KUMPULAN PUISI DALAM FRAGMEN: KEMBARA

Di Hamparan Luas
maka di hamparan luas itu ia langsung meranggaskan kaki-kakinya untuk terbang ke sana kemari sambil membawa angin bising. ia tahu mimpinya sudah terlalu jauh di ujung sana dan bumi bukanlah telepon selular yang bisa mengakselerasinya mencapai itu.
ia tahu bulan indah di atas akan memberinya segelas plasebo sambil mendudukkannya di atas mimpi-mimpi yang membuatnya lelap sebelum akhirnya bangun disentak yang nyata. ia hanya ingin membandingkan seberapa pantas dirinya untuk bertarung dengan para sipir yang menahan pengembaraannya dalam penjara yang kita sebut sebagai bahasa.
Penulis: Muhammad Tajul Asrori
Ikatkan Kelana pada Leherku
Kala seiring masa…
Melukiskan jejak patri pereka cipta kisah
… menapak tapak kian laju pendar kilat
Binar netra membekuk penatku
‘Tak, jangan [jadi pen] dusta!’
JAJAJA
sebenarnya.., siapakah pem–bual-nya?
:penulis ini?
Ah, bukan (mungkin(?))
Pintanya, hadir nan sanggup membuatku rehat.
… sampaikan, buana mampu terjeda
… paksa, ikatku agar terlelap rebah
Lantaran, kakiku senantiasa-terbiasa berlari
Nanti (mungkin(?(²))), saat senyap tenang…
aku berceloteh panjang pada diri
Tentang pengejaran fananya pijakanku
, di tanah air jajahan gelora bara
, yang penuh duka; namun aku cinta
Penulis: Khoiriyah Balqis
Kelana Semauku
Kubawa angin bersamaku
Tak perlu bersusah-payah menjauh
Kuteruskan bergerak semauku
Tak bisa lagi kau simpul
Jangan repot kau membelitku
Kuhaluskan diriku melebihi debu
Menyusuri jejak anginku
Lihat saja serbukku
Yang memudar dari tanganmu
Penulis: Na’ilatul Najmi Alifsya
Sebelum Nyala Menepi
Inginku terbang dengan sayap dari keteguhan hati
Inginku lepas dari rantai yang membelenggu diri
Pergi kesana-kemari bersama sisa keyakinan yang ku miliki
Tapi ketika bara dalam hati perlahan mati,
resah mulai ku resapi,
lara menyerang arteri,
hingga nadi berdenyut ironi
Bolehkah aku pulang sebentar, Ma?
dengan manja memintamu menyuapiku,
seolah aku anak kecil yang tidak tahu perihal dunia
Sebab setelah kenyang,
aku akan kembali,
melanjutkan perjalanan untuk membahagiakanmu
Penulis: Dewi Cantika
Perjamuan di Bawah Mata Angin
Ketika aku melihat mata setan itu;
Dia menatapku seolah aku adalah manusia berdosa
Barangkali memang benar adanya,
Sebab aku juga tidak membantah,
dan membiarkan dia berbicara;
“Kau kehilangan arah ya?”
Oh.
“Kau kehilangan rumah ya?”
Oh, tebakan beruntung.
“Kau kehilangan kasih sayang mereka?”
Oh, Mungkin saja?
“Karena dia menggantikanmu dengan yang lain?”
Oh, barangkali benar?
Kubiarkan pertanyaan-pertanyaan itu mengudara;
Sedang aku duduk, membalas menatapnya
Dan aku menggeleng,
“Kau tidak akan menemukan jawabannya.”
Mata hijau itu tidak menyerah,
Dia menatap 500 meter kedepan,
Seolah dia pernah membaca dari mana aku berasal,
Lantas terbukalah mulut berdosa itu sekali lagi;
“… atau kau kehilangan dirimu?”
Oh?
“Karena dia membiarkanmu mati malam itu?”
Hahaha. Sialan.
Penulis: Aprilia Syofi
