KUMPULAN PUISI DARI FRAGMEN: RAMAI

0
Crowd karya Robert Hettich 

Tehnya Tidak Kuminum

Saat kamu ada,
aku keluhkan tawamu yang bagai tikus.
Nyaring, menyebalkan,
menggelegar,
terkadang sambil menampar,
mendorong.
Syukurnya tidak menggigit.

Hingga suatu masa,
Heningmu kali ini,
jauh lebih ramai.
Ramai oleh tangisku
ramai penyesalanku,
ramai gerutuanku,
ramai pikir kalutku.

Teh dingin ini,
harusnya buatanmu,
bukan buatan Aruni.
Meminum teh buatanmu,
sama saja mengecup dirimu.
Aku tak mau mengecup
selain pasanganku.

Ramaimu adalah anugerah, Sayang.
Ramaiku adalah petaka.
Apa kau juga menangis di sana?
Merindukanku mungkin?
Apakah surga indah, Sayang?
Karena neraka di sini,
membuat air mataku kering.

Teh Aruni,
kubiarkan dingin,
kuramaikan dengan sedih.
Harapku kau menghampiri,
dalam wujud apapun.
Peluk aku.
Aku tak kuat.

Teh Aruni,
kuramaikan dengan isak.
Semoga kau tergugah,
untuk bangkit dari kubur,
membawaku bersamamu.
Sayang, datanglah.
Aku sudah siap.

Penulis: Nur Istiyanti

Insting Pemangsa

Sunyi di kala bising
Bising di kala sunyi
Aku suka sunyi
Sejak tahu kamu bising
Di kala sunyi

Nadiku yang lebih dulu hafal arahmu 
Menggerakkan pandanganku untukmu
Indra pendengar seolah berkhianat padaku
Fungsinya melebur saat ia menangkapmu

Saat suaramu membelah ruang
Kedua indra berebut fokus
Hanya untuk menguncimu

Kamu tahu?
Kalau bisa aku ingin menerkammu
Hingga di ujung pandangmu
Hanya aku seorang

Penulis: Na’ilatul Najmi Alifsya

Koalisi Semut

Semut semut kecil
Merah berapi hitam warnanya
Tiada pernah lunglai berjumpa semangat
Sebenarnya apa yang kau lawan?

Syahdan, Kepada waktu kau akan mengukur
Setiap jalan adalah hidup
Sementara kau gadaikan dirimu
Aku tahu,
Kau bukanlah makhluk egois

Kian rupanya bumi berayun di bawahmu
Disana kau letakkan keabadian
Aku tahu,
Kau selalu pada genderang seia sekata
Alat musiknya adalah kalian
Ramai dan merdu

Penulis: Fudhail Najmuddin Almuzakki

Kacamata, Pustaka

terpatri dan kelu; indahmu
menjadi terang di tengah ramai,
mewarta anggun di tepi damai:
dan waktu di ruang remang

mulai menahbiskannya semena-mena;
gundahlah aku di ambang latensi
yang membentuk diri—
seperti hasrat yang memodelkannya

sebagai ibu; lalu liyan
segera mencabutku dari organ fatalis—
yang membangunku dengan simbol-simbolnya;
lantas membuatku telanjang

dalam aku yang tak sepenuhnya aku;
kalakian memaksaku berkelana
dan menemukanmu menjadi:

aku; kau. kua. auk. amuk. muka; kamu.
kita. perpustakaan. jalan. tatap. mata.
harap. segelintir. ucap. lalu. pamit.
hilang. mengejar. lungkrah. pasrah.

harap (2). perpustakaan. jalan. tangan. ramai
menggenggam. yakin. sorai. riuh. hujan
tetes. tangis. janji. rengkuh. hangat.
harap (3). perpustakaan… hubb… sepi…
mati…

Penulis: Muhammad Tajul Asrori

(Ramai) di dalam Kurung Sepi

Dahulu,
eksistensiku hanyalah sebuah palsu yang absolut
Dihakimi sebagai vakum, dikotaki sebagai racun
Sebuah palung tak berpenghuni yang mereka sebut: Nestapa.

Padahal, aku hanyalah sebuah bejana kosong ( )
Yang menolak diisi oleh retorika murahan dunia
Sebab hanya kau yang punya cukup untuk memenuhi rongganya.

Bentukmu adalah resolusi dari segala ramai yang pernah kutolak
Kekacauan; di mana namamu adalah satu-satunya riuh yang berdaulat
Hingga tak tersisa ruang untuk sebuah “aku” yang sendu.

Kita berbagi sunyi, ya.
Sunyi kita yang bentuknya menjelma padat
Di antara spasi (…..) yang kita ciptakan saat jemari-jemari ini menari

Aku tak butuh dunia yang riuh dengan suara
Jika di dalam kepala, sudah kutemukan kerumunan paling nyaman;
adalah kamu.

Penulis: Aulia Hasti Zalika R.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.