BULETIN PIKSILA-ZINE “MERAWAT & MEREBUT” 2026

0
Piksila-Zine “Merawat & Merebut” 2026

Sambatan 1: Aduh, Selalu Saja Negara

Makin ke sini makin patut aja kita untuk nyambat kalo negara emang ngga bakal menghindari kekerasan. Makin sah juga kalo kita bilang negara justru mengkomodifikasi hal itu demi keuntungannya. Apalagi dalam momen september hitam ini, kita tentu tau bagaimana negara dengan mudahnya menghalalkan darah. Kita tau rentetannya: mulai dari pembunuhan salim kancil, munir, tragedi tanjung priok, pembantaian 30 September 65, dan kekerasan-kekerasan lainnya—ah, betapa kita patut bersedih sobat.

Negara tau kalo itu adalah kekerasan. Beberapa kali mereka mencoba untuk memberi perhatian padanya, meski tujuannya juga tak jauh-jauh dari sekedar pencitraan. Misalnya aja Jokowi yang kapan hari bilang penyelidikan tentang tragedi 98 akan dilanjutkan. Berkat itu ia bisa jadi presiden—mengutip bu Sumarsih di akun X-nya. Jika kita liat, di sini ada komodifikasi duka. Nama gerakan sosial dimanfaatkan untuk angka elektabilitas politik. Dan liat aja hasilnya, setelah dua periode kepungkur, emang apa yang udah diselidiki? 

Memang sungguh tega negara mengabaikan itu. Padahal di sisi lain, terlihat betapa teguh payung-payung hitam itu berdiri di seberang gerbang istana “merdeka” setiap kamis. Tak ada kerusuhan, tak ada huru-hara, tak ada pergolakan seperti yang selama ini negara anggap sebagai ancaman. Hanya aksi damai yang telah berlangsung sebanyak lebih dari 900 kali. Namun setelah sebanyak itu ia merekah, apa yang sudah dilakukan oleh negara?

Dengan kontras, negara memilih penjahat HAM untuk menjadi pemimpin. Seperti yang diprediksi, kekerasan di masa itu terus-menerus bertambah, bahkan saat tuntutan awal itu belum juga diselesaikan. Melihat semua ini, kita tentu mafhum bahwa negara emang sebenernya ngga pernah peduli soal kekerasan yang ia lakukan. Kemarin mungkin Munir, Salim Kancil, atau yang lainnya. Bagaimana jika ke depannya adalah kita? Jika begitu, maukah kita […..] negara saja?

Sambatan 2: Katanya Education Based Mall, Kok Lebih Mirip Set Film Horror?

Sudah berapa lama ya sejak gegap gempita kabar Transmart akan diambil alih oleh Brawijaya?
Pas pertama denger beritanya, aku (dan mungkin banyak dari kita) sempat menaruh harapan tinggi. Gimana enggak? Kampus, lewat PT Brawijaya Multi Usaha (BMU) sesumbar mau menyulap gedung itu jadi “Education Based Mall”. Menarik, kan?


Tapi, coba deh kita iseng main ke sana sekarang. Sensasinya persis seperti masuk ke dalam salah satu film bertajuk “The Backrooms”, kalau kata seorang teman. Sepi, gelap, hampa, lumayan berhasil bikin merinding. Yang bisa terdengar saat masuk ke sana hanyalah suara langkah sendiri, belum lagi eskalatornya yang berdecit sebab lama tak berjumpa dengan kaki-kaki. Bangunan di pinggir Jalan Veteran itu kini cuma jadi raksasa beton tak bernyawa.

Agak menggelikan ketika proyek megah di luar kampus rajin mereka gembor-gemborkan, tapi urusan fasilitas akademik di dalam kampus malah sering kali diabaikan. Kalo mau jujur-jujuran, mahasiswa saban hari kudu siku-sikutan nyari co-working space di kampus. Dan sering kali mereka-mereka yang tak kebagian tempat harus mengungsi ke deretan kafe—merogoh kocek belasan hingga puluhan ribu demi segelas es kopi susu + colokan dan Wi-Fi yang itu pun belum tentu dapet.

Belum lagi, ada beberapa mahasiswa yang justru menghabiskan uangnya di Transmart, bukan untuk berbelanja, melainkan demi membiayai tugas mata kuliah yang mengharuskan mereka membangun usaha. (Tapi mungkin, itu bisa kalian baca di buletin lain selain ini). 

Lalu setelah hiruk-pikuk tadi, gedung segede itu cuma dibiarkan kosong… Rugi, dong!
Maka, kenapa tidak kita ambil alih saja tempat kosong itu? Dan mengubahnya, menjadi tempat milik kita (baca: mahasiswa)?

Silakan membacanya di tautan berikut!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *