MEMULAI INKLUSIVITAS DI KRIYA GEMBIRA

0

Manik-manik kecil itu berkilau di atas meja, seperti serpihan cahaya yang sengaja dijatuhkan, menunggu untuk dipungut satu persatu. Ruang itu dipenuhi warna—merah, biru, kuning—berbaur dengan tawa yang kadang terdengar, kadang hanya terlihat dari wajah-wajah yang menghangat. Tangan-tangan berkumpul di sekelilingnya, meraba, memilih, merangkai benang ke lubang kecil yang nyaris tak terlihat.

Acara meronce itu dirayakan oleh Omah Gembira bersama Fisabilillah. Di acara ini, waktu seolah melunak. Setiap orang duduk berdampingan tanpa perlu menjadi serupa, mereka hanya perlu hadir apa adanya. Mungkin, memang dari ruang-ruang seperti itulah sebuah rumah bisa tumbuh.

Rumah itu tidak tumbuh dari bata, melainkan dari uluran tangan yang saling meraih pula merangkul. Omah Gembira lahir pada tahun 2020, setelah Riza menemukan sesuatu yang mengusik setelah pertemuannya dengan salah satu teman dengan cerebral palsy. Ia melihat bagaimana dunia kerap menjauh dari sesuatu yang berbeda, seolah perbedaan adalah jarak yang harus dijaga. Maka dari pertemuan itulah ia mulai menemukan langkahnya, berjalan bersama orang-orang yang percaya bahwa setiap manusia berhak punya ruang untuk tumbuh tanpa takut dipersempit.

Sedikit demi sedikit rumah itu kemudian berdiri, bukan sebagai rumah yang megah, tapi sebagai rumah yang hangat. Mewujudkan namanya menjadi rumah yang membahagiakan bagi semua. Kini, ia menjadi yayasan yang merawat lebih dari sekadar program kerja. Di dalamnya, sekitar seperempat pengurusnya merupakan teman-teman disabilitas, didominasi oleh teman tuli yang menjadi denyut rumah itu sendiri.

Setiap minggu, rumah itu bernafas lewat bina latih. Mereka belajar, mereka tumbuh, bukan untuk menjadi cukup tapi untuk sadar bahwa mereka memang sudah cukup. Tangan-tangan mereka turut menggandeng kantor-kantor kecamatan, forum keluarga disabilitas, pula sekolah luar biasa yang ada di Kota Malang. Melalui genggaman itu, mereka saling menemukan dan mengenal. Dari sana, sesuatu mulai tumbuh, lalu menemukan bentuknya melalui Kriya Gembira.

Di ruang ini, sebuah garis tidak lagi berhenti sebagai sekadar coretan. Garis-garis itu menjelma sebuah kemungkinan. Imaji-imaji mereka berubah menjadi sesuatu yang bisa dipajang pula dikagumi. Semuanya lahir dari tangan-tangan mereka yang mungkin dulu diragukan. Luna dan Jojo berada di sana, bekerja dalam diam yang tidak kosong. Tangan mereka berbicara dengan cara mereka sendiri, mengisi ruang dengan sesuatu yang tidak perlu diterjemahkan oleh bahasa manapun.

Rumah itu tidak tinggal diam dalam dirinya sendiri, ia meluas, mencari ruang lain yang percaya pada hal yang sama. Salah satunya adalah Cerita Spectra, tempat di mana pintu-pintu mereka terbuka tanpa syarat yang fana. Di sana, seorang staf tuli akan menyambut dengan senyum sehangat kopi yang disajikan.

Di sudut ruangan, sebuah kursi roda berdiri tenang, seolah diam-diam berkata bahwa empat ini sudah bersiap untuk siapa saja yang datang. Dan jika kembali pada meja meronce itu, benang-benang tipis yang semula tercerai kini mulai saling mengikat, manik-manik kecil yang semula berserak kini menemukan bentuknya. Tidak ada karya yang sempurna dari meja itu, tidak ada pula yang serupa, tapi karena itu mereka hidup. Layaknya Omah Gembira, yang tidak membentuk manusia menjadi serupa, melainkan merangkai mereka, apa adanya.

Penulis: Aulia Hasti Zalika R.
Fotografer: Aulia Hasti Zalika R.
Sumber Foto: Arsip Kriya Gembira

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.