KUMPULAN PUISI DALAM FRAGMEN: BERSAMA

Ingat Posisi Ini saat Kau Ingin Bersamaku!
woy!
(…) di tempat
jangan di depanku!
tubuh ㅤㅤ gempalㅤㅤ biasa ㅤㅤㅤkurus
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ atau ㅤㅤㅤatau ㅤㅤㅤ -mu itu membuatku
ragu untuk memulai,
mengambil langkah baru
karena lebih was-was
tiba-tiba kamu kentut
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ(suara kentut yang disensor)
dan aku harus menunggu
selesai di kamar mandi
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ….. bosan
jangan di belakangku!
aku bukan pemandu
yang bisa mengerti kalau
kau sedang mencebikkan bibirmu
ㅤㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ heung heung (merasa imut)
karena tak setuju
dengan keputusanku
ㅤㅤㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤ bruk! bruk!
ketika kepalaku
melihat ke arahmu
kulihat seekor ikan buntal
berguling ke sana-
kemari sambil mangap
ㅤㅤㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤO…O…O (bentuk mulutmu)
maka, di sampingku saja
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ(…)
tak perlu saling menggenggam
tanganku berkeringat
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ha ha ha (aku bercanda)
khawatir kamu tidak nyaman
cukup bicara saja
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤyap yap yap
dan aku akan menyesuaikan
langkah kita
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤtap tap tap
terlihat damai ‘kan
kehidupan?
Penulis: Elvaretta Rahma Devina
Jika Besok Akhir Dunia
Aku
ingin diri
kita bersama,
meski dunia ini fana,
zaman sebelum kiamat,
yang digambarkan Al-Qur’an-ku
dan Al-Qur’an-mu. Aku
siap merengkuhmu,
hari ini juga, detik
ini juga, seakan
besok akhir
dunia.
Dan kita runtuh, jatuh sebagai si hina.
Tidak
peduli Tuhan
kita sama-sama
melarang, kurasa Tuhan
pun salah. Rasa yang Ia ciptakan
memeluk hatiku, memeluk
dirimu, memeluk kita
berdua. Tuhan kita
adalah dalang.
Kita bisa
apa?
Tuhan begitu cerdik dan licik, Sayang.
Bahkan
jika kita mati
dalam maksiat,
sebagai pendosa,
akan kuminta Tuhan
memasukkan kita dalam
neraka yang sama, jika surga
bukanlah tempat abadi
kita di masa
yang akan
datang.
Neraka akan nikmat jika bersamamu.
Aku
bertanya
pada Tuhan
karena aku manusia,
dan karena aku kekasihmu.
Kurasa Iblis akan bersua,
“Hamba-Mu ini, lebih
bengis dari segala
setan yang
pernah
kuutus.”
Karena aku memilih abu-abu.
Senang rasanya mencintaimu,
karena aku merasa lebih dekat
kepada Tuhan kita yang baik,
sekaligus Iblis kita yang jahat.
Penulis: Nur Istiyanti
Dua Kali
Titik terang yang dulu disimpan
Berevolusi jadi titik luka
Barangkali ini upah menanti sebuah titik
yang tak pernah jadi titik kumpul
Lagi, Mei mengusikku dengan titik itu
Padahal kalender sudah berganti
Bukankah itu keterlaluan? Dua kali?
Ada yang berat dalam diriku
Atas disebutnya nama lulusku
Lalu, dengan wajah yang sama,
ia kembali melemahkan pijakku di ambang persembahan terakhir
Aku hanya menatap titik terang yang kembali kepada-Nya
Sebuah titik, yang masih kucari komanya,
Penulis: Na’ilatul Najmi Alifsya
Hari Kalian Tinggal
Hari-hari berjalan,
dan tanpa sadar
kalian tinggal
di sela-sela hidup yang sederhana
Hari-hari berjalan,
dan tanpa sadar
membiarkan percakapan-percakapan kecil terlontar
tak selalu tentang hal besar
tetapi duduk bersama,
bertukar cerita seadanya,
lalu merasa dunia baik-baik saja
Hari-hari berjalan,
dan tanpa sadar
bersama kalian kenangan tercipta
menyimpan hal-hal yang pernah berarti
meski harinya telah jauh pergi
Dan jika hari masih terus berjalan,
semoga aku mampu untuk tetap sadar
mengingat setiap langkah yang mungkin belum sempurna
tapi selalu punya sedikit tentang kalian di dalamnya
Penulis: Faida Nurul
Menghuni Rumpang yang Sama
Laksana Musafir menepikan dahaga,
sabar kuperhatikan caramu menyembunyikan lebam di balik dada
Tak ada yang lebih sunyi dari malam yang menguji janji,
itu kata nurani
Tapi detak jarum jam dinding tua di kamarmu bilang,
bahwa akulah si paling sedia menjadi tempatmu meluruhkan segala pura-pura
Tolong mengangguklah!
Karena sesaat pertahananmu runtuh,
kau boleh berhenti tanpa perlu merasa bersalah,
apalagi dicap sebagai kalah.
Ketahuilah, di persinggahan ini tidak ada palang dilarang jeda!
Kau bukanlah beban saat hanyalah sebuah rengkuh yang kau butuhkan
Maka, mari lewati semua runtuh di bumi ini
Sebab apalah arti sebuah perjalanan jika tidak kita tempuh bersama-sama?
(Lagipula, kursi sepi ini terlalu luas jika hanya diisi satu orang yang berduka saja.)
Penulis: Aulia Hasti Zalika Ramadhani
