Ilustrator: Zalfa Qonita

Udara di stasiun terasa begitu pekat. Campuran lembap antara asap solar, aroma beton yang basah, dan bau logam tajam yang entah mengapa selalu mengiringi setiap kala perpisahan. Di sekitar, peron dipenuhi hiruk-pikuk koper yang saling beradu, langkah kaki yang terburu-buru, serta suara pengumuman yang terus bergema dari pengeras suara. Namun, waktu seolah melambat. Segalanya menjadi begitu berat, begitu kental, seakan setiap detik enggan untuk bergerak maju.

Jari-jari Arum mencengkeram erat tali pada tas ranselnya hingga buku-buku jarinya memucat. Ia mengenakan cardigan kuning terang yang ia pilih tadi pagi, tampak mencolok di tengah dinginnya warna abu-abu baja yang menyelimuti stasiun. Matanya menatap Ibunya yang tersenyum padanya, membuat Arum ingin menangis saat itu juga.

Kedua tangan perempuan itu kasar, dipenuhi guratan yang tercipta dari bertahun-tahun bercocok padi dan memasak di dapur sederhana—bertumpu lembut di kedua bahu Arum. Lengan kebayanya telah menipis di bagian pergelangan, menjadi saksi bisu kemiskinan yang selama ini mereka jalani. Kemiskinan itulah yang kini diharapkan dapat dihapus oleh keberangkatan Arum ke kota.

“Kak, hati-hati ya disana. Belajar yang rajin biar nanti jadi orang besar, ya? Biar bisa angkat derajat keluarga.” Ibu Arum berkata dengan penuh harap pada Arum yang berdiri tegap di pintu keberangkatan kereta.

“Ingat,” ucap Ibu pelan. Suaranya lembut, namun cukup kuat untuk menembus lengking rem lokomotif yang berhenti di jalur sebelah. “Disana nanti, jangan pernah lupa dengan rumah. Tapi jangan pula menoleh ke belakang sebelum kakak membawa sesuatu yang layak membuat Ibu bangga.”

Arum menelan ludahnya. Tenggorokannya terasa kering dan perih. Pesan itu sederhana dan memikul tanggung jawab yang besar.

Jangan pulang dengan tangan kosong.

Itu bukan ancaman, bukan pula tuntutan yang diucapkan dengan amarah. Kalimat itu adalah sebuah harapan yang diam-diam dijadikan ukuran keberhasilan hidupnya. Seolah-olah Ibunya sedang mengharapkan satu kemungkinan: seorang anak perempuan yang kelak menjadi penyelamat keluarganya.

Arum mengangguk. Dengan senyuman lebar, gadis itu memberikan Ibunya tatapan penuh percaya diri. “Aduh, Ibu ini. Aku pasti bakal kembali dengan gelar sarjana! Ibu lihat saja, aku akan membuat Ibu bangga. Aku bakal pulang ke kampung sambil bawa nama!” 

Ingatan itu terasa pahit di lidahnya, seperti menelan abu. Kebohongan itu perlahan tenggelam di dalam dadanya, berubah menjadi beban seberat timah. Ia sadar, yang sedang ia janjikan bukan sekadar selembar ijazah atau pekerjaan yang layak. Ia sedang berjanji untuk membayar seluruh pengorbanan Ibunya. Setiap kali perempuan itu melewatkan waktu makan demi menghemat uang, setiap nyeri di punggung akibat bekerja tanpa henti, setiap malam yang dihabiskan dengan rasa cemas dan lelah—semuanya kini dipertaruhkan pada anak gadis sulungnya ini.

Waktu itu Arum masihlah bocah ingusan lugu yang baru lulus SMA. Ibunya hanya tersenyum penuh arti dan memberinya pelukan hangat sebelum melepaskan kepergiannya. Pelukan hangat yang Arum rindukan selama bertahun-tahun. Sayang, Arum tidak memiliki keberanian cukup kuat untuk pulang ke rumahnya sekarang.

Udara di kamar itu pengap. Bau debu yang telah lama mengendap bercampur dengan aroma pakaian yang tak kunjung dicuci, serta anyir logam khas kota yang seolah merembes melalui celah-celah jendela seperti racun yang bekerja perlahan.

Arum berdiri terpaku di hadapan cermin yang tergantung di dinding, cermin murah yang ia beli dari pasar grosir. Ia tidak mengenali rupa perempuan yang menatap balik ke arahnya, begitu kusam dan berantakan. Berbanding terbalik dengan gadis yang bertahun-tahun lalu menaiki kereta meninggalkan kampung halamannya, memiliki mata yang selalu menangkap cahaya. Mata yang dipenuhi janji-janji masa depan. Mata seorang anak perempuan yang percaya suatu hari nanti ia akan pulang membawa gelar sarjana di pelukannya, membawa kehidupan yang berkilau laksana matahari yang memantul di hamparan sawah.

Arum yakin, sosoknya di masa lalu pasti akan membenci melihat bagaimana bentuk dirinya di masa sekarang. Perlahan, pandangannya bergeser ke sudut bawah meja rias. Di sana terselip sebuah foto kecil yang sudah lecek. Ujung-ujung foto itu telah melengkung dan menguning dimakan waktu.

Foto itu memperlihatkan dirinya saat berusia tujuh belas tahun. Tengah berdiri di depan rumah kecilnya dengan pita kuning menghiasi rambutnya yang bergelombang, tebal, dan terawat. Senyumnya begitu lebar hingga nyaris menyentuh telinganya. Arum kembali menatap bayangan dirinya sendiri. Rambut yang dulu tergerai dalam gelombang lembut penuh percaya diri kini menggantung kusam dan kusut masai, terjebak dalam gumpalan berminyak yang Arum tidak pedulikan lagi.

“Bukannya aku nggak mau balik, tapi aku nggak punya muka buat pulang, Bu. Aku nggak sanggup melihat wajah kecewa Ibu.” Gadis itu mengeluh sambil meletakkan foto tersebut dengan perasaan getir. Matanya kembali menelisik tumpukan kertas penuh coretan di atas mejanya. Semester makin tinggi, beban yang ia tanggung semakin berat. Arum merasa muak dengan kehidupan akademiknya. Gelar sarjana dan masa depan cerah kini terasa seperti beban yang menghimpit dadanya. Setiap tugas, setiap ujian, setiap presentasi terasa seperti gunung yang harus didaki tanpa henti, sementara energinya semakin terkuras.

“Yang lain sudah pada maju sidang, cuman aku yang belum. Harus sampai kapan? Ibu pasti kesusahan buat bayar biaya kuliahku.” Arum menggigit ujung jarinya cemas, kepalanya pusing sekali.

Pikiran gadis itu kembali pada waktu terakhir kali ia pergi menemui dosen pembimbingnya. Kertas-kertas miliknya dibuang ke tempat sampah tepat di hadapan semua orang, dengan lontaran ujaran yang mengiris hati Arum yang ketakutan. Banyak coretan berakhir di atas lembar-lembar proposalnya, dosen itu menyebut Arum sebagai mahasiswa bodoh dan seharusnya malu karena memerlukan waktu lebih lama untuk lulus.

“Kamu ini sebenarnya mahasiswa atau bukan? Menyusun proposal bab pertama saja berantakan, nggak becus. Kamu mau lulus atau tidak?!” bentaknya kasar yang membuat Arum terdiam.

Dulu, ia membayangkan perkuliahan sebagai gerbang menuju ilmu pengetahuan yang luas, namun kini yang ia rasakan hanyalah tekanan tanpa henti. Persaingan yang ketat, tuntutan nilai yang tinggi, dan materi kuliah yang semakin kompleks membuatnya merasa tenggelam. Teman-temannya kian menipis, Arum merasa tertinggal dan sendirian. Tidur menjadi sesuatu kegiatan yang mewah, dan setiap bangun pagi adalah pertarungan baru melawan rasa putus asa. Ia sering bertanya-tanya, apakah semua ini sepadan dengan pengorbanan yang telah ia dan keluarganya lakukan?

Di sisi lain, kondisi finansial keluarganya di kampung tak kunjung membaik. Setiap telepon dari Ibu selalu diiringi cerita tentang sawah yang gagal panen, harga pupuk yang melambung, atau biaya pengobatan adik yang sakit. Arum tahu, ia adalah satu-satunya harapan. Harapan yang kini terasa begitu berat, hampir mustahil untuk dipenuhi. Ia merasa terjebak dalam lingkaran setan antara tuntutan akademis yang tak berujung dan beban ekonomi keluarga yang tak terhindarkan.

Arum hanya meringis dan kembali menatap pantulan wajahnya di cermin. Mata yang menatap balik itu terasa asing. Kosong dan gelap. Seperti dua lubang tanpa dasar yang tidak lagi memantulkan seorang manusia, melainkan sebuah kehampaan. Di tengah keheningan itu, ponselnya bergetar pelan di atas mejanya. Sebuah pesan dari ibunya muncul di notifikasinya.

“Nak, bagaimana kuliahmu di sana? Ibu dengar kota itu sedang sejuk-sejuknya bulan ini. Jangan terlalu memaksakan diri, ya. Kamu makan dengan teratur, kan?”

Layar ponsel menyala, memancarkan cahaya hangat yang justru terasa begitu kejam di tengah kamar mandi yang kusam. Cahaya itu menimpa dinding yang mengelupas, noda-noda lembab di sudut ruangan, dan rambut-rambut hitam yang berserakan di lantai. Arum menatap pesan itu lama sekali. Dalam benaknya, ia dapat melihat wajah ibunya dengan begitu jelas—mata yang sedikit menyipit di balik kacamata saat membaca kembali setiap kata sebelum dikirim, senyum lembut yang selalu dipenuhi kebanggaan, dan keyakinan yang tak pernah goyah bahwa putrinya sedang berada jauh di sana, perlahan menapaki tangga kehidupan menuju masa depan yang lebih baik.

Jempol Arum menggantung di atas tombol bertuliskan “balas”. Ia hanya perlu mengetik dua kata yang mudah dan sederhana, cukup untuk menjawab pesan kecil dari Ibunya.

“Aku baik-baik saja, Bu.”

Lagi pula, berbohong bukanlah sesuatu yang asing baginya lagi. Sudah berbulan-bulan ia hidup dari kebohongan-kebohongan kecil yang terus menumpuk, tentang akademiknya, tentang hari-hari yang katanya berjalan baik. Namun kali ini, kata-kata itu terasa mustahil untuk dituliskan. Semakin lama ia memandangi cahaya piksel yang memenuhi layar, semakin pekat keheningan memenuhi ruangan.

Jari Arum terasa berat untuk mengirimkan pesan singkat itu, ia tak sanggup. Matanya mulai memanas, ia tidak tega terus membohongi harapan ibunya dengan kebusukan kenyataan yang sedang ia jalani. Perlahan ia meletakkan kembali ponselnya di atas meja, lalu melangkah menuju jendela. Dahinya menempel pada kaca yang dingin. Dari sana, kota membentang sejauh mata memandang, terhampar lautan cahaya yang indah dan jalan raya yang berkilauan. Pemandangan itu begitu indah, sayangnya Arum sudah tidak punya cukup tenaga untuk memedulikan itu semua.

Malam semakin larut. Langit menggantung sunyi di atas kepala Arum seperti kain hitam raksasa yang menelan seluruh keluhannya yang gagal sampai ke langit. Bintang-bintang berkelipan dengan acuh, sementara Sang Chandra tetap berdiri megah tanpa peduli pada kumpulan insan yang menangis di bawah cahayanya.

Arumika Harum berumur dua puluh sekian saat dimatikan oleh ekspektasi dan harapan orang-orang akan dirinya sendiri. Masa muda yang begitu muram, ia diburu ragu yang diikuti rasa takut yang kian menumpuk dengan mudahnya di kepala mungilnya. Tubuh ringkihnya terus-terusan dipaksa kokoh dengan keadaan. Suara-suara bising itu perlahan mulai berhenti membisikkan kata-kata yang sudah muak ia dengarkan. 

Di sebuah desa kecil, seorang wanita paruh baya menangis pilu sambil memeluk peti mati anak gadisnya. Anak semata wayang yang ia rindukan kini pulang membawa nama, seperti apa yang dijanjikannya dulu.

Penulis: Andini Daniswari Wibowo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.