MAHASISWA SOROTI PENGGUNAAN AI DALAM KONTEN UBTV, MANAGER UB MEDCOM BERI TANGGAPAN

MALANG-KAV.10 Penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam pembuatan desain konten UBTV menjadi sorotan usai adanya unggahan di akun Instagram @brawijayashitposting pada Kamis (16/7). Unggahan tersebut mempertanyakan penggunaan AI pada sejumlah desain konten UBTV. Dalam kolom komentar unggahan tersebut, terdapat beberapa komentar yang mengaitkan penggunaan AI dengan keberadaan mahasiswa yang berkuliah di jurusan Desain Grafis.
Ara (bukan nama sebenarnya), mahasiswa Jurusan Desain Grafis Universitas Brawijaya (UB), turut menyoroti penggunaan AI tersebut. Ia menilai pemanfaatan teknologi itu dapat memengaruhi pertimbangan desainer maupun mahasiswa desain untuk bergabung dengan instansi di lingkungan Universitas Brawijaya. “Akibatnya para desainer atau mahasiswa desain akan mempertimbangkan ketika ingin bergabung pada instansi UB, apakah instansi tersebut menghargai sebuah desain yang dibuat oleh manusia?” ujarnya via direct message Instagram pada Senin (24/8).
Mahasiswa Desain Grafis itu juga menyebutkan bahwa publikasi desain hasil generate AI tidak dapat dibenarkan apapun alasannya. “Alasan apapun tidak bisa dibenarkan, karena seolah olah kemampuan mendesain tidak ada harganya dibandingkan hasil prompt,” ujar Ara. Ia juga menambahkan bahwa AI seharusnya hanya digunakan sebagai alat bantu riset dan referensi, bukan untuk menghasilkan karya akhir.
Menanggapi sorotan tersebut, Manager UB Media & Communication Group (UB Medcom), Redy Eko Prastyo, menjelaskan bahwa penggunaan AI dalam ekosistem UB Medcom (UBTV, UB Radio, dan Kanal 24) diposisikan sebagai alat bantu dalam proses produksi, bukan sebagai pengganti manusia.
Redy menerangkan bahwa AI digunakan pada tahap awal produksi, seperti brainstorming, eksplorasi gaya, hingga pembuatan elemen grafis dasar. Hasil yang digunakan dalam publikasi tetap melalui proses human touch oleh desainer internal. “Jadi, AI di sini bertindak sebagai asisten dapur pacu, bukan desainer utama yang mengambil alih sepenuhnya keputusan artistik,” jawabnya melalui surat pada Selasa (1/9).
Ia menambahkan bahwa penggunaan AI juga berkaitan dengan kebutuhan produksi media yang memiliki tenggat waktu ketat dan kebutuhan konten dalam jumlah besar. “Kebutuhan instan di jam-jam tertentu inilah yang kerap didukung oleh efisiensi teknologi,” tulis Redy.
Terkait peluang kolaborasi dengan mahasiswa desain, Redy menyatakan terbuka terhadap kemungkinan tersebut, meski kebutuhan produksi dan waktu menjadi salah satu pertimbangan dalam pengerjaan konten. “Kami melihat AI dan talenta mahasiswa bisa berjalan beriringan untuk memperkuat kualitas industri media kampus,” ujarnya.
Penulis: Shidka Najma Zahira Mahmudi
Editor: Nadil Ulum Annafis
