SEPIRING RISOL, SEBULAN RISAU
Fotografer: Nabila Hanifaty
MALANG-KAV.10 Dengung eskalator seakan mengusir sunyi yang terlanjur mengendap di lantai itu. Anak-anak tangganya terus bergerak naik dan turun, hilir mudik tanpa henti seakan mengharapkan kedatangan kaki yang menumpang di atasnya. Sesekali terdengar suara percakapan dari kejauhan, lalu lenyap tertelan oleh suara pendingin ruangan yang disetel ke suhu paling tinggi.
Di antara bunyi eskalator dan pendingin ruangan yang monoton, warna-warni taplak meja yang memancarkan semburat merah bercampur oranye tampak menghidupkan suasana yang hampir mati. Kontras dengan pancaran kebahagiaan dari meja-meja yang dihiasi taplak berwarna cerah, kelabu seakan mewarnai raut muka orang-orang yang duduk di baliknya. Berbagai jenis makanan dan gelas-gelas minuman turut hadir meskipun tidak tersentuh, karena yang mereka butuhkan hanyalah seorang pembeli. Kadang-kadang ada beberapa orang yang berlalu-lalang, melihat-lihat sebentar, bertanya tentang harga, tetapi kemudian pergi.
Risol-risol yang tersusun di salah satu meja pun bernasib serupa. Sejak tadi, kudapan berbalut kulit tepung tipis itu masih berbaris di tempatnya, menunggu tangan yang bersedia membawa satu atau dua di antaranya pergi. Di balik meja itu, ada orang-orang yang turut menunggu bersama mereka.
Tiga Puluh Hari di Balik Meja Penuh Risol
Menunggu bukanlah satu-satunya hal yang harus Mieko (bukan nama sebenarnya) lakukan hari itu. Sejak pukul dua belas siang hingga sembilan malam, meja tersebut menjadi ruang kecil yang harus ia dan enam anggota kelompoknya jaga secara bergantian. Esok hari, mereka akan kembali. Begitu pula lusa dan hari-hari setelahnya.
Rutinitas itu berlangsung sejak 4 hingga 31 Mei. Hampir 30 hari harus dihabiskan Mieko bersama mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) untuk berjualan sebagai bagian dari mata kuliah Laboratorium Kewirausahaan. “Sebenarnya, awal mula dari kenapa kami [mahasiswa Manajemen FEB UB] bisa berjualan seperti ini karena memang diwajibkan untuk memenuhi mata kuliah dari Laboratorium Kewirausahaan,” tuturnya.
Kegiatan serupa sudah menjadi sebuah rutinitas. Mahasiswa tahun sebelumnya juga menjalani praktik berjualan. Bedanya, mereka hanya perlu melakukannya selama dua hari di auditorium. “Kalau yang tahun ini beda. Tempatnya di Transmart, terus waktunya cukup lama, yaitu 30-an hari,” ujarnya.
Tiga puluh hari mungkin hanya terdengar seperti angka. Namun, satu hari terasa berbeda ketika sembilan jam di antaranya harus dibagi antara menjaga dagangan dan menjalani kehidupan sebagai mahasiswa. “Kita kan mahasiswa. [Tidak hanya kegiatan perkuliahan saja,] kadang ada yang aktif organisasi juga. Jadi ya bingung [membagi] waktunya, karena katanya tidak ada dispensasinya,” kata Mieko.
Dengan segala upaya, Mieko dan kawan-kawannya berusaha mengakali waktu dengan membagi jadwal jaga. Ketika satu anggota memiliki jadwal kelas, anggota lain yang sedang senggang menggantikannya. Masalah datang ketika kelas, tugas, dan kegiatan lain bertemu pada jam yang sama, apalagi agenda yang terkadang datang mendadak membuat pembagian jadwal tidak selalu berjalan seperti rencana.
“Aku pernah bertanya kepada dosen, [jika tidak ada yang bisa jaga] apakah boleh tutup? Tetapi dari pihak dosen bilang tidak boleh. Harus buka full [dari jam 12 siang sampai 9 malam selama 30 hari],” cerita Mieko.
Jika seluruh anggota kelompok berhalangan, ada alternatif lain yang sempat menjadi pilihan, yaitu mencari seseorang untuk menggantikan mereka menjaga stan. “Tapi, kalau cari orang ibaratnya seperti mempekerjakan mereka. Jadi nambah uang lagi, kan? Dan kita juga mau pakai uang siapa?” keluhnya seraya menghela napas.
Terlebih, 30 hari itu jatuh pada waktu yang tak cukup bersahabat. UAS semakin dekat, proyek-proyek semester empat pun belum rampung. Organisasi juga tetap berjalan. Sementara meja dagangan mereka tidak mengenal minggu ujian. “Semester empat itu banyak banget project-project-nya. Harus bikin laporan juga. Terus juga udah mepet banget sama UAS,” tuturnya,
Lama-kelamaan, kalender berubah menjadi hitungan mundur. “Awal-awal semangat, tapi tiap hari itu kita seperti menghitung hari. Kapan selesainya ya?” ujarnya demikian.
Terlebih, ada hari-hari ketika mereka hanya duduk di balik meja bersama makanan yang tidak kunjung disentuh pembeli. “Menunggu seperti ini dan tidak ada pelanggan [hanya] bikin capek. Buang-buang waktu juga,” ungkapnya.
Modal dari Kantong, Untung Belum Tentu
Jika waktu adalah satu hal yang harus Mieko korbankan, uang adalah hal lainnya. Kelompoknya, yang terdiri atas tujuh mahasiswa, menjual risol dengan mengusung tema sustainability. Seluruhnya dipersiapkan sebagai praktik mata kuliah dari Laboratorium Kewirausahaan tersebut.
Namun, sebelum satu risol pun dapat dijual, mereka terlebih dahulu harus merogoh kantong sendiri. “Modal berasal dari kita sendiri. Tidak ada [pendanaan] sama sekali [dari pihak kampus.] Jadi ya, rasanya sangat berat,” kata Mieko.
Fasilitas berupa meja telah tersedia. Selebihnya, kebutuhan usaha menjadi urusan masing-masing kelompok. “Cuma dikasih meja-meja saja. Tapi bahan-bahan atau modal itu tidak dikasih.”
Hari-hari pertama penjualan sempat membawa harapan. Pembeli masih datang dan omzet kelompok Mieko mampu menyentuh ratusan ribu rupiah dalam sehari. “Saat hari pertama itu kami bisa dapat uang sekitar Rp400.000 sekian. Kadang juga Rp300.000, Rp200.000, seperti itu,” kenangnya.
Namun, keramaian itu tak bertahan lama, omset terus merosot hingga kurang dari Rp100.000 per hari. Semakin sedikit orang yang datang, semakin lama pula risol-risol itu bertahan di atas meja. Pada akhirnya, mahasiswa menemukan pembeli pada orang-orang yang mengalami nasib serupa. “Yang beli malah kita sendiri,” kata Mieko. “Jadi kami [mampir] ke booth-booth teman buat beli makanan yang dijual sama mereka.”
Bahkan, pada akhir pekan atau tanggal merah, beberapa booth pernah menunggu seharian tanpa menghasilkan satu pun transaksi. “Meskipun hari libur, weekend, atau bulan yang banyak tanggal merahnya, ya tetap saja,” tuturnya.
Bagi Mieko, menjual makanan bukan sekadar perkara dagangan laku atau tidak. Hasil penjualan hari ini dibutuhkan untuk membuat dagangan esok hari. “Kalau jual F&B kan perputarannya cepat, karena buat beli bahan-bahan jualan. Nah, itu pencairannya cukup lama, dua hari. Padahal besoknya kita harus jualan lagi,” jelasnya.
Ketika hasil penjualan belum cair, satu-satunya cara agar meja tetap terisi esok hari adalah kembali merogoh kantong sendiri. “Kalau uangnya tidak berputar, ya kita menambahkan pakai uang sendiri,” keluh Mieko.
Himpitan finansial ini diperparah oleh persoalan potongan dari transaksi yang mereka lakukan. Mieko bercerita bahwa angka potongan yang mulanya dibicarakan bersama pihak Transmart adalah 15%. “Dulu sih bilangnya 15%. Tapi kita sangat keberatan, karena 15% itu besar sekali.” Keberatan tersebut kemudian membawa perubahan. “Lalu, setelah itu diturunkan jadi 2,5%,” tuturnya.
Meski angkanya sudah mengecil, kegelisahan Mieko belum sepenuhnya hilang. Transaksi dilakukan melalui QRIS yang telah disediakan dan potongan dilakukan secara langsung. Persoalannya, ia merasa tidak mendapatkan rincian yang cukup jelas mengenai uang yang dipotong. “Menurut aku, transparansinya kurang. Jadi aku sendiri masih meragukan apakah memang benar dipotongnya 2,5% atau enggak,” katanya.
Bagi orang lain, dua setengah persen mungkin hanya angka kecil. Namun, bagi mahasiswa yang modalnya berasal dari kantong sendiri, penjualannya terus menurun, sementara uangnya harus diputar kembali untuk dagangan esok hari.
Bertahan sebagai Jalan Wirausaha
Di balik segala kerisauan itu, Mieko tidak menampik tujuan yang hendak dicapai dari praktik tersebut. “Sebenarnya berjualan seperti ini berguna untuk melatih skill entrepreneur. Pengelolaan keuangan, uangnya harus masuk seperti apa, [bagaimana] keluarnya, bagaimana menghitung keuntungan, [dan] lain sebagainya,” tuturnya.
Baginya, praktik tersebut membuat ilmu yang sebelumnya dipelajari menemukan bentuknya di dunia nyata. “Ilmu-ilmu yang dipelajari itu lebih diterapkan secara real.”
Dan dari hampir 30 hari menjaga meja, ada satu pelajaran yang akhirnya dapat Mieko bawa pulang. Menjadi pengusaha berarti memahami bahwa tidak selamanya dagangan akan laku. “Aku jadi paham memang orang-orang berusaha, pengusaha tidak mungkin bakal terus di atas. Pasti ada naik turunnya,” ujar Mieko.
Barangkali, itulah pelajaran kewirausahaan yang paling nyata baginya. Pengalaman melihat sendiri bagaimana pembeli bisa ramai pada minggu pertama lalu menghilang pada minggu berikutnya, bagaimana modal harus terus keluar ketika pemasukan belum kembali.
Namun, ketika ditanya apakah seluruh uang, waktu, dan tenaga yang telah ia keluarkan sebanding dengan apa yang diperoleh, Mieko terdiam sejenak lalu menjawab, “sebenarnya tidak sih.”
Setelah hampir sebulan berada di balik meja itu, ia punya kalimat yang jauh lebih sederhana untuk merangkum semuanya. “Aku merasa cuma dapat capeknya saja. Harus mengeluarkan uang, beli bahan-bahan, dan ternyata sepi,” keluhnya.
Maka tujuan Mieko pada akhirnya tidak lagi muluk-muluk. Ia tak berbicara tentang berapa banyak keuntungan yang ingin dibawa pulang atau berapa risol lagi yang harus terjual. Ia hanya ingin sampai di penghujung bulan. Di atas meja, mungkin masih ada risol yang tersisa. Di sekelilingnya, eskalator masih bergerak naik dan turun tanpa lelah. Pendingin ruangan masih berdengung, dan taplak-taplak berwarna cerah juga masih mencoba memberi kehidupan pada lantai yang sepi.
Besok, Mieko mungkin akan kembali duduk di sana. Menunggu pembeli, menunggu uangnya kembali. Menunggu tanggal 31, menunggu sepiring risol yang membawa risau.
Penulis: R. AJ. Afra Aurelia Luqyandysa
Editor: Aulia Hasti Zalika R.
