MENCARI TANAH LADA: IKHTISAR MEMAHAMI PENDERITAAN

0
Sumber: Gramedia

Judul: Di Tanah Lada
Penulis: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Tahun Rilis: 2015
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 245 halaman

Bunuh diri barangkali bukan barang baru, tapi perdebatan mengenainya masih saja hangat hingga saat ini. Beberapa ada yang merasa empati, beberapa yang lain justru menyayangkan keputusan sembrono orang yang telah menghilangkan nyawanya sendiri tersebut. Kelompok kecil yang bilang sembrono mungkin punya beberapa alasan, seperti agama maupun berpendapat bahwa masih banyak cara lain yang bisa dilakukan karena bunuh diri bukanlah jawaban. Tapi terkadang mereka luput akan satu hal, yakni memahami penderitaan.

Di Tanah Lada, karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie barangkali bisa menjadi salah satu jawaban bagi mereka yang belum memahami bagaimana jahatnya penderitaan. Penderitaan mungkin adalah salah satu jelmaan iblis paling jahat yang pernah diciptakan tuhan ke dunia. Sudah banyak nyawa manusia yang dia renggut, mulai dari mahasiswa dan beban kuliahnya, pekerja yang terlilit hutang, sampai pada anak kecil tidak punya pena dan buku untuk sekolah karena melarat.

Dalam buku ini, Ziggy mencoba mengulas kembali bagaimana pandangan mengenai penderitaan dan kebahagiaan. Yang menjadi buku ini unik adalah, bagaimana penderitaan dan kebahagiaan itu ditafsir oleh seorang perempuan kecil yang berumur enam tahun. Belum mengerti banyak soal dunia, bahkan belum tahu banyak kosa kata bahasa Indonesia. Tidak hanya karakternya saja yang masih kecil, Ziggy juga mencoba untuk menghidupkan perspektif anak kecil di tulisanya. Ini bisa terlihat jelas dari kebiasaan Salva yang kemudian saya tulis dengan Ava, sang karakter utama novel ini yang suka “meracau”. Omongannya yang tidak teratur dan kadang keluar dari pembahasan awal. Membuatnya karakter Ava sangat terasa kekanak-kanakannya.

Penderitaan Ava banyak datang dari orang tuanya. Papanya memanggilnya jalang, memukulinya tanpa sebab, bahkan mengurung dirinya di dalam koper. Mamanya, walau diperlihatkan menyayangi Ava, terkadang merasa lupa bahwa ia memiliki anak. Seringkali meninggalkan Ava sendirian pada beberapa kesempatan yang seharusnya ia ditemani seorang ibu. Seperti ditinggal sendirian untuk menemani suaminya berjudi, dan meninggalkan Ava sendirian di Rusun reot bersama papanya karena tidak tahan dengan kelakuan suaminya itu. Di tengah absennya orang tua Ava, ia bertemu P. Pengamen seusianya yang kehidupannya tidak lebih baik darinya. P tidak memiliki nama, ayahnya tidak peduli bahkan dia memiliki nama atau tidak. Ia, walau tinggal bersama ayahnya, tapi tidak memiliki kamar sehingga memilih untuk membangun kamar sendiri dengan kardus. Di beberapa kesempatan juga P ditampilkan mengalami kekerasan seperti tangannya disetrika hanya karena masalah sepele. Karena merasa nasibnya tidak berbeda jauh, Ava dan P berteman dekat dan novel ini bercerita tentang mereka.

***

Saya rasa Ziggy mencoba untuk menafsirkan penderitaan dengan dua perspektif yang berbeda melalui Ava dan P. Ava adalah orang yang tidak sadar bahwa dirinya menderita, tidak memahami banyak soal dunia karena usianya yang belia dan hidup masih dengan orang tuanya. Sedangkan P, adalah orang yang sadar bahwa dirinya menderita dan tahu soal dunia karena walau dia hidup dengan ayahnya, ia hidup dengan usahanya sendiri melalui jerih mengamen. Ini dapat dilihat bagaimana Ziggy menggambarkan situasi dan reaksi dari keduanya. Salah satu contohnya adalah ketika Ava tidur di dalam koper karena tidak ada kasur untuk dia tidur, kemudian papanya mengunci koper yang masih ada Ava di dalamnya. Melihat hal tersebut, mama Ava marah besar dan memulai pertengkaran dengan suaminya bahkan hingga menciptakan keributan di Rusun. Melihat itu, respon Ava tidak diperlihatkan menderita secara langsung. Begini yang digambarkan Ziggy : 

Orang-orang di sekitarku banyak mengusap, bergumam, dan meremas-remas kepalaku. Tapi aku sangat mengantuk. Aku tidak paham apa yang terjadi.
Hal. 75.

Atau di kesempatan yang lebih awal, Ava pernah mendapat cacian dari papanya dengan sebutan jalang. Mama Ava menyuruhnya pergi ke kamar tetapi dilarang oleh papanya. Kemudian Ava memutuskan untuk mengunci diri di kamar mandi sampai ketiduran. Ziggy lagi-lagi tidak secara spesifik memperlihatkan perasaan Ava. Begini kemudian ia gambarkan : 

Jadi, aku masuk ke kamar mandi dan menguncinya dari dalam. Mereka bertengkar sampai aku tertidur. Mungkin setelahnya mereka masih bertengkar. Aku tidak tahu. Malam itu, aku tidur di dalam kamar mandi.
– Hal. 48.

Ava selalu digambarkan tidak mengetahui kondisi yang menimpanya, dia selalu digambarkan kebingungan dengan reaksinya yang acuh. Tentunya hal tersebut disebabkan karena kepolosan Ava yang sudah dijelaskan di awal. Dia tidak memahami betul mengenai kejadian yang ia alami, apakah itu adalah sebuah penderitaan atau bukan. Bahkan di beberapa kesempatan Ziggy secara eksplisit menampilkan kepolosan Ava. Salah satunya adalah ketika papa Ava mencaci istrinya yang suka berkebun, dia bilang istrinya ‘berbuat tolol’. Kemudian, Ava yang mendengarnya mencoba untuk membuka kamus untuk menemukan artinya. Begini Ziggy mencoba memperlihatkan kepolosan Ava : 

Jadi, kurasa ‘berbuat tolol’ berarti : mengerjakan sesuatu yang sangat tidak mudah dimengerti. Berarti Papa memang benar, karena kadang-kadang berkebun itu tidak mudah dimengerti.
– Hal. 3.

Atau dalam contoh yang lain, Ava dan P sedang berapa di kamar P yang terbuat dari kardus di Rusun ayahnya. Kemudian, ayahnya datang merusak kamar kardusnya dan menganiaya P dengan menyetrika lengannya hingga P teriak ‘AAA!!’. Lagi-lagi Ava digambarkan begitu polosnya oleh Ziggy : 

Dan, cara kita tahu bagaimana orang sedang dalam kesulitan ada dua, yaitu : 

  1. Mereka akan bilang ‘Tolong!’ ; dan
  2. Mereka akan menjerit ‘AAAA!!!’

Kata Kakek Kia ‘AAAA!!!!’ menandakan kesulitannya lebih besar daripada ‘Tolong!’
Papper [P] menjerit ‘AAAA!!’.
– Hal. 132.

Ini sangat kontras dengan P. Ziggy lebih memperlihatkan sisi yang lebih sensitif dan paham situasi kepada P di novel ini. P seolah mengalami pendewasaan dini karena sifatnya menjadi lebih dewasa dan pengayom ketika bersama Ava, walau di beberapa momen Ziggy tidak mengambil sisi kekanak-kanakan dari P. Salah satu contoh dari P yang digambarkan lebih sensitif bisa dilihat ketika P sedang di rumah sakit setelah tanganya disetrika oleh ayahnya. Terdengar Mas Alri dan Kak Suri–orang yang peduli dengan P– bertengkar di rumah sakit mengenai lalainya mereka. P langsung sadar akan situasi dan mengajak Ava–saat itu berada di sampingnya– untuk ke luar. 

Dia menarik tanganku menggunakan tangan menggunakan tangannya yang sehat. “Pergi, yuk,” katanya.
“Kemana?”
“Keluar saja. Nggak mau mendengar mereka berantem.”
– Hal. 139.

Kepekaan terhadap situasi membuat P terlihat sangat dewasa dibanding Ava, atau bahkan anak seusianya. Terlihat dalam satu adegan ketika Ava tidak bisa tidur karena kamar rusunnya belum memiliki kasur, dan dia tidak terbiasa tidur tanpa kasur. P mencoba menenangkan dan mencari solusi untuk Ava, yakni tidur di dalam koper yang ia susun sebagaimana rupanya kasur. 

Akhirnya P Si Anak Pengamen mengusap-usap kepalaku dengan wajah panik.
“Hari ini saja, kok. Besok kamu dapat kasur baru. Jangan nangis,” katanya.
Aku terisak-isak. “Benar, ya, besok aku dapat kasur baru?” Dia Mengangguk. Padahal, Mama yang harus membeli kasur, bukan dia.
– Hal.  71.

***

Karena perbedaan bagaimana Ava dan P melihat penderitaan, responnya terhadap penderitaan pun berbeda. Dengan Ava yang polos, Ziggy tidak pernah memperlihatkan perasaan Ava yang teramat sedih atau putus asa. Ava selalu nampak kebingungan terhadap situasi yang ia hadapi. Namun, Ziggy dengan cerdik membuat karakter final Ava yang mencoba mencari kebahagiaan untuk dirinya, yang kemudian ia dapatkan setelah bersama P. 

Jika tidak seksama membaca novel ini, hubungan antara P dan Ava sedikit tidak masuk akal. Namun, menurut saya, Ziggy mencoba mengisyaratkan bahwa Ava belum pernah merasa bahagia, sekalipun dengan ibu atau tante dan om nya yang bersikap baik kepadanya. Ava belum mengerti makna kebahagiaan, dengan begitu dia juga tidak mengerti penderitaan. Di tengah papanya yang selalu mencaci dan memukulinya, dan mamanya yang selalu lupa akan keberadaan dirinya, membuatnya berakhir merasa bahagia ketika bersama P, yang menurutnya tidak jahat seperti papanya dan tulus peduli kepadanya tidak seperti mamanya. Ini dijelaskan kemudian sangat spesifik di akhir cerita.

Berbeda dengan Ava yang masih belum mengerti kebahagiaan maupun penderitaan. P sudah mengerti arti dari dua kata itu. Penderitaan yang dialaminya ia rasakan betul secara batin. Meresap ke hatinya membuat dirinya berpikir tidak seperti anak seusianya. Dalam beberapa percakapannya dengan Ava mengisyaratkan bahwa dirinya mengenali penderitaan, bahkan mengisyaratkan bahwa dia sudah lelah dan berkelakar ingin mengakhiri hidupnya.  Ini terlihat jelas ketika P ingin lompat dari atap Rusun tempat mereka tinggal untuk terbang menemui bintang. Dan pembicaraan mereka mengenai reinkarnasi mereka dan berharap hidup mereka lebih baik barangkali jadi ayam, cacing, maupun badak bercula satu.

“Tapi, kalau kita mati dan bereinkarnasi lagi, aku mau reinkarnasiku ketemu reinkarnasi kamu lagi. Dan aku mau reinkarnasi kita ingat semua ini.”
“Kenapa?”
“Karena aku akan segera pergi,” kata Pepper [P].
– Hal. 142. 

“Kalau kamu jatuh kamu akan mati kan?”
“Kalau aku terbang, gimana?”
“Kamu, kan, nggak bisa terbang.”
“Tapi kalau aku mati, aku akan terbang, kan?”
– Hal. 124.

Sedangkan Ava baru menyadari penderitaan ketika ia mulai mengenal apa itu bahagia. Perjalanan mencari makna kebahagiaan Ava sangat terasa ketika perjalanan mereka menuju Tanah Lada, tempat tinggal Nenek Isma, Nenek Ava. Ziggy membuat analogi cemerlang tentang perjalanan seseorang mencari makna kebahagiaan. Tanah Lada yang dalam novel adalah sebuah tempat, menjadi perjalanan batin Ava dan P mencari kebahagiaan di dunia penuh penderitaan. Lagi-lagi Ziggy menggunakan perspektif anak kecil. Ava berpikir mereka akan bahagia di Tanah Lada, tempat kelahiran Mamanya. Mama Ava pernah bilang ia bahagia di sana, Begitupun Nenek Isma yang tak pernah terdengar menderita. Harapan itu kemudian menjalar juga ke P dan ingin percaya bahwa Tanah Lada itu ada, kebahagiaan itu ada. Perjalanan ke Tanah Lada juga dibarengi dengan petualangan mencari nama untuk P. Lagi-lagi Ziggy memberikan isyarat mengenai harapan. Upaya Ava mencari nama untuk P adalah isyarat bahwa Ava mencoba untuk memberikan makna kepada P. Makna hidup mereka.

Namun sayang, Ziggy menutup cerita ini dengan plot twist tak terduga. Bahwa Mas Alri dan Kak Suri yang selama ini baik terhadapnya adalah orang tua asli P. Ini menggoncang dirinya, karena tahu bahwa orang tua aslinya, walau baik kepadanya, tidak pernah cukup peduli untuk mengambil P dari ayah palsunya yang jahat. P yang tadinya berharap masih ada harapan untuk Tanah Lada pupus. Dan sampailah di akhir cerita yang membuat saya sadar akan pentingnya memahami penderitaan.

***

Dalam catatan akhir penulis. Naskah awal yang ditulis Ziggy berakhir dengan ‘bahagia’. Namun berselangnya waktu, akhirnya ia urung untuk memberikan bahagia itu untuk akhir ceritanya. Ia bilang ia tidak percaya akan kebahagiaan yang ia suguhkan. Tentunya saya paham mengapa Ziggy menulis itu. Penderitaan yang dialami Ava dan P sangat dahsyat dirasakan ketika saya membaca buku ini. Mungkin barangkali jika saya jadi Ava atau P, saya sudah mengakhirinya dari awal cerita. Tidak bisa membayangkan seorang anak berusia enam tahun menanggung derita yang besar dan mencoba menjawab pertanyaan yang bahkan seorang filsuf kerepotan, mencari makna kebahagiaan. Jadi, keputusan mereka dapat saya mengerti. Mereka memilih untuk mengakhiri cerita mereka dengan tenggelam di antara bintang-bintang.

Ziggy cukup lihai dalam membangung momentum dan membuat kilas balik terasa sangat bermakna. Percakapan mengenai mencoba menggapai bintang di atap rusun dan berandai-andai jadi apa mereka setelah mereka mati nanti kembali dihadirkan di akhir cerita ini. 

Cerita ini berakhir dengan Ava dan P yang mencoba untuk menggapai bintang, tidak di langit, tapi bintang yang memantul dari langit oleh samudra. Mereka akhirnya memiliki jawaban bagaimana cara menggapai bintang tanpa jatuh, tetapi terbang. Mereka berakhir menggapainya di samudra, sambil terbang di antara air yang dingin. Sambil mencoba untuk berpikir mau jadi apa setelah ini semua berakhir. P juga kini sudah ada nama. Ava merasa nama adalah Doa, barangkali setiap dia menyebut nama P, Tuhan akan mendengarnya sebagai doa dan mengabulkanya. Ava menamai pengamen tanpa nama itu Patibrata Praharsa, yang berarti sehidup semati. Sama seperti namanya, doa Ava terkabul.

Ziggy membuat saya sadar bahwa, jika kita tidak bisa memahami penderitaan orang lain, Di Tanah Lada bisa menjadi pengingat bahwa penderitaan itu niscaya, dan kebahagiaan itu terkadang fana.

Penulis: Ekas Abdul Baits

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.