LOVELY MAN: AYAH YANG PULANG SEBAGAI ASING

0
Sumber: themoviedb.org

Malam selalu tampak indah karena hanya sebagian darinya yang hidup. Malam tak pernah benar-benar gelap karena manusia di dalamnya mampu untuk menyimpan luka yang diam-diam menggerogotinya. Lovely Man (2011) karya Teddy Soeriaatmadja mampu untuk memotret malam sejenis itu dengan jelas. Sunyi, lembab, diwarnai dengan percakapan yang terasa seperti luka lama yang pada akhirnya dibuka kembali. Film ini tidak hadir dengan ledakan dramatis dan adegan yang sibuk mencari simpati. Ia berjalan perlahan, seperti langkah kaki di tengah malam hari di Jakarta namun tak gagal menunjukkan realita dari kehidupan yang dianggap tanpa celah. Lovely Man (2011) senantiasa hadir dalam indra penonton untuk menceritakan kisah tentang manusia yang terlalu lama hidup dalam penolakan. 

Sinopsis

Cahaya, seorang perempuan yang tinggal di pesantren pergi ke Jakarta untuk mencari sosok ayah yang meninggalkannya. Ia kemudian menemukan sesuatu yang jauh dari bayangannya ketika mengetahui bahwa ayahnya hidup sebagai waria jalanan bernama Ipuy. Pertemuan mereka bukanlah sebuah adegan haru yang langsung memeluk maaf, melainkan tabrakan antara rasa kecewa, malu, rindu, dan kasih sayang yang selama bertahun-tahun tidak bisa diungkapkan melalui bahasa maupun tindakan. 

Donny Damara memainkan Ipuy dengan manusiawi. Ia bukanlah sebuah karikatur maupun lelucon. Ipuy hanyalah manusia biasa yang lelah. Riasan wajah yang ia kenakan dan tawa kecilnya ada kesepian yang terasa sangat nyata. Cara ia menundukkan kepala, menghindari tatapan Cahaya, atau tertawa untuk menyembunyikan kegagalannya sebagai ayah semuanya terasa menyakitkan tanpa beribu kata diperlukan untuk menjelaskannya. Sementara itu, Raihaanun menghadirkan Cahaya dengan tatapan yang terus berubah sepanjang film. Dari marah, bingung, jijik, hingga perlahan belajar memahami. Hubungan keduanya seperti dua orang asing yang sebenarnya saling mencintai, tetapi terhalang oleh identitas, waktu, dan luka sosial yang terlalu besar. 

Lovely Man dan Segala Ceritanya

Kekuatan Lovely Man (2011) juga terletak pada cara film ini direkam. Banyak adegan di dalamnya terasa goyah, bergerak tidak stabil, seakan penonton sedang berjalan langsung di belakang kedua tokohnya. Shot-shot handheld itu menciptakan rasa sesak sekaligus intim, malam hari di Jakarta yang terasa hidup, tetapi juga melelahkan, seakan menegaskan bahwa hidup Ipuy sendiri tidak pernah benar-benar tenang. Jakarta dalam film ini bukan kota metropolitan yang megah seperti dalam iklan pariwisata atau sinetron prime time. Teddy Soeriaatmadja justru menunjukkan sisi kota yang jarang dipeluk kamera. Lorong sempit, halte kusam, warung kecil tengah malam, toilet umum, hingga jalanan yang dipenuhi tubuh-tubuh lelah mencari uang dan tempat bertahan hidup. Lampu kota yang gemerlap dalam Lovely Man (2011) terasa dingin. Di balik neon dan keramaian malam, ada orang-orang yang hidup sebagai bayangan. 

Film ini seperti membuka tirai belakang kehidupan kota besar, bahwa di balik gemerlap Jakarta ada manusia-manusia yang terus hidup dalam stigma dan keterasingan. Orang-orang yang keberadaannya sering dilihat, tetapi jarang benar-benar dipahami. Lovely Man (2011) tidak menghakimi mereka, tidak juga memoles realita menjadi sesuatu yang terlalu indah. Film ini memilih untuk jujur kepada penonton dan kejujuran itulah yang membuat film ini terasa menyesakkan. Warna-warna dalam film pun cenderung muram dan redup. Dominasi cahaya jalanan, warna kuning kusam, serta gelapnya malam membuat suasana terasa rapuh. Bahkan ketika kota terlihat ramai, film ini tetap menyisakan rasa sepi. Kesepian itu seperti terus mengikuti Ipuy ke mana pun ia berjalan.

Yang membuat Lovely Man (2011) begitu membekas adalah keberaniannya memanusiakan seseorang yang sering kali hanya dijadikan bahan stigma. Film ini tidak mencoba menjadi khotbah moral. Ia hanya meminta penonton untuk melihat manusia sebagai manusia. Teddy Soeriaatmadja menyusun film ini seperti puisi yang patah-patah. Dialognya sederhana, tetapi menyimpan gema panjang setelah film selesai. Banyak kesunyian dalam film ini, dan kesunyian itu justru berbicara paling keras. Penonton dipaksa duduk bersama rasa tidak nyaman, sebab hidup memang tidak selalu memberi jawaban yang rapi.

Kesimpulan

Lovely Man (2011) bukan hanya film tentang identitas gender atau hubungan keluarga. Film ini adalah cerita tentang orang-orang yang gagal menjadi versi ideal menurut masyarakat, tetapi tetap mencoba mencintai dengan cara mereka sendiri. Tentang manusia yang mungkin tidak diterima dunia, namun masih ingin dipanggil “ayah” oleh anaknya. Ketika layar akhirnya gelap, yang tersisa bukan hanya sedih. Ada rasa hampa yang lirih, seolah Jakarta masih menyimpan ribuan Ipuy lain yang berjalan sendirian di bawah lampu malam, menjadi asing bahkan bagi hidupnya sendiri.

Penulis: R. AJ. Afra Aurelia Luqyandysa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.