AKHIRKU ADALAH MATI DAN PUISI LAINNYA

Akhirku adalah Mati
Jika tidak ada bibir yang mencumbuku,
biarlah nisan dari pemahat kayu
di pinggir jalan itu
yang membungkamku
di hari kematianku.
Atau biarlah tanah
yang lembab, bercacing
berkompos
menyeruak masuk
dalam mulutku.
Atau sedikit kapas beraroma kapur
yang mewangikan tubuhku
yang elok
yang cantik
yang menjadi objek
pemuas laki-laki.
Jika hidupku berakhir tanpa cinta,
berakhirlah bersama maut
yang ditakuti banyak orang itu.
Bahwa di dunia fana sekalipun,
mati lebih menyenangkan
daripada hidup dalam penyiksaan
mencari belas kasih
dan juga keadilan.
Iblis, Tuhan, dan Aku
Iblis merengek,
memintaku berhenti.
“Darahmu hina menyentuh neraka.”
Maka aku bilang padanya,
“Tahan saja rohku.
Sakit ini saja yang menyiksaku.
Apimu tidak ada apa-apanya.”
Tuhan pun datang,
“Bagaimana jika Kujanjikan engkau surga?”
“Tidak, Tuhan.”
Aku menghela napas.
“Kasih-Mu fana sebagaimana surga-Mu.
Sakitku bahkan lebih nyata
dari keabadian
yang Engkau firmankan.”
Tuhan lalu terdiam.
Iblis mulai menangis.
Hamba Tuhan yang kesakitan.
Jahatnya ia
menandingi jahatnya Iblis,
karena dia melakukannya
pada dirinya sendiri.
Pendosa Bertanya
Untuk bisa hidup sampai sekarang,
hatiku harus mati, berkali-kali,
dalam sepi dan sakit,
nyeri dan darah,
dosa dan neraka.
Semua ini karena agama.
Kukritik Tuhan, kupenggal Iblis.
Kupertanyakan surga yang abadi,
neraka yang panas,
shiratal mustaqim,
akhirat,
dan matahari
sejengkal dari kepala.
Bahwa pada akhirnya,
manusia pendosa sepertiku
berhak bertanya,
berhak kesakitan
karena pertanyaan itu.
Bukan karena aku bebal,
tapi karena aku ingin hidup
dengan hati yang sakit
akan paradoks agama
yang tak ada habisnya.
Seakan Tuhan menutup
jalan pikir manusia,
dan Iblis menggiringku
bagai kambing yang siap dipenggal.
Penulis: Nur Istiyanti
