MATA, HATI, RASA DAN PUISI LAINNYA

Mata, Hati, Rasa
Perlukah mata kucabut
agar aku tak lagi menangis,
tak memelas,
dan menggelap dalam kehidupan?
Perlukah hati kukuras
agar aku tak merasa,
tak mengalah,
atas apapun yang bukan salah?
Atau perlukah kumuntahkan
rasa sayang,
rasa kasih,
dan semua rasa senang yang menjijikkan?
Sudah kuhargai diriku semurah-murahnya,
legal kusiksa diriku sebrutal-brutalnya.
Tidak ada yang sanggup.
Tidak akan ada.
Maka, aku saja yang sanggup.
Karena ini menyakitiku.
Punya mata, punya hati, punya rasa.
Jika Aku Gila
Jika aku gila,
Biarkan aku menjilat sebuah liang lahat,
tempat warasku terkubur,
beserta semua memori.
Jika aku gila,
biarkan aku melangkah tanpa arah,
agar aku senantiasa mencari pulang,
yang bahkan menatapku hina bagai binatang.
Jika aku gila,
biarkan aku lapar dunia dan haus akhirat.
Biarkan aku mati melarat.
Jika aku tidak gila,
perlakukan saja seperti orang gila.
Aku bukan apa-apa.
Bukan siapa-siapa.
Anggap saja orang gila.
Tidak gila pun rasanya sudah gila.
Hidup
Hidup bukanlah hidup
saat pikir melalangbuana
mencari sakit untuk menyembuhkan sakit.
Hidup bukanlah hidup
saat keluhan menguar
di tengah nikmat-nikmat duniawi.
Namun, hidup harus tetap hidup
karena mati pun tak diterima kubur.
Kubur menginginkan yang hidup.
Maka, hidup adalah saat
hidup dalam hal
yang tak membuat hidup.
Itulah hidup.
Sebaik-baiknya hidup.
Sebaik-baik hidup yang diiinginkan kubur.
Penulis: Nur Istiyanti
