KUMPULAN PUISI DARI FRAGMEN: RAMAI

Tehnya Tidak Kuminum
Saat kamu ada,
aku keluhkan tawamu yang bagai tikus.
Nyaring, menyebalkan,
menggelegar,
terkadang sambil menampar,
mendorong.
Syukurnya tidak menggigit.
Hingga suatu masa,
Heningmu kali ini,
jauh lebih ramai.
Ramai oleh tangisku
ramai penyesalanku,
ramai gerutuanku,
ramai pikir kalutku.
Teh dingin ini,
harusnya buatanmu,
bukan buatan Aruni.
Meminum teh buatanmu,
sama saja mengecup dirimu.
Aku tak mau mengecup
selain pasanganku.
Ramaimu adalah anugerah, Sayang.
Ramaiku adalah petaka.
Apa kau juga menangis di sana?
Merindukanku mungkin?
Apakah surga indah, Sayang?
Karena neraka di sini,
membuat air mataku kering.
Teh Aruni,
kubiarkan dingin,
kuramaikan dengan sedih.
Harapku kau menghampiri,
dalam wujud apapun.
Peluk aku.
Aku tak kuat.
Teh Aruni,
kuramaikan dengan isak.
Semoga kau tergugah,
untuk bangkit dari kubur,
membawaku bersamamu.
Sayang, datanglah.
Aku sudah siap.
Penulis: Nur Istiyanti
Insting Pemangsa
Sunyi di kala bising
Bising di kala sunyi
Aku suka sunyi
Sejak tahu kamu bising
Di kala sunyi
Nadiku yang lebih dulu hafal arahmu
Menggerakkan pandanganku untukmu
Indra pendengar seolah berkhianat padaku
Fungsinya melebur saat ia menangkapmu
Saat suaramu membelah ruang
Kedua indra berebut fokus
Hanya untuk menguncimu
Kamu tahu?
Kalau bisa aku ingin menerkammu
Hingga di ujung pandangmu
Hanya aku seorang
Penulis: Na’ilatul Najmi Alifsya
Koalisi Semut
Semut semut kecil
Merah berapi hitam warnanya
Tiada pernah lunglai berjumpa semangat
Sebenarnya apa yang kau lawan?
Syahdan, Kepada waktu kau akan mengukur
Setiap jalan adalah hidup
Sementara kau gadaikan dirimu
Aku tahu,
Kau bukanlah makhluk egois
Kian rupanya bumi berayun di bawahmu
Disana kau letakkan keabadian
Aku tahu,
Kau selalu pada genderang seia sekata
Alat musiknya adalah kalian
Ramai dan merdu
Penulis: Fudhail Najmuddin Almuzakki
Kacamata, Pustaka
terpatri dan kelu; indahmu
menjadi terang di tengah ramai,
mewarta anggun di tepi damai:
dan waktu di ruang remang
mulai menahbiskannya semena-mena;
gundahlah aku di ambang latensi
yang membentuk diri—
seperti hasrat yang memodelkannya
sebagai ibu; lalu liyan
segera mencabutku dari organ fatalis—
yang membangunku dengan simbol-simbolnya;
lantas membuatku telanjang
dalam aku yang tak sepenuhnya aku;
kalakian memaksaku berkelana
dan menemukanmu menjadi:
aku; kau. kua. auk. amuk. muka; kamu.
kita. perpustakaan. jalan. tatap. mata.
harap. segelintir. ucap. lalu. pamit.
hilang. mengejar. lungkrah. pasrah.
harap (2). perpustakaan. jalan. tangan. ramai
menggenggam. yakin. sorai. riuh. hujan
tetes. tangis. janji. rengkuh. hangat.
harap (3). perpustakaan… hubb… sepi…
mati…
Penulis: Muhammad Tajul Asrori
(Ramai) di dalam Kurung Sepi
Dahulu,
eksistensiku hanyalah sebuah palsu yang absolut
Dihakimi sebagai vakum, dikotaki sebagai racun
Sebuah palung tak berpenghuni yang mereka sebut: Nestapa.
Padahal, aku hanyalah sebuah bejana kosong ( )
Yang menolak diisi oleh retorika murahan dunia
Sebab hanya kau yang punya cukup untuk memenuhi rongganya.
Bentukmu adalah resolusi dari segala ramai yang pernah kutolak
Kekacauan; di mana namamu adalah satu-satunya riuh yang berdaulat
Hingga tak tersisa ruang untuk sebuah “aku” yang sendu.
Kita berbagi sunyi, ya.
Sunyi kita yang bentuknya menjelma padat
Di antara spasi (…..) yang kita ciptakan saat jemari-jemari ini menari
Aku tak butuh dunia yang riuh dengan suara
Jika di dalam kepala, sudah kutemukan kerumunan paling nyaman;
adalah kamu.
Penulis: Aulia Hasti Zalika R.
