menduga satu babak telah usai, sebuah syarat baru lahir dari rahim tugas sebelumnya, menuntut penyerahan diri yang lebih dalam.
Lalu pada sebuah sore yang gerah, ritual tanda tangan dijatuhkan ke pangkuan kami. Aku diwajibkan memburu tanda tangan para elite panitia. Co atau waco mentor, korlap, hingga kapel dan wakapel. Manusia-manusia yang dipaksa disandangkan dengan diksi sakral itu disebar di seluruh penjuru gedung, bersembunyi di balik dinding-dinding batu. Aturannya sederhana tapi menyiksa bagi mahasiswa baru seperti aku.
Jika tak tahu, bertanyalah. Jika tak tahu harus bertanya pada siapa, carilah manusia lain yang mungkin memegang secercah petunjuk. Maka, aku menyeret kaki, menjelajahi gedung fakultasku, mendekati seorang senior dengan tatapan mengiba.
“Maaf, Kak. Tahu keberadaan kapel atau wakapel di mana?”
“Coba tanya mentor saja,” tukasnya.
Aku memutar arah, melacak keberadaan sang pembimbing demi mencari tanda tangan co atau waco mentor.
“Maaf, Kak. Co mentor ada di mana, ya?”
“Sepertinya tadi naik ke lantai atas.”
Aku memanjat tangga, menjejak lantai atas dengan napas memburu untuk mencari co mentor.
Kosong, aku pun melangkah turun kembali dengan lutut lemas. “Coba tanya ke panitia lain saja.”
Aku bertanya lagi dan lagi.
Di tengah lorong-lorong berdebu itu, tawa pahit meletus pelan di dada. Betapa menggelikannya drama ini. Di lorong berdebu itu, kulihat beberapa maba berlari kecil membawa lembaran kertas. Kami tak saling bertukar tanya tentang apa yang sedang diburu sebab kami sudah sama-sama paham. Kami hanyalah kawanan biri-biri linglung, bergerak menuju sesuatu yang tak satu pun dari kami mengerti.
Sore kian meredup ketika aku berhasil menemukan salah satu sosok yang dicari. Dadaku hampir mengembuskan napas lega. Hampir. Tanda tangan itu nyatanya bukan titik pamungkas sebab masih ada satu lagi, lalu satu lagi.
Ketika langkahku tiba di tujuan akhir, sosok itu telah menguap. Ruangan di depanku melompong kaku. Kuputar pergelangan tangan untuk menatap jam, bingung harus merayakan rasa ini dengan marah, menangis, atau sekadar merobohkan diri di dinginnya lantai koridor. Ponsel di saku bergetar memamerkan pesan baru.
“Yang belum lengkap tanda tangannya, segera dilengkapi.”
Aku menatap layar redup itu lama sekali. Ingin rasanya aku berteriak menanyakan batas dari kata ‘segera’. Namun aku sadar, dalam ruang kediktatoran kecil ini tak ada tempat bagi pertanyaan rasional.
Malam itu aku pulang sendirian. Kulepas sepatu di depan pintu kamar, lalu membiarkan tas jatuh membentur lantai. Aku terduduk di kegelapan tanpa menyalakan lampu, membiarkan grup percakapan membusuk.
Lalu ponsel bergetar lagi membawakan pengumuman perubahan kelompok. Lagi. Padahal esok adalah hari kedua sekaligus hari terakhir osfak. Besok pagi, aku dipaksa untuk berbaur kembali dengan orang-orang baru. Namun, tepat saat subuh menyapa di hari kedua, ralat menit terakhir memindahkan nama itu lagi.
Bukan cuma barisan yang kacau, ralat itu langsung menghancurkan tugas kelompok yang sudah kami kebut semalaman. Nama-nama yang sudah terlanjur dicetak rapi di lembar tugas mendadak kedaluwarsa. Kami dipaksa merombak ulang semuanya di menit-menit kritis sebelum berangkat, mengganti nama orang-orang yang bahkan belum sempat kami temui.
Di titik itulah aku sadar bahwa diriku ikut terkoyak bersama bongkar-pasang kelompok tersebut. Aku bukan lagi manusia yang memiliki nama lengkap, ingatan, atau kehidupan sebelum menginjakkan kaki di kampus ini. Aku telah direduksi menjadi sekadar nomor kelompok, deretan atribut konyol, checklist barang bawaan, lembaran tanda tangan yang belum lengkap.
Kini aku si maba pasrah—terlalu lelah untuk bertanya, terlalu takut untuk menolak.
Lalu di pertengahan hari kedua, sebuah hal aneh terjadi. Booklet aturan yang selama ini diagungkan mendadak direvisi. Ada ketentuan yang dipangkas, ada barang yang disederhanakan, dan ada hukuman yang diuapkan begitu saja karena kabarnya orang tua maba mulai angkat bicara.
Kubuka file booklet baru di layar ponsel lalu membandingkannya dengan cetakan lama. Hanya butuh beberapa kali tekan tombol di meja panitia untuk merobek aturan yang telah memeras keringat, uang, dan air mata kami. Aku menatap layar itu dengan tawa pahit. Semua kelelahan ini terasa konyol.
Di penghujung hari kedua, kami dikumpulkan kembali di depan panggung utama. Manusia bersuara lantang masih menguasai puncaknya, sementara kami tetap berjejal di lantai bawah.
Dari atas panggung, instruksi terakhir menggema menyuruh kami merapat. Aku menurut, tetapi sebelum melangkah maju, aku sempat menoleh ke belakang. Di sana ada jalan keluar. Tidak ada pagar tinggi dan tembok pembatas, hanya ada kami yang selama dua hari ini terlalu takut untuk sadar bahwa kami bisa saja melangkah ke arah yang berbeda.
Penulis: Refa Al – Zahfa Hayanto
