KUMPULAN PUISI DALAM FRAGMEN: DIALOG

Sampaikah Sinyal Itu?
Telepon kaleng
Sepasang untuk satu orang
Mungkin setiap kepala
Menyimpan satu
Sekadar menaruh separuh kaleng
Tak ada yang sederhana
Meski perlu tali panjang
Talinya kerap bergetar
Setiap napas memasuki rongga
Entah waktu yang enggan bergerak
Atau sinyalku yang berhenti di jalan
Bergetar pun, suaranya tak jelas
Penulis: Na’ilatul Najmi Alifsya
Biru
“Aku suka warna biru“
Ucapku tersenyum
“Kau sudah mengatakannya lebih dari seribu kali!”
Balasmu sambil tertawa
Hal-hal kecil tentang diriku sudah tersimpan apik di ingatanmu.
Tentang diriku yang lebih suka langit biru daripada senja.
Tentang baju kesukaanku yang selalu berwarna biru.
Tentang diriku yang selalu memilih biru tanpa alasan yang jelas.
Aku mengira,
percakapan sederhana ini tak akan pernah usai.
Sampai suatu hari,
kita berdiri berhadapan,
Tetapi kehilangan kata pertama untuk berbicara.
Sekarang,
Percakapan yang telah usai bersamamu,
Kembali menjadi pertanyaan yang harus kujawab berulang dengan orang baru
“Kau suka warna biru?”
Penulis: Nayla Zulva Al-Ulya
Monolog
“Aku
ㅤ ㅤcinta
ㅤㅤ ㅤ ㅤㅤKamu.” Saat aku tak cinta aku?
“Kenapa
ㅤ ㅤㅤtidak
ㅤㅤ ㅤ ㅤㅤboleh?” Karena aku adalah aku?
“Lupakan.
ㅤㅤ ㅤㅤAku
ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤmenyayangimu.” Benarkah?
“Ya.
ㅤ ㅤㅤItu
ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤsalah?” Mungkin?
“Mungkin?” Mungkin.
Karena gila rasanya.
ㅤㅤㅤAku berkicau sendiri.
Sementara ragamu di bawah batu.
ㅤ ㅤTak enak bicara dengan batu.
Kapan ya aku menyusul?
“Mungkin
ㅤ ㅤㅤsebentar
ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤlagi.”
Penulis: Nur Istiyanti
Tutorial Memahami, dong?
saya tidak pernah bisa memahami mereka
yangbicarapanjanglebarsepertikeretakemudianmulutnyaberbusa
mereka pula tidak bisa memahami saya
yang ㅤㅤㅤㅤbicaraㅤㅤㅤㅤ duaㅤㅤㅤㅤ patahㅤㅤㅤㅤ kata
atau kami yang memang tidak pernah saling
memahami
lalu bergunjing
membicarakan masing-masing dari terjemahan pribadi
lalu siapa yang salah?
kami pun tidak bisa saling menyalak
tidak akan yang paham
salah satu hanya dicap pekak
dan apa fungsi bahasa?
dalam Sumpah Pemuda
BahasaIndonesiaBahasaPersatuan
dan kami memang pakai
tetapi k e s e p a h a m a n tak terangkai
ah, mungkin kami hanya tidak ingin
terlalu sering bermain dalam pikiran
… sendiri
Penulis: Elvaretta Rahma Devina
Ketahuilah, Dirimu SAKIT
Sesapan kopimu tak tentram lagi.
24 jam lampau berbunga tidur kelam.
Kini beserta kopi; kamu mesti beranjak gerak….
“Hari ini kau tumbuh?”
“Hari ini kau jatuh?”
Mungkin,
kepalamu memuat berlimpah hal–
Muak.
Sisi bocah kecil,
tak becus merampungkan hal kecil
Matang usiamu
…tapi hanyalah ragamu membesar
ah..,
“Hari ini kau tertawa?”
“Hari ini kau tampak?”
Guna mereka paham kamu tersua.
Mereka serupa…
(tanpa yang istimewa)
dan dirimu berjerih-payah menyamankan diri (eh)
—bergabung orang asing!?
ㅤㅤㅤㅤ‘HAH.’
ㅤㅤㅤㅤ‘nyatanyalah,
ㅤㅤㅤㅤkau sakit.’
Penulis: Khoiriyah Balqis
