KUMPULAN PUISI DALAM FRAGMEN: JEDA

Rehat
Kias istirahat.
Kadang ia memberi rehat.
Kadang ia mengacau pikir.
Maka dari itu,
sebaik-baiknya rehat
adalah rehat di sisi Tuhan.
Tidak ada kacau.
Tidak ada cemas.
Hanya ada damai
yang sering disamarkan Tuhan
dalam larangan-larangan-Nya.
Pertanyaannya,
apakah rehat bersama-Nya,
di pangkuan-Nya
yang sering kita tinggalkan itu,
bisa kukabulkan bersamamu?
Atau nanti,
aku harus dipecut dulu,
dicelup api neraka,
sebelum terbaring di pangkuan-Nya,
dalam keadaan terhina dan terampuni?
Aku tidak tahu.
Aku hanya ingin bersamamu.
Bahkan jika akhirnya
rehat panjangku penuh sakit,
penuh kacau,
akan dosa-dosaku sendiri.
Penulis: Nur Istiyanti
Di Mana Halaman Itu?
Kubaca catatan cerpen usang
Dua tokoh manis saling mengasihi
Kubelai tiap lembar hangat oleh cerita
Mengusir dingin perpustakaan
Kulihat nomor halaman rumpang
Tepat di tempat muncul gejolak
Namun kubaca hingga akhir
yang mendorong kaki mencari jawaban
Kuprotes halaman yang hilang
Penjaga mengambil catatan itu
Namanya tertera
di bawah judul
Kutatap wajahnya
Ia menutup catatannya
Lama
“Aku belum ingin menulisnya.”
Penulis: Na’ilatul Najmi Alifsya
Mampir ke Warung
setengah jalan. kepala pening.
perut tergiling. rokok sisa segelinting.
—mampuslah ia!
benar-benar tak ada lampu di jalan itu.
benar-benar tinggal dirinya menggerutu.
hanya serobek peta compang-camping.
menemaninya berjalan dalam gelap hati bernegara.
berpuluh masa terjangkit lapar:
ia sampai di warung dekat benteng:
ia berhenti mengambil jalan:
sorot cahaya menuding nama di pelatarannya:
“warung negara”—:
ia berjeda dan mampir setelah mencium bau darah yang masak di dalam warung.
ia bukan lagi dirinya saat itu. wajahnya anonim. tubuhnya akronim. wataknya antonim. imunnya antienzim. ideologinya antirezim.
ia menyublim ke dalam.
kakinya tersedot masuk.
di dalamnya bau busuk—ia tak peduli, dan
tak menunggu lagi.
setelah bertemu penjaga negara, ia berkata:
“wo, adakah seporsi bebas sebelum dirimu mati?”
Penulis: Muhammad Tajul Asrori
Nanti Dulu
Juta-jutaan cetak biru para pencipta,
kenapa pula tak ada yang merakit tombol jeda untuk manusia?
Semrawut….
Kerja ini, kerja itu. Carut marut!
Biarlah aku merasa jadi Si Paling Sibuk di semesta ini
Seluruh beban dunia ada di atas ubun-ubunku persis dua senti
Jam dinding bertelur dua belas ekor pusing di jidatku, mati
Ah, biarkan saja debu-debu itu membentuk serikat di atas mejaku!
Sebab jika dunia tak mau berhenti,
biar kepalaku saja yang meledak jadi kembang api
Setidaknya, langit malam ini jadi sedikit warna-warni
Penulis: Aulia Hasti Zalika R.
7 Deadly Break
Senin menangis. Ia benar-benar nangis. Senin nangis dan enggan memakai metafora hujan. Dalam paragraf ini senin nangis empat kali. Sedangkan empat arah mata angin menerkap selasa sendiri malam-malam. Aih tidur telat lagi pada pelipis rabu. Lebu. Labu. Labuh. Subuh. Rubuh. Tubuhmu berjatuhan setipis debu yang lupa menjadi jasad. Seperti plot-plot yang hilang dalam cerita syahrazad— horor-horor mengasyikkan pada malam jum’at, kamis terserang batuk kronis sebab meminum janji yang terlalu manis. Man is. Man is? Man is! Boy hidup ini hanya seputar laki-laki. Ucap Jum’at yang tak mau berlagak feminis tapi bu dosen masih sibuk mengiris-ngiris. Apa yang kau bicarakan? Kata sabtu, yang tak sengaja mengungkapkan cinta padamu di malam minggu. Ya Wuhan!!! Gara-gara kamu kami membatu selama dua tahun. Sementara minggu selalu merapal di altar gereja. Meminta agar senin, selasa, rabu kamis, jum’at dan sisanya selalu kembali padanya. Tunggu. Apakah minggu dan sabtu bermusuhan? Bagaimana bisa tujuh dosa kita panggil dan menjadi waktu. Waktu. Waktu. Waktu. Wancok. Aku telat lagi.
”Oh tuhan, berilah jeda sedikit untuk puisi ini, bangsat!”
Penulis: Moch. Fahmi Alfarizi (kontribusi pembaca)
