PENUGASAN TANDA TANGAN BAGI STAF PKKMB FIA UB TUAI KELUHAN, KAPEL: AGAR SALING MENGENAL

MALANG-KAV.10 Staf PKKMB Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya (UB) 2026 mengeluhkan penugasan pengumpulan tanda tangan (TTD) basah dan first impression dari 20 Person in Command (PIC). Penugasan tersebut diberikan pada hari Minggu (23/8) dan dikumpulkan pada Jumat (28/8).
Salah satu panitia PKKMB FIA 2026, Swift (bukan nama sebenarnya), mengungkapkan penugasan tersebut diberikan secara tiba-tiba. “Waktu itu langsung ada pengumuman gitu, isinya melampirkan detail dari tugasnya,” ungkapnya pada Kamis (3/9). Ia juga menambahkan bahwa dalam pengumuman, alasan penugasan tidak diberikan.
Swift juga mengutarakan kesulitan yang dihadapi dalam pengerjaan, seperti kendala menyesuaikan jadwal dengan PIC atau perilaku beberapa PIC yang sengaja mempersulit proses meminta TTD. “Ada yang sengaja ngasih pertanyaan dulu, jadinya lama banget buat TTD-nya, teman aku ada yang sampai telat masuk ke kelas karena itu,” keluhnya.
Selain itu, tenggat waktu yang singkat juga dipusingkan olehnya. “Jadinya kayak diburu-buruin, jatuhnya hanya formalitas. Karena aku engga tau konsekuensinya kalau telat atau engga ngerjain jadinya lebih fokus ngerjain TTD ini ketimbang tugas sebagai staf,” pungkasnya.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Pelaksana (Kapel) PKKMB FIA, Habibi Rahmansyah, menjelaskan bahwa penugasan tersebut diberikan agar para staf saling mengenal PIC. “Penugasan ini tuh dibuat agar para staf dapat lebih mengenal PIC, sehingga tidak hanya tau wajah tetapi juga ada komunikasi interpersonal,” ucapnya pada Sabtu (5/9). Ia mengungkapkan bahwa pemberian penugasan telah disepakati bersama dengan PIC terkait, dan telah dilakukan dari tahun ke tahun.
Menurut Habibi, pemberian tenggat waktu sudah dibuat semaksimal mungkin. “Kami berharap teman-teman [panitia] dapat memaksimalkan dan menyesuaikan dengan jadwal masing-masing,” ungkapnya. Dirinya juga menyatakan bahwa belum ada bentuk konsekuensi bagi yang tidak ataupun terlambat mengumpulkan. “Pastinya tidak akan ada konsekuensi fisik seperti push up dan sebagainya karena kami menerapkan budaya humanis, jadi untuk konsekuensinya akan fokus ke kompetensi,” tambahnya.
Penulis: Nadil Ulum Annafis
Editor: Mariana Safina Nirmala
