MEMANDANG KITA BERDUA DALAM KEBIRUAN YANG PEKAT

0
5114a75548fdb28e885f4a646895b71a.1000x1000x1 (1)

Sumber: https://genius.com/albums/Dongker/Melankolia-radikal

Kata pepatah Jawa, witing tresno jalaran soko kulino. Mungkin kita belum akan menyadari bahwa suatu hal yang biasa berinteraksi dengan kita akan bergeser menjadi suatu keberadaan yang paling kita cintai. Perasaan-perasaan semacam itu bisa saja bertumbuh dari kekosongan—karena kita terbiasa menjalaninya begitu. Demikian saya jatuh hati pada album Melankolia Radikal yang dirilis Dongker pada 28 Agustus lalu.

Kalau kata seorang teman, lagu-lagu Dongker sebenarnya jelek, tapi enak. Saya mengangguk sepakat saat dia mengatakan itu. Butuh waktu yang cukup lama bagi telinga saya untuk mencerna warna lagu mereka yang tak familiar. Saya hanya mendengar beberapa saja yang ramai didengar seperti “Merusak Kesenangan” dan “Bertaruh pada Api”. 

Sebelum Melankolia Radikal rilis, Dongker sudah menurunkan beberapa trek di dalamnya. Antara lain “Takbir Terdengar Kejam”, “Lautan Bunga Warna Terang”, dan “Lagu Selepas Hujan”. Lagu-lagu itu lebih dulu meledak dengan mudah, terlebih pasca “Disarankan di Bandung” menghiasi beranda medsos dengan video orang-orang muda fitcheck dan sebagainya. Dari sana saya menjadi cukup sering mendengar lagu mereka secara tak langsung. Itu pun hanya potongan reff-nya saja.

Saat teman saya terus menanyakan apakah sudah mendengar trek yang ini dan itu, saya selalu menjawab, “Oiya, belum,” sambil nyengir. Begitu terus sampai akhirnya album penuh itu benar-benar rilis bertepatan di setahun kematian Affan Kurniawan. Seakan mendapat wahyu, rilisan itu menyempurnakan perkenalan saya dengan Dongker yang sebelumnya tertunda. 

Tanpa disangka, Dongker piawai menjadikan album ini masuk daftar teratas on repeat beberapa bulan ke depan. Maka baiklah kawan-kawan, sebelum melanjutkan membaca, ada baiknya kita sempatkan waktu beberapa detik untuk lari ke kanal DSP (Digital Service Provider) terdekat dan menyetel album ini sekeras-kerasnya!

Dongker menghadirkan sebelas trek dalam album ini. Dan seperti witing tresno jalaran soko kulino, album ini membuat saya perlahan jatuh hati dengan Dongker secara utuh. Saya menjadi terbiasa dengan genjrengan gitar yang “raw“, umpatan-umpatan, melodi yang serampangan, dan koherensi antarbaris yang loncat-loncat. Hari ini bilang cinta, beberapa menit selanjutnya bahas negara. Sekilas, cinta dan kesadaran politik layaknya dua sumbu yang tak bisa membara bersama. Beruntungnya Dongker bisa menyiasatinya.

Cinta yang digadang-gadang pun tak muluk-muluk. Dongker mengemas keromantisan klise menggunakan frasa “kita berdua”. Tidak ada yang spesial memang bila kita mendengarnya secara awam. Letak magisnya adalah ketika mereka menggandengkan “kekita-berduaan” itu dengan keresahan dan kemarahan pada negara, kesialan dan segala penderitaannya, dan hal-hal tak beruntung lainnya.

Misalnya pada trek pertama “Selamat Malam Tuhan”. Lagu ini semacam hendak mengatakan, “akan kulawan dunia asal denganmu”. Sungguh perayaan cinta yang biasa saja dan tidak estetik. Namun mereka ingat satu-satunya kemewahan yang tertinggal: kita masih punya mimpi dan cinta. “Melihatmu yang cantik di mimpiku. Kita bercumbu mesra, bernyanyi berdua” dan layaknya kelinci di topi pesulap, penderitaan itu tak punya arti.

Perihal derita ini kemudian berlanjut saat mereka bergulat dengan masa lalu. Pada “Kukubur Trauma”, ada rumah yang dirindukan hangatnya. Ruang kerja yang memecahkan kepala. Dongker menyebutnya: “semua orang gila. ayah ibuku juga“. Saat Dongker bilang “Oh, masa lalu, ceritakan padaku, tentang pahitnya…”, saya teringat dengan reff rumahsakit – Kuning: “ceritakan padaku, indahnya keluh kesahmu…“. Barangkali keduanya berangkat dari premis serupa: betapapun kehidupan brengsek, kita masih bisa saling bercerita. Cinta kembali jadi redam atas hidup yang luar biasa brengseknya. Segalanya diiringi dengan bunyi monitor ICU yang berkejaran di sepanjang lagu, seperti mengeja kematian yang tinggal beberapa hitungan.

Pada trek ketiga, Dongker mengizinkan kita untuk merasa lelah sambil mengucap serapah. Kita boleh memaki penguasa. Kita boleh tidak kuat saat bermusuhan dengan dunia dan tak harus menjadi pemenangnya. Maka satu-satunya yang bisa menyelamatkan keresahan itu adalah melakukan hal paling normal selayaknya sepasang kekasih: berpelukan. Sayangnya, kehangatan itu hanya menjelma ironi “Metafora Berpelukan”.

Penderitaan selanjutnya bergeser dalam bentuk penyesalan. Saat kebanyakan orang melihat takbir sebagai kemenangan, lagu ini memandangnya dari mata yang tak dapat meraihnya. Tentu “Takbir Terdengar Kejam” diciptakan bagi sesiapa yang menunda pulang di hari raya. Pada lagu ini, kita diajak berpikir ulang dan mempertanyakan kembali tentang iman dan nasib, juga keputusan-keputusan bodoh yang disebut dosa yang amat liar.

Lirik-lirik spirituil nan nihilistik kembali disinggung pada trek “Nirmajinasi”. Saya menduga “buku binatang yang melawan” ini merujuk pada buku Animal Farm. Lalu “Benarkah mereka ada. Atau dibunuh manusia?” barangkali sedikit mencolek teks fenomenal Friederich Nietzsche tentang “Tuhan telah mati dan kita telah membunuhnya”. Adapun pembunuhan itu dimanifestasikan saat Cholil Mahmud menyambut bait selanjutnya dalam trek ini: saat sumber-sumber pengetahuan dibakar dan para martir mempertaruhkan nyawa.

Selanjutnya, saya ucapkan selamat pada Dongker karena “Nyaris Sempurna, Sedikit Cacat” justru menunjukkan rangkaian nada yang membuat telinga tergelak. Lagu ini dengan tegas menyinggung keblunderan pejabat saat menanggapi hajat hidup orang banyak, juga keasbunan presiden ke-7 yang diduga menjadi wajah di balik sampul album ini (walaupun sebenarnya itu bukan wajah dia). Sejujurnya lagu ini enak-enak saja. Sayangnya saya iritasi betul saat “Saudara-saudara…” mulai menggaung. Maaf-maaf saja kalau saya sering mendengarkan lagu ini hanya sampai setengahnya.

Akhirnya kita sampai pada trek yang menurut saya menjadi napas utama di keseluruhan album ini. Dongker sungguh sialan karena berhasil membuat saya menggila dari sejak pertama kali mendengar “Kisah Sedih Kontemporer (Air & Api)” hingga berulang-ulang berakhir di detik ke 3:27. Lagu ini kembali membuat saya benar-benar ingin jatuh cinta seliar-liarnya. 

Pada lagu ini Dongker menghadirkan cinta yang gila dan naif secara harfiah. Cinta yang terus mengalir walau negara tengah porak poranda. Cinta menghidupi harapan yang panjang meski umur tak ada yang tau. Bermodalkan cinta yang panas dingin dan tidak logis itu, kita pasti bisa melewatinya. Sebuah optimisme yang naif. Menuju akhir lagu, Dongker mengemas Naif – Air dan Api, menjadikan trek ini semakin manis dan nostalgik. Sial, apalagi jika didengarkan dengan orang yang bisa sama-sama mengecap manis-pahitnya! 

Oke, semakin berlanjut, Dongker semakin menunjukkan kegilaan bercinta. Pada trek kedelapan, tanggapan saya hanya, “iki lagu oposeh cok?” —secara positif. “Lautan Bunga Warna Terang” lagi-lagi berupaya menjadikan cinta sebagai pelarian diri atas dunia yang tak terselamatkan kebobrokannya. 

Dengan keberulangan premis itu, apakah kita akan segera dibuat bosan? Dengan lantang saya menyangkal. Nah, jangan terburu-buru. Coba pertimbangkan tiap fragmennya: “revolusi Pati, lalu berusaha hidup lagi, menatapmu di pantulan nafsu”, dan seterusnya. Lagu ini mendambakan keselamatan hidup dari keterputusasaan. Tapi apa benar hanya dengan begitu kita bisa selamat? Di tengah jalan, pelarian itu berubah jadi keraguan, “apa kita berdua benar-benar saling cinta?“. Ah, peduli setan. Lagi-lagi, segalanya adalah hal-hal yang gila!

Trek “Penyesalan > Kelahiran” menjadi trek yang memusikalisasi puisi-puisi tragis. Mereka mengadopsi “Nasib terbaik adalah yang tak lahir“ milik Soe Hok Gie dan puisi picisan Chairil Anwar “Aku ini binatang jalang / Dari kumpulan terbuang“. Sebab untuk apa lahir di dunia, bila kita tak bersama? 

Kegilaan ini sedikit mereda pada lagu “Lamunan Ringan di Singapura”. Dengan gitar yang lembut, tanpa dentum drum yang energik, Dongker memilih kolaborator yang tepat untuk membawakan lagu ini. Banda Neira menghadirkan spektrum yang teduh. Kita diajak mengenang momen-momen hangat dengan orang yang kita kasihi: bertukar kabar, bercerita hal-hal remeh, yang uniknya selalu ingin kita ulangi. Satu kali lagi dan selamanya.

Maka sampailah kita pada penutup album ini. Hujan dan rindu tampaknya selalu jadi satu kesatuan dalam puisi-puisi yang dibuat oleh semua orang. “Lagu Selepas Hujan” melanjutkan manifestasi cinta yang sudah kita akrabi pada trek-trek sebelumnya. Kali ini Dongker mengeluhkan lubang aspal, tata letak kota, lonjakan bahan bakar minyak, terakumulasi dalam dunia yang segera runtuh. Sebab hidup memang bukan pilihan!

Pada akhirnya, sesekali memang, Cinta adalah sublim: sebuah rasa yang melebur dengan melankolia. Dongker terbiasa merayakan wujud keindahan itu dalam lagu-lagunya. Saat negara membuat perayaan cinta begitu sulit, Melankolia Radikal memberi kita kesempatan untuk melarikan diri dengan sisa cinta yang kita punya. Bukan mencari cinta mewah dan sempurna, pada suatu waktu kita hanya perlu cinta yang ditemukan di sela-sela reruntuhan itu. Cinta yang tak selalu merona merah tetapi juga membiru.

Penulis: Adila Amanda (Kontribusi Pembaca)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *