KPI EM UB GELAR BEDAH BUKU “MENDOBRAK KEBUNTUAN: USUT TUNTAS TRAGEDI KANJURUHAN”, SOROTI TRAGEDI KANJURUHAN DARI BERBAGAI PERSPEKTIF

0

Fotografer: NBA

MALANG-KAV.10 Kementerian Kajian Pencerdasan Isu Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya (KPI EM UB) menggelar acara diskusi dan bedah buku yang berjudul “Mendobrak Kebuntuan Usut Tuntas Tragedi Kanjuruhan” pada Minggu (10/05). Acara ini bertujuan untuk membahas dan menjawab legitimasi represivitas melalui trauma kolektif yang tak pernah tuntas dari Tragedi Kanjuruhan.

Cholifatul Noor, sekretaris Yayasan Keadilan Tragedi Kanjuruhan (YKTK) sekaligus ibu korban, menceritakan hal apa saja yang dialami dalam memperjuangkan keadilan. “Ada beberapa yang mendukung kami [YKTK]. Tapi kami juga [mendapatkan] tuduhan-tuduhan. Katanya yayasan ini binaannya polisi, yayasan untuk meredam [keadilan korban].” Menurutnya, jika mereka memang binaan polisi, tidak mungkin hingga saat ini YKTK terus melawan polisi.

Ifa juga berbagi pengalaman teror dan represi yang dialami selama memperjuangkan keadilan, termasuk dirinya yang hampir tertabrak. Tetangganya pun melapor bahwa rumahnya sering difoto dan divideo oleh orang asing. 

“Orang yang menabrak saya itu kostumnya yang dipakai sama dengan orang yang mengambil foto dan video rumah saya. Pakai celana hitam, jas kulit hitam, dan penutup kepala.”

Zulfiqar, dosen Hukum UB sekaligus pemateri acara tersebut memberikan tanggapan pada peristiwa yang diceritakan Ifa, bahwa hukum di Indonesia sedang tidak baik-baik saja. 

“Hukum yang seharusnya itu dibentuk untuk memberikan keadilan, memberikan rasa aman, kepastian, kemanfaatan, dan sebagainya. Justru ini malah mencerminkan yang sebaliknya [intimidasi] gitu.” Ia mempertanyakan mengapa orang-orang yang aktif vokal dalam memperjuangkan keadilan justru dipermainkan oleh hukum.

Lebih lanjut, Indhar, pemateri lain sekaligus dosen Sosiologi UB turut memberikan pandangannya akan makna konsep rivalitas dalam olahraga. “Tragedi Kanjuruhan itu merupakan kunci kegagalan kita untuk memaknai konsep rivalitas di dalam olahraga terutama di sepak bola.”

Indhar menyoroti bahwa menjadikan rival sebagai enemy membuat hal ini menjadi masalah dalam dunia olahraga. “Kita tidak hanya menginginkan kekalahan pihak lain dalam permainan saja tapi kita pengen biar kalah dalam segala-galanya. Kalah dalam segala lini kehidupan, bahkan kalau bisa membunuh [rival].” 

Di sisi lain, Rafi Azzamy, penulis buku “Mendobrak Kebuntuan: Usut Tuntas Tragedi Kanjuruhan” turut memberikan tanggapannya terkait hinaan-hinaan tentang keluarga korban yang seharusnya menolak uang bantuan.

“Kalian mengatakan bahwa keluarga korban jangan menerima santunan dari polisi. Mahasiswa-mahasiswa yang berkata demikian itu dapat uang bulanan dari orang tuanya. Sedangkan keluarga korban kehilangan tulang punggung nafkah keluarganya, kehilangan anak semata wayangnya.”

Rafi juga menyampaikan bahwa sebenarnya otak masyarakat sudah teracuni oleh satu-satunya modus operandi dari gerakan sosial yaitu hukum dan hak. Untuk itu, ia mengusulkan semacam gerakan-gerakan ekonomi karena menurutnya, perjuangan itu membutuhkan dana. 

“Waktu itu ada beberapa gerakan sosial yang menyalahkan keluarga korban yang menerima bantuan oleh polisi, dan banyak bagian dari gerakan tersebut adalah mahasiswa. Padahal kita memerlukan gerakan ekonomi politik,” pungkasnya.

Penulis: NBA
Editor: ELF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.