KUMPULAN PUISI DALAM FRAGMEN: KEMBARA

0
“Wanderers” karya Liana Gorokhova

Di Hamparan Luas

maka di hamparan luas itu ia langsung meranggaskan kaki-kakinya untuk terbang ke sana kemari sambil membawa angin bising. ia tahu mimpinya sudah terlalu jauh di ujung sana dan bumi bukanlah telepon selular yang bisa mengakselerasinya mencapai itu.

ia tahu bulan indah di atas akan memberinya segelas plasebo sambil mendudukkannya di atas mimpi-mimpi yang membuatnya lelap sebelum akhirnya bangun disentak yang nyata. ia hanya ingin membandingkan seberapa pantas dirinya untuk bertarung dengan para sipir yang menahan pengembaraannya dalam penjara yang kita sebut sebagai bahasa.

Penulis: Muhammad Tajul Asrori

Ikatkan Kelana pada Leherku

Kala seiring masa…
Melukiskan jejak patri pereka cipta kisah
… menapak tapak kian laju pendar kilat

Binar netra membekuk penatku

‘Tak, jangan [jadi pen] dusta!’

JAJAJA
sebenarnya.., siapakah pem–bual-nya?
:penulis ini? 

Ah, bukan (mungkin(?))

Pintanya, hadir nan sanggup membuatku rehat.
… sampaikan, buana mampu terjeda
… paksa, ikatku agar terlelap rebah

Lantaran, kakiku senantiasa-terbiasa berlari

Nanti (mungkin(?(²))), saat senyap tenang… 
aku berceloteh panjang pada diri

Tentang pengejaran fananya pijakanku
, di tanah air jajahan gelora bara
, yang penuh duka; namun aku cinta

Penulis: Khoiriyah Balqis

Kelana Semauku

Kubawa angin bersamaku
Tak perlu bersusah-payah menjauh
Kuteruskan bergerak semauku

Tak bisa lagi kau simpul
Jangan repot kau membelitku
Kuhaluskan diriku melebihi debu

Menyusuri jejak anginku
Lihat saja serbukku
Yang memudar dari tanganmu

Penulis: Na’ilatul Najmi Alifsya

Sebelum Nyala Menepi

Inginku terbang dengan sayap dari keteguhan hati
Inginku lepas dari rantai yang membelenggu diri
Pergi kesana-kemari bersama sisa keyakinan yang ku miliki

Tapi ketika bara dalam hati perlahan mati,
resah mulai ku resapi,
lara menyerang arteri,
hingga nadi berdenyut ironi

Bolehkah aku pulang sebentar, Ma?
dengan manja memintamu menyuapiku,
seolah aku anak kecil yang tidak tahu perihal dunia

Sebab setelah kenyang,
aku akan kembali,
melanjutkan perjalanan untuk membahagiakanmu

Penulis: Dewi Cantika

Perjamuan di Bawah Mata Angin

Ketika aku melihat mata setan itu;
Dia menatapku seolah aku adalah manusia berdosa
Barangkali memang benar adanya,
Sebab aku juga tidak membantah, 
dan membiarkan dia berbicara;

“Kau kehilangan arah ya?”
Oh.
“Kau kehilangan rumah ya?”
Oh, tebakan beruntung.
“Kau kehilangan kasih sayang mereka?”
Oh, Mungkin saja?
“Karena dia menggantikanmu dengan yang lain?”
Oh, barangkali benar?

Kubiarkan pertanyaan-pertanyaan itu mengudara;
Sedang aku duduk, membalas menatapnya
Dan aku menggeleng, 
“Kau tidak akan menemukan jawabannya.” 

Mata hijau itu tidak menyerah, 
Dia menatap 500 meter kedepan,
Seolah dia pernah membaca dari mana aku berasal,
Lantas terbukalah mulut berdosa itu sekali lagi;

“… atau kau kehilangan dirimu?”
Oh?
“Karena dia membiarkanmu mati malam itu?”
Hahaha. Sialan. 

Penulis: Aprilia Syofi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *