DI BALIK PELUH DAN ASA PEKERJA PUBLIC AREA CREATIVE LAND
Fotografer: Zalfa Qonita
MALANG-KAV.10 Kain lap setengah basah beraroma wangi karbol itu bergerak memutari meja, menyapu remah-remah sisa makanan dan tetesan es teh manis dalam hitungan detik. Suara riuh sendok beradu dengan piring yang bising, berpadu riuh obrolan mahasiswa yang memadati sudut-sudut kantin di tengah terik nya siang.
Kantin Creative Land atau yang akrab disebut CL seringkali menjadi tempat singgah mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) untuk mengisi perut atau hanya sekedar bersantai meneduh di bawah pohon rindang. Namun, di balik makanan lezat yang tersaji di tengah hiruk-pikuk itu, tak banyak mata memperhatikan seorang pemuda yang bekerja keras dari pagi hingga malam. Faisal namanya, salah satu petugas Public Area (PA) yang mengemban tugas utama menjaga kebersihan area CL.
Geliat Rutinitas di Sudut Kantin
Langkah kakinya sudah berjejak bahkan sebelum matahari benar-benar benderang, menyapu sisa-sisa embun hingga akhirnya menutup malam saat kampus telah lelap dalam gundah dan sepi. Meskipun begitu, Faisal tidak sendiri. Ia dan rekan-rekannya melaksanakan sistem sif pagi dan sif sore yang menuntut delapan jam kerja. “Kalau pagi itu mulai jam 6 pagi sampai jam 2 siang. Kalau jam 2 siang itu sampai jam 10 malam. Total 8 jam saja,” ujar Faisal.
Ritme kerjanya sendiri terbilang cukup padat. Faisal rutin bekerja dari Senin hingga Jumat. Bahkan pada akhir pekan, ia dan rekan-rekannya tetap masuk secara bergantian (rolling), menyesuaikan dengan operasional kantin. “Dari Senin sampai Jumat [masuk]. Tapi tergantung kebutuhan kantinnya juga. Soalnya Sabtu sama Minggu, kadang lantai duanya itu tutup,” terangnya.
Penentuan serta pembagian sif pagi maupun sore sepenuhnya berada di bawah kendali manajemen. Faisal menambahkan bahwa pola rotasi jadwalnya tidak selalu tetap dalam jangka waktu tertentu. “Bisa seminggu, bisa sebulan, bisa 2 minggu, tergantung sifnya.”
Tugas harian Faisal dan rekan-rekannya dimulai dengan persiapan area kantin sebelum jam operasional. Mereka menurunkan kursi-kursi di lantai satu, menyapu seluruh permukaan paving dari ujung area parkir motor hingga ke dekat tenda-tenda usaha, lalu menyapu seluruh sudut CL.
Setelah area bersih, mereka bergiliran mengontrol area lantai satu dan dua, termasuk mengelap deretan meja hingga siap digunakan pengunjung. Menjelang akhir jam kerja, proses serah terima (handover) wajib dilakukan antara petugas sif pertama dan kedua agar tidak ada area yang terlewat.
“Harus ada serah terima dari sif satu sama sif dua. Jadi kita omongin di situ kekurangannya apa. Semisal sif satu belum kontrol toilet atau lantai dua, nanti bilang, ‘Nanti cek lagi ya di lantai dua sama kontrol toiletnya, kita belum soalnya sif satu,’ gitu,” tutur Faisal.
Dalam satu kali sif, jumlah petugas disesuaikan dengan intensitas keramaian kantin. Saat aktivitas perkuliahan sedang aktif dan kantin ramai, satu sif diisi oleh tiga orang. Namun jika situasi cenderung senggang, dua orang petugas dianggap cukup untuk mengurus seluruh area.
Pemandangan di sudut-sudut kantin mendadak berubah ketika semester aktif perkuliahan dimulai dan kantin kembali dipadati mahasiswa. Timbunan sampah plastik bekas makanan dan minuman melonjak drastis hingga kerap melampaui kapasitas tong sampah yang tersedia.
“Kalau lagi ramai, sampah plastik itu kan banyak. Kita sudah usahakan semaksimal mungkin supaya tong sampah dipadatkan, tapi tetap enggak cukup karena mahasiswa baru lagi aktif-aktifnya. Kalau yang kemarin [liburan] itu, tong masih banyak yang kosong. Lah kalau sekarang itu full juga sampai tumpah-tumpah. Tongnya kurang,” curahnya.
Menghadapi lonjakan sampah tersebut, Faisal dan timnya memutar otak dengan memaksimalkan penggunaan kantong sampah (trash bag). Sampah dipadatkan secara berkala, ketika kantong sudah penuh, trash bag langsung diangkat dan diganti dengan yang baru agar area kantin tidak berantakan.
Meskipun durasi kerja delapan jam dinilai tidak bermasalah, lonjakan pengunjung di jam-jam tertentu kerap membuat beban kerja terasa kian berat akibat terbatasnya jumlah personel. Rasa lelah yang berlebih akibat padatnya kantin tak lantas membuat Faisal melangkahi wewenangnya. Apalagi, ketika semester aktif berjalan, kantin tetap dipadati mahasiswa hingga malam hari, terlebih jika ada acara di area GOR Pertamina UB. Bagi pemuda ini, fokus utamanya adalah menjalankan tugas sebaik mungkin sesuai prosedur yang berlaku.
“Ya, kalau dibilang over kecapekan sih, ya ada. Tapi kalau perlu ditambah [jumlah staf] atau enggak itu kan bukan tanggung jawab saya. Kita itu cuman melakukan job desk kita—SOP, dengan baik dan benar. Jadi kalau ketentuan tambah SDM, itu kan sudah ada penanggung jawabnya sendiri—manajemennya juga. Kita ngikut aja,” tambahnya.
Tiap Hari adalah Pengharapan
Namun kegiatan Faisal tak hanya itu. Selain menjalani tugas sebagai PA di CL, ia juga mengelola pekerjaan sampingan sebagai pengemudi online ShopeeFood serta menjadi penjahit saat berada di rumah. Menjalani tiga peran sekaligus dalam sehari menuntutnya harus pintar membagi waktu dan menjaga stamina.
Di satu sisi, pekerjaannya di kantin terikat status casual worker alias pekerja lepas tanpa kontrak karyawan tetap. Hasilnya, upah yang ia terima dihitung per hari dan berada di bawah UMR—angka yang tergolong minim bagi sebagian orang. Namun, di tangan pemuda ini, tiap lembar rupiah diolah dengan bijak. Tambahan dari kerja sampingannya tak hanya menutup celah kebutuhan, tetapi juga membuktikan kemandiriannya di usia muda.
“Rumah saya juga jauh dari sini, jadi kan saya enggak bisa menggantungkan upah saya dari sini [bekerja sebagai PA] untuk menghidupi kehidupan saya,” ucapnya.
Status pekerjaan tersebut juga membuat apresiasi kerja seperti jaminan kesehatan maupun sistem reward belum menyentuh posisi casual worker. Padahal, harapan akan jenjang karier dan perhatian kesejahteraan selalu membayangi hari-harinya.
“Kalau sementara ini kan, saya itu masih hitung-hitungannya itu casual worker. Jadi kalau dibutuhin itu bisa dipanggil, kalau enggak dibutuhin itu bisa enggak dipanggil. Sistem reward casual worker, selama ini—mohon maaf belum ada,” ungkapnya.
Dua tahun bertahan bekerja di CL memberikan banyak kenangan bagi Faisal. Baginya bagian terbaik dari pekerjaannya adalah kesempatan untuk berkenalan dengan orang-orang baru, berbaur dengan rekan sejawat, hingga menghabiskan waktu bersama di sela kesibukan.
Namun, bekerja berhadapan dengan ratusan orang setiap harinya tak jarang menguji kesabarannya. Ada kalanya, niat tulus memberikan pelayanan terbaik justru dibalas oleh salah seorang oknum mahasiswa dengan sikap yang menyakitkan dada.
Faisal teringat satu insiden ketika oknum mahasiswa melontarkan nada bicara tinggi seperti menantangnya, hanya karena kesalahpahaman kecil di area kantin. Ia menyayangkan bahwa mahasiswa seharusnya memiliki etika di tempat-tempat umum. Pemuda itu tetap memilih menelan amarahnya bulat-bulat. Menurutnya, membalas keangkuhan dengan amarah tak akan pernah menyelesaikan masalah.
Bagi Faisal, kantin mitra usaha kampus ini menjadi bagian dari wadah yang memberinya ruang untuk mandiri di usia muda. Pengalaman berhadapan dengan komplain pengunjung yang datang tidak membuatnya ciut. Justru, ia menaruh harapan besar agar manajemen PT Brawijaya Multiusaha (BMU) mau turun langsung melihat realita di lapangan.
“Harapannya sih, manajemen yang ada di PT. Brawijaya Multiusaha bisa melihat ke karyawan yang ada di [posisi] bawah—gimana keadaannya, di lapangannya bagaimana. Kita itu pengin dilihat langsung oleh manajemennya.”
Faisal juga menyoroti pentingnya sesi briefing setiap pagi dan saat pergantian sif. Menurutnya, aduan dari penyewa (tenant) terjadi hampir setiap hari, namun sering kali hilang arah tanpa kejelasan sumber masalahnya. Melalui briefing, menurutnya seluruh petugas bisa berkumpul untuk mengurai keluhan, mengevaluasi kekurangan, dan menyampaikan kebutuhan operasional secara terbuka. Ia menegaskan bahwa fokus utama yang dibutuhkan pekerja di lapangan bukan sekadar mengungkit kesalahan, melainkan mencari solusi bersama atas setiap kendala yang muncul.
“Nah, dari saya sendiri ya, penginnya itu ada briefing tiap pagi sama ketika pergantian shift 1 sampai shift 2. Karena apa? Karena complain itu ada setiap hari. Kalau kita ada briefing, kita itu tahu semua [complain] karena dikumpulin, diomongin satu-satu. Butuhnya apa, solusinya apa,” pungkas Faisal.
Memanusiakan pekerjaan Faisal dan rekan-rekannya lewat kesadaran menjaga kebersihan dan setitik empati adalah cara terbaik untuk merayakan perjuangan para pekerja di sudut-sudut kampus kita.
Penulis: Aura Bella Ranai Putri
Editor: Fenita Salsabila
