POS SATPAM DAN SECUIL KEHIDUPAN DI DALAMNYA
Sumber: malangraya.pikiran-rakyat.com
MALANG-KAV.10 Warga kampus sedang beraktivitas seperti biasa pada siang yang mendung itu saat Samsul dengan baju dinas satpam dan topi berwarna biru malamnya duduk di depan pos satpam. Matanya sesekali melirik mahasiswa yang sedang bergurau sebelum mengalihkan pandangan ke tempat parkir Griya Brawijaya. Sesekali ia berdiri untuk membuka buku folio bergaris yang terletak di atas meja pos satpamnya saat penghuni Griya Brawijaya datang untuk mengambil paket.
Suasana itu kontras dengan suasana yang dialami Muslimin, yang jadwal jaganya diisi dengan deru motor di kejauhan dan sepinya Rusunawa. Dengan kaos berwarna abu-abunya, wajahnya menyiratkan bosan, memandang satu per satu mahasiswa yang keluar-masuk Rusunawa. Ia juga tampak bertanya-tanya sampai kapan paket para penghuni Rusunawa menetap di kolong mejanya.
Keduanya, sambil menahan kantuk, sama-sama menjaga dua fasilitas penting yang ada di Universitas Brawijaya. Samsul merupakan satpam senior yang sudah bekerja selama 31 tahun, sedangkan Muslimin baru menginjak 5 tahun masa kerja. Sebelum sibuk bekerja sebagai satpam, Samsul dan Muslimin dulunya bekerja sebagai cleaning service di Universitas Brawijaya. Samsul bekerja sebagai cleaning service selama 5 tahun sejak tahun 1990 sebelum diangkat sebagai satpam pada tahun 1995, sedangkan Muslimin bekerja dengan profesi yang sama selama 30 tahun sebelum diangkat menjadi satpam 5 tahun lalu.
Dengan waktu kerja selama itu, mereka berdua memiliki pengalaman senang-susahnya masing-masing. Meskipun demikian, semangat untuk mengemban tugas menjaga sudut-sudut kampus tetap terpancar dari sela-sela keriput wajah mereka.
HATI KECIL SATPAM
Jumlah penghuni Griya Brawijaya kurang lebih sebanyak 450 orang. Samsul, dengan jumlah penghuni sebanyak itu, sebenarnya tidak merasa keberatan. Hanya saja, menurutnya, dengan jumlah penghuni sebanyak itu ditambah dengan lingkungan Griya Brawijaya yang selalu ramai oleh mahasiswa dan tamu-tamu yang lain, sistem ini membuat penjagaan keamanan menjadi kurang maksimal.
Dengan sistem jaga yang hanya diisi oleh satu orang, Samsul harus mengerjakan tugas-tugas keamanan seperti menjaga dan menata parkiran sekaligus menerima pengiriman paket untuk penghuni Griya Brawijaya sendirian. “Sebenarnya bukan tugas kita gitu. Kita jadi meng-cover pekerjaan di luar tugas kita,” katanya.
Ia sempat membandingkan dengan satpam-satpam yang bekerja di Rektorat Universitas Brawijaya yang hanya menjaga keamanan, di mana setiap regu terdiri dari 24 orang yang mengondisikan area luar gedung. “Kita [satpam Griya Brawijaya] mencakup di dalam gedung juga. Kita juga memberi pelayanan, ya ‘kan? Di situ ‘kan pasti ada orang tua yang masuk, menanyakan sesuatu tentang anaknya atau pendaftaran [menjadi penghuni Griya Brawijaya],” tambahnya. Hal ini menyiratkan bahwa satpam di Griya Brawijaya mau tidak mau mengerjakan dua tugas sekaligus, yaitu di bidang keamanan dan pelayanan.
Akar dari sistem satu shift satu orang yang ia jelaskan ini bermula sejak tahun 2010. Samsul yang sudah bekerja dari tahun 1990 mengaku jumlah satpam yang menjaga Universitas Brawijaya, terutama di tempat-tempat seperti Griya Brawijaya, berkurang setelah memasuki tahun 2010. Pada tahun 2010, personil satpam yang berjaga dikurangi sampai satu shift hanya boleh dijaga oleh dua orang. Di atas tahun tersebut, jumlah itu berubah menjadi satu shift satu orang yang sampai saat ini masih dilanggengkan.
Meskipun demikian, Samsul tidak mempermasalahkan sistem ini. “Saya pribadi enggak ada kata enggak sreg. Jadi, kayak menikmati gitu. Menikmati apapun yang kita terima sebagai jobdesk security,” tegasnya.
Namun, ia menitipkan sebuah pesan kecil dari sistem jaga ini. “Kalau satu jaga ini cuma satu orang, ya kurang maksimal untuk keamanan, ya jangan disalahkan [semisal kenapa-kenapa],” ujarnya, lugas.
Selain mencurahkan kata hatinya tentang sistem jaga satpam, Samsul juga menceritakan status karyawannya sebagai satpam Griya Brawijaya sedang terombang-ambing. Untuk menjelaskan maksudnya, ia memulai ceritanya dari zaman Kopma (Koperasi Mahasiswa) Brawijaya. Kopma Brawijaya kemudian melakukan perubahan-perubahan sampai akhirnya sampai di titik di mana semua karyawan di Griya Brawijaya statusnya honorer semua.
“Sedikit-banyaknya kita ini [karyawan Griya Brawijaya] status karyawan tetap non-PNS,” katanya. Samsul mengaku kurang tahu mengapa hal ini bisa terjadi. Namun, ia sudah tidak berharap banyak akan diangkat menjadi PNS di kemudian hari mengingat umurnya yang sudah menginjak 55 tahun.
Saat ditanya mengenai karyawan non-PNS yang dipaparkan oleh Samsul, Muslimin yang menjaga Rusunawa pun membenarkan hal tersebut. Karena merupakan karyawan non-PNS, ia merasa cukup kurang dengan gaji yang masuk ke kantongnya setiap bulan. Namun, dengan bisnis sampingannya: merawat burung Murai, ia mengaku tetap bisa bersyukur akan pendapatannya. Burung itu nantinya diternakkan dan dijual. Meskipun sekarang harga jualnya sedang menurun, hasil penjualannya mampu menambah penghasilannya sebagai satpam di Rusunawa.
KELUH PELUH PENUNGGU ASRAMA
Di sela-sela kesibukannya sebagai orang yang sesekali mengecek parkiran motor Griya Brawijaya dan menerima antaran galon dari tukang galon setempat, Samsul melanjutkan penjelasannya dengan mata sesekali menyipit bagaimana kesehariannya sebagai satpam.
“Tugas pertama satpam adalah untuk menjaga keamanan yang ada di sini [Griya Brawijaya] terutama keamanan tentang barang hidup dan barang mati. Yang dimaksud barang hidup adalah manusianya,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa keamanan tersebut juga mencakup pelayanan untuk tamu, bukan hanya mahasiswa saja. “Apabila ada tamu yang menginap, kita sambut, senyum, ramah, dan kita antar ke tempat check-in,” jelasnya.
Dalam kesehariannya, ada sistem jaga yang bekerja. Sambil menghitung jarinya, Samsul menjelaskan bahwa sistem jaga yang berlaku di Griya Brawijaya adalah sebanyak tiga jaga. “Masing-masing jaga berlangsung selama 8 jam. Satu jaga satu orang,” katanya.
Muslimin yang sedang berjaga di Rusunawa, kemudian memberikan penjelasan yang spesifik mengenai kesehariannya sebagai satpam. “Kalau pagi mulai jam 7 pagi sampai 3 sore [untuk shift 1], jam 3 sore sampai jam 11 malam [untuk shift 2], jam 11 malam sampai jam 7 pagi [untuk shift 3],” jelasnya. Dalam kesehariannya itu, dia menjaga parkiran, kendaraan-kendaraan seperti motor dan mobil, menghidupkan lampu jika sudah beranjak malam, serta menjaga barang-barang Rusunawa sekaligus menerima paket atau makanan yang dikirimkan oleh kurir.
Dengan tugas sebanyak itu, Muslimin mengaku sudah nyaman melakukannya setiap hari. “Kalau sudah biasa ya enak aja karena sudah tahu seluk-beluknya di sini. Apa ya? yang harus dilakukan sudah mengerti,” katanya santai. Ia juga menambahkan bahwa tidak ada jadwal jaga yang lebih mudah. “Kalau malam mungkin lebih [sulit] ya. Kalau malam ‘kan [jaga] sendiri di sini,” imbuhnya.
Mengenai jadwal jaga, Muslimin menerangkan bahwa jadwal jaga itu sudah dari ketua satpam Universitas Brawijaya. Setiap satu bulan sekali, ada satu jadwal baru. Jadwal itu sudah mencakup jadwal jaga dan tempat jaga sekaligus jadwal libur setiap minggunya.
Perihal perizinan jaga, Muslimin menjelaskan bahwa izin karena sakit ataupun agenda yang lain diperbolehkan asal disertai bukti yang jelas (seperti izin sakit melampirkan surat keterangan dokter) dan tidak dilakukan mendadak. “Kecuali kalau ada kayak kematian,” tambahnya. Nantinya, jadwal jaga dari satpam yang izin ini akan digantikan dengan satpam yang lain yang sedang libur.
Dalam 31 tahun masa kerjanya sebagai satpam, Samsul mengaku sudah menemui banyak sekali permasalahan. Salah satu yang ia ingat adalah saat dia dan rekan timnya berurusan dengan mahasiswa di asrama Griya Brawijaya.
Sambil mengingat-ingat kembali, Samsul memperkirakan kejadian tersebut terjadi di bawah tahun 2010. Dia menyebutkan bahwa ini terjadi saat asrama laki-laki masih di Griya Brawijaya, belum berpindah ke Rusunawa. “Mereka minum-minum [mabuk] di sini,” ujarnya. Padahal sudah ada larangan untuk tidak boleh minum minuman memabukkan. Karena aturan ini dilanggar, mereka harus mengamankannya. Hal inilah yang memicu perkelahian antara mereka dan mahasiswa itu.
Berbeda dengan Samsul yang berhadapan dengan masalah rumit perihal aturan yang dilanggar, Muslimin lebih sering menghadapi masalah kelistrikan dan kebisingan di Rusunawa. Sambil mengingat-ingat, listrik Rusunawa sering mengalami konsleting listrik karena penggunaan listrik penghuni Rusunawa yang berlebihan. Penghuni Rusunawa pun terkadang terdengar berisik pada jam 10 atau 11 malam saat bermain game online sehingga mengganggu waktu istirahat penghuni yang lain. Untuk mengatasinya, Muslimin akan datang menegur dan baru memberikan sanksi berupa surat peringatan jika sudah sering dinasehati.
Kendati demikian, setelah seluruh kejadian itu, Samsul dan Muslimin masih menjadi satpam hingga hari ini. Bagi mereka, satpam sudah menjadi identitas dan jalan mencari pundi-pundi rupiah. Dalam teduh atap Rusunawa dan Griya Brawijaya yang tak tersorot matahari terang itu, menjadi satpam adalah hal yang bisa mereka syukuri.
Penulis: Nur Istiyanti
Editor: Badra D. Ahmad
