PEMILIHAN SPONSOR RAJA BRAWIJAYA 2026 DISOROT USAI PESAN “FREE PALESTINE” DITAMPILKAN

0
Sumber: Istimewa

MALANG-KAV.10 Pelaksanaan Open House RAJA Brawijaya 2026 pada 29-30 Agustus lalu menjadi sorotan setelah pesan solidaritas terhadap Palestina ditampilkan melalui videotron dalam salah satu sesi pengenalan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Momen tersebut kemudian diabadikan dan dibagikan oleh pengguna media sosial X, memperlihatkan bendera Palestina dan tulisan “Free Palestine” pada videotron dalam satu tampilan dengan visual produk Nescafé. Kondisi tersebut memunculkan keheranan, seperti dalam salah satu cuitan pengguna X lain yang menilai ada pertentangan antara pesan tentang Palestina dengan merek sponsor yang dipilih oleh panitia. Cuitan itu lantas menuai respons beragam.

Ketua Pelaksana RAJA Brawijaya 2026, Daffa, menjelaskan bahwa keputusan menjalin kerjasama dengan Nescafé telah melalui sejumlah pertimbangan dan diskusi, baik di internal panitia maupun dengan pihak rektorat. Menurutnya, kerjasama tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap penyelenggaraan kegiatan bagi mahasiswa baru. “Ini pure hanya bentuk kerjasama dalam aspek benefit,” ujarnya ketika diwawancarai pada Rabu (2/9).

Daffa menegaskan bahwa kerjasama sponsorship dengan Nescafé tidak dimaknai sebagai bentuk dukungan Universitas Brawijaya (UB) terhadap sikap politik, kebijakan, maupun afiliasi perusahaan tersebut. Ia menyebut UB tetap menunjukkan kepedulian terhadap isu kemanusiaan di Palestina melalui sejumlah bentuk dukungan, salah satunya pengiriman tenaga medis. “Tetap RAJA Brawijaya dan UB berdiri pada nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan,” tegasnya.

Dalam pemilihan Nescafé sebagai sponsor, ia mengatakan panitia tidak hanya mempertimbangkan produk yang ditawarkan. Sejumlah aspek turut menjadi pertimbangan, seperti kesesuaian dengan kebutuhan acara, proposal, penawaran, serta proses negosiasi dengan calon sponsor. “Setelah proses yang dilalui, tawar-menawar dan sebagainya, dari pihak sponsor yang kita ambil sekarang itu memiliki positioning yang paling ideal dan sesuai dengan kebutuhan,” jelasnya.

Pandangan berbeda disampaikan oleh Fauzi selaku perwakilan UB Students for Justice in Palestine (UB SJP). Ia menilai solidaritas terhadap Palestina tidak hanya diwujudkan melalui pesan yang disampaikan kepada publik, tetapi juga tercermin dalam keputusan organisasi, termasuk ketika menentukan pihak yang diajak bekerjasama. “Kita bisa memandang ini dalam dua hal, yaitu kebutuhan panitia dan pertimbangan moral dalam penyelenggaraan kegiatan,” ujar Fauzi dalam wawancara pada Jumat (4/9).

Menurut Fauzi, ketika pertimbangan moral berhadapan dengan kebutuhan finansial, panitia perlu mempertimbangkan alternatif sponsor atau sumber pendanaan lain. Ia menilai RAJA Brawijaya sebagai kegiatan besar dengan sorotan publik yang luas memiliki peluang untuk mencari sumber pendanaan lain apabila memilih mengutamakan pertimbangan moral. “Ketika ini bersinggungan, harus dikorbankan salah satunya. Misalkan, mereka memilih untuk mementingkan moral publik mereka [berarti] harus bisa mengorbankan finansial mereka dengan alternatif yang lain” ujar Fauzi.

Meski demikian, Fauzi tidak menyebut panitia RAJA Brawijaya sepenuhnya salah dalam mengambil keputusan tersebut. Ia memahami adanya perbedaan antara pertimbangan finansial dan pertimbangan moral publik dalam penyelenggaraan kegiatan. Menurutnya, perbedaan pertimbangan tersebut tetap perlu menjadi bahan evaluasi bagi panitia dalam menentukan kerjasama pada kegiatan mendatang.

Penulis: Shidka Najma Zahira Mahmudi
Editor: Elvaretta Rahma Devina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *