MENYIBAK TABIR DI BALIK AKUN UB PARKIR
Sumber: Screenshot dari Instagram @ub.parkir
MALANG–KAV.10 Di sebuah kafe, suara bising dapur yang tengah menggoreng pesanan seolah menjelma latar musik yang repetitif. Di tengah keriuhan itu, sebilah layar ponsel tiba-tiba menyala, memecah keheningan di atas meja kayu panjang yang permukaannya terasa dingin saat bersentuhan dengan kulit. Di baliknya, Zen [bukan nama sebenarnya]⎯pemilik baru akun @ub.parkir, nampak duduk santai mengenakan kacamata dan jaket yang tersampir terbuka.
Zen kini merupakan nakhoda di balik layar bagi 11 ribu lebih pengikutnya di Instagram, tempat @ub.parkir menjadi pelabuhan terakhir bagi mahasiswa yang didera frustrasi⎯entah karena helm yang raib tanpa jejak atau parkiran yang semrawut tak keruan. Akun yang mungkin dipandang sebelah mata sebagai konten “receh” ini ternyata menyimpan lapisan manajemen yang cukup serius. Laman tersebut menjadi sebuah dunia yang bahkan awalnya tidak disadari oleh Zen saat ia masih melakoni peran sebagai admin paruh waktu.
Kacamata yang Zen kenakan sesekali memantulkan cahaya lampu kafe, seiring ia mulai menguraikan bagaimana akun ini sebenarnya dikelola layaknya sebuah imperium kecil yang terorganisir.
Keresahan yang Menjelma Korporasi
Semua bermula dari satu nama, Logan [bukan nama sebenarnya], seorang alumni angkatan 2015 yang mendirikan akun @ub.parkir karena didorong rasa miris melihat lemahnya sistem serta keamanan universitas. Di matanya, sungguh ironis melihat institusi sebesar UB belum mampu memfasilitasi urusan parkir dengan layak.
“Dia [Logan] itu punya keresahan bahwa kok parkir di universitas yang gede kayak gini, susah? Seharusnya, kan, difasilitasi lebih lanjut,” ungkap Zen.
Berangkat dari kegelisahan tersebut, langkah Logan untuk menyediakan wadah pengaduan bagi mahasiswa dimulai pada 2019 melalui Twitter dan Instagram, meski sempat vakum hingga tahun 2021. “Enggak tahu kenapa, mungkin karena sepi atau karena covid,” tambahnya.
Namun, pasca-vakum, @ub.parkir terlahir kembali di Instagram dengan fokus yang jauh lebih luas. Tak lagi sekadar memotret parkir ngawur, Logan merancang lima pilar utama untuk akun ini, yaitu laporan parkir sembarangan, kehilangan barang, wadah curhat perasaan mahasiswa, pengawalan kasus krusial seperti kekerasan seksual, hingga aksi nyata mencabut parkir liar di seputaran Malang.
Logan sendiri membangun akun @ub.parkir dengan fondasi manajemen yang sudah mapan, mengadopsi pola kerja dari grup bisnis media sosial yang telah ia kelola sebelumnya. Jadi, jangan bayangkan akun ini dikelola secara amatir.
“Kita sebut owner-nya yang dulu, founder-nya lah. Itu Logan namanya. Jadi Logan itu punya beberapa akun dan strukturnya itu kayak corporation. Logan ini sebagai director utama,” ungkap Zen.
Di bawah kendalinya sebagai direktur utama, Logan menempatkan seorang manajer untuk mengawasi operasional harian, serta tim yang terdiri dari tujuh lima admin.
“Jadi dulu ada tujuh orang. Pertama itu direktur utama, Logan. Terus langsung turun di bawahnya ada manajer, kemudian lima orang admin harian. Senin sampai jumat mereka jadi admin ganti-gantian. Nah, buat sabtu sampai minggu mereka itu rolling,” jelas Zen merinci strukturnya.
Sistem rolling di akhir pekan ini biasanya menjadi kesempatan bagi para admin yang ingin mencari penghasilan tambahan di luar jadwal rutin mereka.
Untuk menjaga roda organisasi yang kian besar ini tetap aman, Logan menerapkan manajemen yang ketat tetapi sangat tersembunyi. Saking tertutupnya cara ia mengendalikan sistem, Logan sampai dijuluki sebagai ‘mafia’ karena eksistensinya yang sulit dijangkau.
“Logan ini susah ditemuin. Jadi, enggak tahu ya, teman-teman nyebutnya dia itu kayak mafia malah. Karena benar-benar susah ditemuin,” ungkapnya.
Bahkan manajer akun pun mengakui betapa sulitnya menemui sosok Logan secara langsung karena ia sangat piawai menyembunyikan jati dirinya.
Filtrasi Ketat dan Bahan Bakar Komersial
Setiap harinya, laporan masuk melalui akun @ub.parkir seperti air bah. Seorang admin bisa mengunggah 20 hingga paling banyak 60 postingan dalam sehari. Mekanismenya pun tidak asal-asalan. Ada proses filtrasi di mana admin harus memastikan adanya lokasi, rincian pelanggaran, dan “kata-kata mutiara”—umpatan otentik dari pelapor yang menjadi roh dari setiap unggahan.
Mereka memastikan setiap unggahan memiliki nilai informasi sekaligus daya tarik bagi pembaca. “Kita tetap ada filter, kalau kirimannya cuma sekadar maki-maki tanpa data yang jelas, ya tidak diunggah,” tambahnya.
Zen mengetuk-ngetuk ponselnya di atas meja kayu seraya menjelaskan sistem upah yang ia terima. Dengan tarif Rp500 per postingan, tumpukan keresahan mahasiswa secara teknis berubah menjadi pundi-pundi rupiah bagi pengelolanya.
“Kalau shift hari itu [sewaktu-waktu] kemudian ramai, bisa upload semuanya, kan lumayan. Kita nge-upload doang kalau 50 postingan [bisa mencapai] Rp25.000,” ujar Zen.
Meski demikian, pendapatan dari jumlah unggahan saja nyatanya tak cukup untuk menutupi biaya operasional akun yang besar. Hal ini kemudian mendorong akun @ub.parkir merambah ke ranah komersial yang lebih profesional melalui paid promote dan endorsement.
“Sebagai admin, kalau bisa mendatangkan orang yang punya usaha, dan mau promosi di kita, nanti dapat komisi. Buat tarifnya beda-beda, ada price list-nya, dan paket-paketnya,” terang Zen.
Layanan iklan pun mulai masuk, mulai dari fitur story hingga feeds dengan audiens yang tertarget. Berbagai tawaran yang masuk biasanya sangat relevan dengan kebutuhan mahasiswa, mulai dari informasi kos-kosan, jasa titip, hingga katering harian.
Walaupun begitu, akun @ub.parkir tidak lantas menerima semua tawaran endorsement atau paid promote yang datang. Hal ini dilakukan semata-mata untuk menjaga kepercayaan mahasiswa yang menjadi basis utama pengikut mereka.
“Kita selalu selektif kalau urusan endorse, jangan sampai nama akun ini malah tercoreng. Misal endorse judol (judi online) gitu, kan, enggak mungkin kita [ambil],” tegas Zen.
Melampaui Batas Layar
Eksistensi @ub.parkir hadir mengisi ruang kosong yang ditinggalkan birokrasi dengan menawarkan sistem yang lebih taktis. “Kita ada di celah itu, ada yang kehilangan apa, langsung upload, kita enggak perlu template macam-macam, yang penting poin tersampaikan,” tutur Zen menekankan.
Kecepatan inilah yang membuat mahasiswa merasa suara mereka lebih didengar dibandingkan melalui prosedur organisasi resmi yang sering kali terhambat urusan administratif. Kondisi inilah yang membuat akun anonim tersebut terasa lebih dekat dan responsif bagi mahasiswa.
“Ya masa lapor kehilangan saja mereka perlu surat menyurat.”
Bagi Zen sendiri, setiap unggahan di akun @ub.parkir adalah sebuah pencapaian tersendiri yang membuatnya merasa dibutuhkan. Di tengah hiruk-pikuk kampus, @ub.parkir memosisikan diri sebagai alternatif dari akun-akun informasi UB lainnya yang cenderung kaku dan terlalu serius.
“Kita pengin ini loh, ini [isu parkir] penting tapi kita kemas dengan fun,” ujar Zen. Dengan paduan lagu-lagu lucu dan gaya bahasa yang santai, emosi mahasiswa yang meluap diubah menjadi aksi merundung yang menghibur tanpa menghilangkan poin utama: bahwa parkir sembarangan itu salah.
“Sebenarnya setiap hari kita ngerasa penting. Semakin follower kita nambah, semakin engagement kita nambah, kita ngerasa penting,” tambahnya. Rasa penting inilah yang kemudian mendorongnya melakukan aksi nyata di luar layar ponsel.
Suatu masa, seorang mahasiswa pernah menghubungi Zen dengan nada panik setelah mendapati helmnya raib di area parkir. Alih-alih hanya memberikan arahan virtual, Zen turun tangan langsung menemani sang korban menuju gedung MAKO (Markas Komando) untuk melayangkan aduan resmi. Setibanya di sana, karena ada urusan lain, ia memilih undur diri setelah memastikan laporan diterima.
“Waktu itu aku buru-buru, jadinya aku tinggal. Ya sudah mereka tektokan [koordinasi langsung] saja. Penting aku sudah nemenin,” kenangnya.
Selang beberapa hari, malam tenang Zen di kampus tiba-tiba pecah oleh dering ponsel yang nyaring. Suara di telepon terdengar sangat antusias sekaligus terburu-buru, membawa kabar yang tak disangka.
“Mas ini ketemu Mas. Malingnya ada di MAKO sekarang!” seru sang korban dengan nada tinggi. Zen langsung menyambar kunci kendaraannya dan bergegas menembus kegelapan kampus menuju MAKO.
Di dalam ruang MAKO yang kaku dan dingin, Zen berdiri bersisian dengan petugas di depan layar monitor CCTV. Di sana, terekam aksi nekat seorang pelaku yang melakukan pencurian secara berulang-ulang.
“Bodohnya yang nyuri ini, dia itu pagi udah ngambil, siangnya ngambil lagi,” ujar Zen menggebu-gebu. Pelaku itu tampak jelas mengenakan jaket merah mencolok, dengan perawakan yang masih sangat muda seperti anak SMA.
Ruangan yang tadinya hening seketika berubah mencekam. Ketegangan memuncak saat si pencuri berjaket merah tak lagi mampu mengelak dari bukti rekaman yang terpampang nyata. “Ya kita bully lah di situ, sama satpam aja dihajar itu,” kenang Zen. Malam itu menjadi bukti nyata bagi Zen bahwa di balik sebuah unggahan, ada keadilan yang sedang ia kawal.
Kendati mengisi celah birokrasi, @ub.parkir sempat goyah karena manajemen yang tidak satu suara antara pengelola harian dan pemilik lama. Perbedaan pandangan ini sering kali memperlambat gerak akun dalam merespons laporan mahasiswa. Titik balik terjadi ketika Zen memutuskan membeli akun ini dari Logan sehingga kepemilikan @ub.parkir kini telah berpindah tangan sepenuhnya padanya.
Zen menyadari bahwa menjadi pihak berwenang yang menjaga keamanan kampus bukanlah perkara remeh. Namun, ia enggan membiarkan realitas di lapangan membeku dalam abai. Baginya, menyuarakan optimalisasi pengawasan adalah harga mati, demi memastikan birokrasi tidak terkesan “tutup mata” terhadap rentetan peristiwa janggal yang kadung menjamur di lingkungan akademis.
“Parkir menyalahi rambu, pencurian helm, sepatu, bahkan pencurian motor seharusnya menjadi hal janggal di lingkungan akademis, apalagi kampus,” cetus Zen menumpahkan kekecewaannya. Ia merasa miris karena rentetan peristiwa tersebut perlahan mulai bergeser menjadi kewajaran yang dianggap lumrah oleh masyarakat.
Menurut Zen, kritik utama harus tetap diarahkan kepada kebijakan kampus. Ia ingin agar semua elemen mahasiswa bergerak bersama menuntut perubahan yang nyata. “Jadi, ayo kita sebagai orang-orang yang berada di lingkup mahasiswa ini, kita dorong kampus supaya lebih optimal dalam kebijakan dan lain sebagainya,” tegasnya dengan nada mantap.
Upaya Zen untuk mendobrak kewajaran tersebut harus ia tempuh di tengah kondisi tim yang sedang keropos. Perpisahan tim terjadi setelah manajer lama pindah ke Jepang dan para admin harian mulai membubarkan diri. Kini, @ub.parkir sedang dalam masa transisi untuk lahir kembali di bawah kendali mandiri Zen.
Meskipun begitu, Zen bertekad mengoptimalkan akun ini sebagai bahan refleksi bagi otoritas kampus. Ia percaya banyaknya laporan yang masuk adalah cermin dari fasilitas keamanan yang belum optimal.
“Ya buat kebermanfaatan saja, biar orang-orang tahu kalau di sini [UB] fasilitasnya kurang,” papar Zen mengenai alasannya bertahan.
Penulis: Nabila Hanifaty Nuryasha
Editor: Fenita Salsabila
