KELANA BERDENDANG

Berjalan menuju perbatasan kota, terdengar dentuman dan petikan suara yang gelegarnya cukup kencang untuk didengar. Samar dan jauh, rasa penasaran pun membawa langkah kaki ke sudut kafe kecil yang lebih ramai dari biasanya. Pada atap-atap ruang kafe, terdapat sorot cahaya, cukup terlihat untuk sebuah identitas band.

Pantulan dari pintu kaca pun mengerlip. Luasnya kerumunan yang membelakangi meja pemesanan tidak cukup untuk menghalangi pancaran cahaya dan warna demi warna sekilas yang menyelak kedipan mata. Sorot lampu panggung menjadi pemuja terdepan sisi paling riang manusia setelah matahari pulang.

Di saat yang sama, projeksi kebanggaan tertampang di atas dinding, nama yang membawa hiburan sekaligus identitas alunan musik. Sesekali, panggung membuka dirinya untuk membiarkan perkusi menaiki panggung. Cengkeraman yang erat menaruh persiapan dan ambisi yang tetap berhati-hati, memastikannya tidak terjatuh atau terpetik sebelum momen perayaan kembali berlanjut. Petikan dan pukulan pertama menjadi pengingat akan ekspresi yang terpendam oleh gugup dan ragu, berharap akan hadir untuk lincah menuntun tanpa kehilangan tapaknya.

Permukaan panggung menyokong kokoh tumpahan dalang ekspresi. Genggaman perkusi menuntun cengkerama gelembung atmosfer, girang teriakan dan paparan cahaya redup menyertai alunan parau penonton yang melambai. Gema keramaian saling bersahutan menjadi pengiring panggung malam itu. Melihat dari bawah, tidak hanya ratusan pasang mata, namun juga kerlip lensa yang memantulkan kembali butir-butir cahaya menerangi setiap gerak sorak sorai.

Tetesan kopi hangat perlahan membasahi jari, tersentak ayunan tangan dan lompatan spontan dari gelombang keramaian. Jinjitan kaki bertahan menopang pandangan, kekuatan mengikuti deru keramaian. Jari-jari tangan terangkat, berusaha untuk membersihkan tetesan kopi dari kilauan pergelangan tangan. Samar terdengar permintaan maaf, entah terjadi atau tidak, sembari berusaha mendengarkan kembali percakapan – percakapan yang teredam.

Cahaya panggung dan titik rekam perlahan berkedip, berlomba-lomba dan berusaha untuk menangkap guyuran warna dan hamparan perayaan yang berhamburan dari pelukan yang menghantam. Guliran layar yang cepat tidak selaras dengan langkah kaki yang bergeming. Setiap tangkapan membakar kembali memori yang hampir pudar.
Penulis: Hasna Radita
