KUMPULAN PUISI DARI FRAGMEN: HARU

0
“Melancholy” karya Reus

Senyumnya Fatamorgana

aku berjalan ke tengah panggung
melawan silau melihat hadapan
menyisir lautan manusia sebisanya
mendapati senyumnya rekah di sana
tanggul haru ku dijebol hangat hadirnya

sayang sejuta sayang, hanya fatamorgana

Malang, 01 Oktober 2026

Penulis: Memamu Dezek (kontribusi pembaca)

Penjaja Koran di Persimpangan Jalan

Kau mengulurkan hidup dan harapmu
kepada piciknya kesibukan waktu
yang tampak ‘tak memberimu
uang untuk makan.

Harapmu terrmaktub dalam selebaran
huruf, angka, kalimat dan alinea
yang orang-orang tak lagi menafsirnya
dengan duduk dan membaca.

Harapmu perlahan tersingkirkan
oleh kesibukan dalam jaringan
ketika dunia ‘tak lagi menghitung waktu
dan ‘tak menjadikan selebaran koran
tempat untuk duduk dan beristirahat.

2026

Penulis: Johannes C. Marbun (kontribusi pembaca)

SELAMAT TUJUH BELAS TAHUN, BISAKAH KAU MEMANGGILKU LAGI?

Bruder! Bruder!
“Tidakkah kau mendengar […] memanggilmu?
Ayo! Lonceng sudah sembilan kali berdentang!”
Sedang tangan itu perlahan membiru bentang. 

“JA … jA … ja …”

Hermano! $#$# Shit … Hermano!
“Jangan dengarkan, [….] 
Sebab kemana dia saat kepala ini penuh akan racun?”
Sedang tubuh itu terulur nyata, berusaha memeluk pengobatan, 
Untuk diri yang sudah sekarat menunggu kata […]

“Yeah … Ja!”

Akhi …
“Apakah kau melihat langit?
Karena ku rasa kau tidak diciptakan sebodoh itu.”
Suara tajam, menusuk namun mata itu …mengabur?

“Ja …?”
“Namun … aku juga melihat sinyal itu ..”

Niño?
[… karena aku memang memanggilmu pulang]

“JA!”

Penulis: Aisyah Aprilia Syofi

Hari-Hari yang Haru

Hari-hari,
membicarakan haru-haru
yang [fasis]

Sembari
menertawakan ketidakpastian
di atas pena
yang hitam
dan menghitam, semakin.

Barangkali,
biarlah Arak
yang berisi (atau tidak)
berdiam di atas meja kita
agar terus berbincang, bercerita: apa adanya.

Penulis: Aulia Hasti Zalika Ramadhani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *