FESTIVAL SATU MEI 2026: UANG, INSTRUMEN PENEKAN KAUM PROLETAR
Fotografer: Nadil Ulum Annafis
Jumat siang (1/05), udara Kota Malang terasa sejuk setelah hujan membasuh bumi sedari pagi. Tepat pukul 13.30 WIB, sekitar delapan pemuda mulai sibuk bersiap di Skateboard Park, Taman Singha Merjosari. Spanduk-spanduk dibentangkan di antara tiang, sampah dipungut, hingga genangan air sisa hujan pun diseka hingga kering. Berbagai barang mulai ditata dengan apik, menandai dimulainya gelaran Festival Satu Mei 2026.
Festival ini kian semarak dengan latar belakang tembok penuh grafiti berwarna oranye dan kuning yang mencolok. Di depan tembok tersebut, barang-barang donasi berupa tumpukan baju layak pakai berserakan dengan rapi di atas terpal, siap untuk dipindah-tangankan secara gratis. Sebuah mesin tik tua dan koper hitam bertuliskan “PUISI GRATIS” juga tertata di sana.
Ruang Temu Tanpa Sekat
Di tengah acara yang kian dipadati warga—mulai dari orang dewasa hingga anak-anak yang penasaran, Majin tampak sibuk di pos pemeriksaan kesehatan. Pria yang mengenakan batik lurik khasnya itu, terlihat telaten melayani seorang lansia yang sedang duduk untuk dicek tekanan darahnya.
Setelah bergantian tugas dengan kawannya, mahasiswa keperawatan yang menjadi relawan ini melipir ke area sablon untuk melepas lelah. Di sela waktu senggang itulah, ia mulai berbagi cerita.
Sambil menunjuk ke sekeliling dengan jempolnya, Majin menegaskan bahwa “Ruang Bebas Uang” adalah ruh dari festival ini.
“Enggak cuma mahasiswa, ada teman-teman buruh juga, bahkan ada yang masih pengangguran,” ungkapnya dengan napas yang sedikit terengah. Baginya, acara ini adalah magnet yang menyatukan orang-orang dengan keresahan dan concern yang sama.
Majin pun mengenang kembali tahap awal persiapan mereka. “Persiapan awal itu bikin poster, tujuannya buat menjaring orang-orang yang mau donasi di sekitar Malang Raya,” paparnya sembari memutar-mutar tangannya layaknya mahasiswa ketika melakukan presentasi.
Tak hanya mengandalkan donasi, mereka juga mengajak kolektif lain seperti Batu Skateboard dan Women Ngalam untuk berkolaborasi. Bagi Majin, agenda kolektif seperti ini tidak harus bersifat momentum. Sebelumnya, mereka bahkan pernah menggelar close reading saat terjadi serangan Israel ke Palestina. Festival kali ini pun digelar lebih karena keinginan bersama dan kebutuhan untuk merawat jaringan pertemanan.
“Kami ingin merawat jaringan perkawanan sih, kalau menunggu momen-momen doang kayaknya sayang aja sih,” tuturnya.
Bagi Majin, latar belakang personal setiap relawan adalah motor penggerak acara ini. Ia percaya pada ruang yang inklusif—selama prinsip kesetaraan dijaga tanpa ada dominasi maupun kekerasan, siapapun dipersilakan bergabung. “Selama gak ada kekerasan, dominasi, dan sebagainya siapapun boleh ikut. Itu sih motivasi kami,” tegasnya.
Semakin menjelang malam, Majin yang hendak menyablon sesuatu, bercerita lebih banyak lagi. Ia menceritakan bagaimana modal untuk festival ini didapatkan.
“Awalnya kita iuran dulu sama teman-teman,” kenangnya. Selain iuran mandiri, sumbangan dari tempat kerja para relawan juga menjadi penyambung napas acara. Bagi kolektif ini, uang bukan hal yang patut dicemaskan, sebab modal seadanya pun tak pernah jadi penghalang untuk bergerak.
Namun, bukan berarti perjalanan mereka tanpa hambatan. Tantangan terbesar justru datang dari hal-hal teknis seperti mencocokkan jam kerja agar bisa berkumpul di waktu luang. Belum lagi urusan langit yang sulit ditebak.
Sembari mengingat-ingat, ia juga menceritakan kendala-kendala yang dulu pernah menimpa mereka. Majin mengaku ada pihak yang pernah mengganggu kegiatan selain festival ini. Dia beranggapan bahwa hal tersebut merupakan konsekuensi yang harus dihadapi. Cara menyikapi gangguan tersebut dianggap menjadi hal yang terpenting menurut Majin.
“Tinggal gimana menyikapinya aja sih,” ujarnya santai dan percaya diri.
Majin enggan mengungkap secara gamblang siapa pihak yang kerap mengganggu kegiatan mereka. Ia hanya melempar petunjuk melalui kalimat satire. “Untuk pihak yang mengganggu? Ya, tahulah dari siapa,” sindirnya penuh arti.
Gangguan yang pernah ia dan kawan-kawannya terima memang beragam. Mulai dari pengusiran hingga pelarangan kegiatan yang datang tiba-tiba bak rasa kantuk di malam hari. Tak jarang, mereka juga harus menghadapi intimidasi halus, seperti dibuntuti oleh pihak-pihak tertentu selama acara berlangsung.
Sembari membetulkan posisi topi di kepalanya, Majin menjabarkan pandangannya bahwa uang adalah kekuatan produksi sekaligus instrumen penindas. “Uang itu alat kapitalisme untuk menekan kaum pekerja,” tegasnya.
Dalam balutan batik lurik dan celana jeans, Majin tampak santai membebaskan masyarakat untuk memaknai kaitan festival ini dengan Hari Buruh. Baginya sederhana, satu hal yang diyakininya ia dan teman-temannya sedang memiliki waktu senggang, lalu memutuskan untuk menggelar sesuatu yang bermanfaat.
Meski begitu, empati Majin terhadap perjuangan buruh yang tak kenal lelah menuntut hak mereka tetaplah besar. Ia berharap tuntutan normatif para pekerja—seperti kenaikan upah hingga penghapusan pajak THR (Tunjangan Hari Raya), bisa segera terpenuhi.
Menariknya, Majin justru tidak menaruh harap sedikit pun pada pemerintah. Kepercayaannya telah berpindah sepenuhnya pada kekuatan kolektif warga.
“Selama warga mau menegaskan otonomi, aku lebih optimis dengan mereka sih),” ujarnya dengan intonasi nada yang merendah. “Aku sendiri gak ada tuntutan apapun ke penguasa,” pungkas Majin dengan nada pasrah.
Tak Kenal Letih Walau Tanpa Pamrih
Kertas bertuliskan “GRATIS” yang tersebar di meja-meja kini punya teman untuk memamerkan diri. Di sudut lain, helaian rambut yang jatuh ke tanah menjadi tanda adanya atraksi lain yang tak kalah menyedot perhatian—potong rambut gratis.
Adalah Fajrin, seorang kapster yang sehari-harinya bekerja di Pasuruan, dan merelakan waktu serta keahliannya untuk memberikan jasa secara percuma. Bagi Fajrin, terjun ke agenda kolektif seperti ini bukanlah hal baru, melainkan sebuah kepulangan pada alasan awal mengapa ia memegang mesin cukur.
“Saya belajar memotong rambut karena gerakan seperti ini. Dulu karena kekurangan tenaga cukur, ya saya merelakan diri buat belajar.”
Pengalaman Fajrin mengikuti agenda serupa membuat dirinya bisa menyimpulkan satu hal. Ia berpendapat bahwa latar belakang lokasi sangat mempengaruhi respon masyarakat terhadap acara seperti ini. Menurutnya, daerah yang termarjinalkan akan lebih ramai animonya ketimbang daerah perkotaan.
Meski lelah mulai tampak di wajahnya, Fajrin tetap santai. Sambil menyulut rokoknya, ia kembali berbagi pandangan—kali ini lebih banyak soal filosofi mencukur.
“Memangkas rambut saat acara seperti ini sih gak capek ya,” ucapnya dengan percaya diri. Fajrin sangat yakin dukungan dari lingkungan sekitar sangat berpengaruh. Walau tanpa upah, ia tampak sangat menikmati mencukur rambut di festival ini.
Keahliannya memangkas rambut bukan datang dalam semalam. Mengenakan gamis putih dengan kaki kiri yang ditopang di atas paha kanannya, ia menceritakan perjalanannya menjadi seorang kapster. Tiga tahun pengalaman menghias rambut telah melatih instingnya.
Tak perlu kursi ala barbershop, hanya mengandalkan kamera smartphone sebagai cermin, hasil potongannya tetap ciamik.
Dari pengalamannya, Fajrin beranggapan bahwa tidak ada kesulitan ketika belajar. Namun, kekuatan mental ia anggap menjadi hal yang paling penting bagi seorang kapster.
Sembari menghabiskan sisa rokoknya, nada bicaranya berubah jengkel saat mengingat para pelanggan yang sulit diajak berkomunikasi. Ia bahkan mengaku pernah dicaci dengan kata-kata kasar oleh pelanggannya sendiri.
“Kalau kesulitan itu biasanya dari customer yang susah dibilangin.”
Menurutnya, tantangan terbesar adalah mengedukasi pelanggan guna menghindari miskomunikasi. Kekesalannya terhadap pelanggan yang “bebal” semakin meluap ketika ia mengenang pengalamannya.
“Kalau ada yang bebal sih yaudah turutin aja, semisal jelek ya aku mampus-mampusin,” gerutu Fajrin.
Meskipun beberapa pengunjung Festival lewat dengan mimik meremehkan, hal itu tak sedikit pun menggusarkan para relawan. Di sini, Fajrin dan kawan-kawannya seolah menemukan ruang untuk sekadar bersenang-senang dengan kawan sejawat, sambil tetap mengulurkan tangan bagi sesama.
Tanpa tekanan bos, tanpa target setoran, lelah di wajah mereka perlahan sirna. Pada akhirnya, mereka hanyalah sekumpulan kawan yang tidak mengganggu siapa pun; hanya pemuda-pemudi yang memilih mengisi waktu luang dengan cara yang paling otonom.
Penulis: Nadil Ulum Annafis
Editor: Fenita Salsabila
