KABUT DI RUANG TUNGGU

Kelopak mawar itu jatuh..
Terempas angin, tergolek di tepian jalan.
Dan tangkai yang enggan,
melihatnya rapuh sendirian.
Mematahkan tubuhnya
untuk pendampingan.
Bidara membuka mata. Selaksa putih mengambang rupa. Semuanya tiada jendela bahkan pintu. Hanya satu kursi kayu di tengah ruangan. Matanya mengedar seolah bangun tidur. Lalu tanpa alasan yang ia mengerti, Bidara duduk di kursi.
Udara rendah memeluk tubuhnya. Terasa dingin pasi. Tak tahan, ia dekap dua lengan, menyilang kemudian mengusapnya. Dia tak berbohong tentang rasa itu. Setidaknya embusan putih berembun dari mulut itu setara jawaban.
Arti senyap itu lalu menumpuk kebingungan. Bidara mencubit lengannya. Tuhan, terasa sakit. Ini bukan mimpi, gumamnya. Bidara melihat sekeliling. Kabutnya kian pekat. Dia berdiri lagi. Meraba pelan memutari ruangan. Ada batas dinding dalam kungkungan halimun. Tangannya mampu merasakan itu.
“Halo?”
Suaranya menggema sebentar lalu lesap. Mendadak terdengar desau angin. Terpaannya tak ramah dengan disusul bias cahaya redup. Awan halus itu memapar warna kelabu. Seperti mendung. Kerejap terang gelap sekarang. Berakhir mati total. Dan sebuah kilau jatuh dari atas. Cahaya yang sungguh tak mampu ia terjemahkan muasalnya. Cahaya itu menerpa tembok. Layaknya proyektor, gambar bergerak muncul di sana. Dan mata Bidara bulat membesar.
Rumah itu sangat familiar. Properti seperti sofa krem kesayangannya, meja kayu, dan rak buku dengan kasaunya yang aus. Dan adik kandungnya, Kinan menggigil di sofa itu. Di dunia ini dialah yang ia punya. Kedua orang tuanya meninggal saat bertugas di luar negeri. Meninggal mulia dalam pengabdian, begitu yang orang katakan. Dan sejak itu Kinan menjelma daging sedangkan Bidara adalah uratnya.
Sebuah foto dirinya ada dalam gigil pelukan Kinan. Dan untaian karangan yang tampak di sisi pintu bukan sekadar hiasan.
“Aku telah mati,” desis Bidara.
Bidara memahami posisinya. Namun tak ingat bagaimana caranya ia tersekap.
“Siapa saja keluarkan aku, di sini!” teriaknya yang tak tega menyaksikan Kinan terpuruk demikian.
Terdengar cegukan dari layar. Bidara fokus kembali. Bidara ingin teriak memanggil. Namun layar hanya gambar. Kewarasannya menyatakan tak mungkin saudarinya itu mendengar.
Tak berapa lama seorang pria masuk. Posturnya tegap, tapi memikul beban di antara pundaknya. Matanya tak kalah nanar. Dialah Sabrang, pacar Kinan.
Melihat kedatangan kekasihnya bergegaslah Kinan memeluk.
“Telah seminggu kepergiannya. Dan setiap hari hanya pedih yang kurengkuh! Aku ingin menyusulnya!”
Kontan baik Bidara dan Sabrang merasakan keterkejutan. Bidara cemas bukan kepalang dan juga kebingungan. Tak mungkin masa seminggu itu begitu saja terlewat padahal penjelmaannya baru sekian menit lalu. Sementara Sabrang yang mendengar isak dan keputusasaan Kinan segera menenangkan.
“Kamu tak boleh menyerah begitu! Dengarkan aku Kinara!” merenggangkan pelukan. Dan keduanya bertatap dengan ekspresi berlawanan. Sorot mata Sabrang tulus peduli membias rupa Kinan yang terempas dalam.
“Takdir itu pasti berlaku. Namun kakakmu juga kuyakin tak menginginkan ini. Sebagai adiknya kamu harus kuat. Ayo kita perlihatkan agar Bidara tersenyum di surganya.”
Shuutt!!! Layar tiba-tiba mati. Gelap sebentar kemudian terang kembali.
Bidara terhenyak dari duduknya.
“Sialan! Apa maksudnya ini! Kamu siapa! Kembalikan aku!” berontaknya. Seperti kesetanan, Bidara berlari memutari ruangan yang asing itu. Teriak dan mengumpat! Ia melayangkan protes. Merasa terabaikan, Bidara angkat kursi dan membantingkannya ke tembok tempat sketsa.
“Pulangkan aku..,” ucapnya mengiba. Bidara duduk melipat tangan ke lutut. Dalam kesendirian yang dingin itu ia kembali meraung dan meminta ampun.
Dan di tengah kepasrahan yang paling dasar, sebuah suara datang.
“Apa kau tak mengerti?”
Bidara tersentak. Kepalanya mendongak, matanya mengedar liar.
“Celakalah kamu! Keluar! Mengerti apa? Aku tidak mengerti apa-apa! Yang aku tahu aku ingin pulang! Aku ingin kembali ke Kinan! Adikku sendirian di luar sana! Dia hancur!”
Lagi Bidara berteriak sampai suaranya serak. Dan nyatanya hanya keheningan yang kembali merajai ruang. Bidara tetap menunggu. Lama, lalu cahaya itu menerpa tembok lagi.
Kinan muncul dengan sekarang berbeda penampilan. Rambut Kinan yang kusut, kini tertata rapi. Wajahnya yang dulu pucat, kini merona sehat. Ia duduk di sofa dengan secangkir teh di tangan. Di sampingnya ada Sabrang merangkul pundaknya. Mereka tertawa dan bercanda. Sabrang meraih tangan Kinan, menggenggamnya mesra.
“Jika kamu tak mempunyai siapa-siapa lagi. Aku adalah pria yang memastikan akan menemanimu. “
“Janjimu bisa kupegang? “
Sabrang meraih telapak tangan Kinan. Pria itu menempelkan di dadanya.
“Detak jantungku yang tenang itu karenamu.”
Dan ekspresi Kinan memerah malu.
Bidara menyaksikan dengan kedamaian. Pria itu menautkan napas kehidupan ke adiknya. Dan ini berarti kebaikan. Bidara berpikir sejenak, mungkin dengan kesiapan ini semua akan selesai. Ada seorang utusan yang akan datang menjemputnya kepada satu kepastian tempat.
Tiba-tiba tayangan berganti kembali. Kinan dan Sabrang kini telah berada di sebuah restoran mewah. Kinan mengenakan gaun biru muda, warna kesukaannya. Sementara Sabrang rapi dengan kemeja putih. Di meja, sajian mewah tersedia. Kinan menampilkan roman bahagia. Sementara Sabrang menatapnya dengan pandangan yang tak bisa berdusta: cinta. Di momen itu, Sabrang mengeluarkan sebuah kotak kecil. Ia buka dengan lembut. Sebuah cincin di atas beludru merah. Sabrang menambatkan lamaran kepadanya. Dan aura sejuk kian memijar dari wajah Kinan. Bidara yang menyaksikan itu tak kuasa membendung harunya. Cincin bersulam permata itu Sabrang selipkan ke jari manis Kinan. Dan hawa asmara merebak bunga. Mereka berpelukan dengan begitu mesra.
Bidara tersenyum sesegukan. Tangisnya jatuh tanpa ia sadari.
“Siapapun kamu. Aku rela sekarang. Aku rela melepasnya. Bawa aku sekarang. Hadir ke sini! Bawa aku segera.”
Tak nyana sekelebat bayang putih muncul dari kabut. Tubuhnya tinggi besar. Dia mendekati Bidara yang kaget. Sang Utusan ini tiada tampak muka. Hanya cahaya yang menyilau dari area wajahnya. Setengah takut, tubuh Bidara menyandar tembok.
“Kamukah yang akan membawaku?”
Sang Utusan diam. Hanya jarinya mengacung ke tembok. Bidara paham maksudnya. Dia berjalan mendekati Sang Utusan, duduk dan menyaksikan kembali layar.
Kali ini layar menunjukkan bulan purnama yang Indah sempurna. Kemudian sorot gambar jatuh pada sebuah kebisingan. Sebuah mobil ambulan meraung menerebas jalanan padang bulan. Bidara mengernyit. Matanya memicing mengekori mobil yang melaju kencang itu. Dan sebelum tayangan itu mati, sekelebat gambar dari kaca ambulan mengekspos wajah yang pucat pasi.
“Kinann?!” sebutnya terkejut.
“Tidak…” bisiknya. “Jangan… Apa yang terjadi? Kinan?!”
Bidara berdiri. Ia patungi tajam sosok di belakangnya. Kini tiada rasa ketakutan itu.
“Apa yang kamu perbuat, hah! ” hardiknya sambil mencoba mencengkram jubah Sang Utusan. Namun tangannya hanya meraba angin. Makhluk itu tembus. Bidara yang terkejut bercampur bingung terus mengulangi. Dan hasil sama. Makhluk itu terlihat tanpa mampu diraba.
“Sang Utusan tak salah apapun Bidara, ” sebuah suara tak asing menyoloroh dari dalam kabut. Suara pria yang sungguh familiar.
Bidara mngarahkan dua biji matanya ke dalam kungkungan halimun. Terperanjat! Kemudian terpaku dan membeku di sana. Matanya membelalak sempurna.
“Sabrang?! Apa yang kamu lakukan di sini!”
Sabrang hanya tersenyum. Dan dari kokoh cara berjalannya, dapat disimpulkan ia menyematkan sikap keyakinan.
“Kamu… kamu di sini?! Berarti kamu… Tidak… Jangan bilang kamu…” kata-kata Bidara memberondong sejuta tanya.
Sabrang mengangguk pelan, “Aku mati, Bidara.”
Bidara mengekspresikan segalanya. Matanya masih menolak sosok yang ada mendekatinya itu. Bidara menggeleng. Gelengannya kian cepat gemetar. Dia kian panik.
“Tidak..? Tidak mungkin… Aku lihat kalian bahagia! Aku lihat kalian tunangan! Aku lihat kalian… Kenapa?! Kenapa kamu lakukan ini padanya?!”
“Aku tidak melakukannya, Bidara. Ini… ini takdir. Dan takdir masih memungkinkan adanya pilihan nasib. Setiap yang kita pilih tetap akan mendapatkan kosekuensi. Dan kosekuensi itu tetap membuat takdir berjalan. Hanya intensitasnya berbeda tingkatan.”
“Pilihan? Kosekuensi?! Apa?? Aku sama sekali tak mengerti!”
Sabrang menghela napas panjang. Lalu ia duduk di lantai, bersandar pada ketiadaan. Matanya menatap tajam ke layar.
“Silakan tunjukkan, Tuan, “pintanya kepada Sang Utusan.
Layar menampilkan gambar berbeda. Sebuah mobil yang ditumpangi Sabrang dan Bidara melaju kencang di malam purnama. Di jalan raya, mobil itu meliuk-liuk menyalip mobil lainnya.
Bidara mencoba mengingat. Potongan-potongan memori mulai merangkai sketsa. Sabrang yang tersenyum bahagia, menceritakan rencananya. Sementara dirinya sendiri, diam. Dadanya terisi jelaga! Sesak. Dan Bidara wujudkan itu dalam kepalan tangan. Setelahnya membuncahlah semua.
“Tunangan, katamu!”
“Sewajarnya pungkasan kekasih. Ujung cinta itu tentulah hidup bersama, Bidara.”
“Kamu mau rebut adikku, orang yang hanya kupunya di dunia ini! “
Di sana tampak Sabrang memulasi keningnya.
“Kumohon Bidara, sudahi egoismu ini.”
“Kamu tak akan merasakannya sebab keluargamu utuh.”
Sabrang terdiam mencoba fokus mengemudi.
“Aku izinkan kamu dekat dengan adikku, tak berarti kamu rampas dia dariku.”
“Ayolah, Bidara. Aku tak akan jauhkan dia darimu. ” Hening sejenak. Lalu Sabrang ikut tumpah oleh jengkelnya.
“Kamu posesif, Bidara. Aku akui sejak orang tua kalian meninggal, kamu adalah semesta bagi Kinan. Dan Kinan adalah segalanya bagimu. Kalian seperti satu jiwa dalam dua raga. Tapi kasih tak boleh memenjarakan. Dan tanpa sadar, kamu memenjarakan Kinan dalam kekhawatiranmu.”
“Omong kosong!” sentaknya. “Kamu yang coba memenjarakannya!”
Dari tempatnya melihat kejadian itu, Bidara merasakan kegelapan dan panas meluap dalam sanubarinya. Perasaan yang sulit ia tolak mengingat itulah wataknya. Hal selanjutnya adalah yang sama sekali tak ia duga.
“Memang telah jadi nasib turunanku! Kurasa aku selesai memperjuangkan dan berakhir terbuang layaknya bungkusan.”
Bidara merangsek dasbor, membuka pintu! Layar mati! Dan seperti ruh tubuh jatuh ketika bermimpi, seketika bayang itu kembali pada kenyataannya.
Di depan layar, Bidara mengerutkan kening. Ambruk terduduk. Lututnya lemas karena tak mampu lagi menopang.
“Itulah kematianku,” bisiknya.
Sabrang mendekati Bidara. Berjongkok, ia pandangi Bidara yang berwajah tak percaya.
“Semua karenaku, Sabrang.”
Dan sejurus kemudian mendadak mata Bidara mencekat. Pendar cahayanya mencuat.
“Tapi…, tapi kenapa aku di sini? Kenapa tidak ke surga atau ke neraka?”
Sabrang menghela napas. Dengan tenang ia tepuk-tepuk pundak Bidara.
“Nasib itu terjadi jauh sebelum kamu pertama kali ke sini dan melihat layar. Tayangan di mana akupun diperlihatkan. Ini ruang tunggu, Bidara. Bukan surga, bukan neraka. Ini tempat orang-orang yang menggantung. Yang belum bisa pergi karena ada yang belum selesai.”
Bidara mendongak. Ia tatap wajah peduli Sabrang dengan penuh kebingungan.
“Belum selesai? Apa yang belum selesai? Aku sudah mati!”
“Silakan lanjutkan, Tuan.”
Kemudian layar menyala kembali. Di sana tampak kejadian sesudah Kinan menerima ikatan cincin. Di rumah usai Sabrang mengantarkan Kinan pulang dan membiarkannya pergi ke kamar, Sabrang pun kembali ke rumah. Namun dalam perjalanan, sebuah handphone yang tertinggal mengantarkan Sabrang kembali.
Dan di sanalah, Sabrang mendapati Kinan tak menuju kamarnya. Dari balik kaca jendela, Sabrang mendapati Kinan yang tergolek sambil menangis. Berulang kali Kinan mengucapkan nama Bidara dengan penuh gugat untuknya kembali. Bahkan didadapatinya sikap Kinan mulai mengamuk dengan melemparkan apa saja yang ada didekatnya.
“Itulah kejadian yang menyadarkanku, Bidara. Pernikahanku nanti tiada akan membawanya bahagia. Sebagian orang mengalami trauma berat yang demikian. Dan aku paham semestinya harus berbuat apa.”
“Kamu?” tukas Bidara tak percaya pada paranoid duga yang berseliweran dalam pikirnya.
“Pria di depanmu itu memilih nasibnya. Dan biar bagaimanapun aku menceritakan tentang sebermula ruang waktu itu, kalian manusia tiadalah bakal mengerti,” sergah Sang Utusan.
“Benar Bidara. Kepada utusan itu aku memilih diri, ” tunjuknya.
Sabrang lalu berdiri sambil meraih bahu Bidara, menggenggamnya hangat.
“Kamu akan kembali padanya, Bidara.”
Bidara menangis kembali.
“Maafkan aku, Sabrang. Maafkan aku karena egoku telah membawa semua ke sini.”
“Aku sudah memaafkanmu sejak lama. Sekarang, tugasmu di dunia: jaga Kinan. Temani dia melewati duka ini. Jadi urat untuk daging itu lagi. Namun kali ini, biarkan dia tumbuh. Biarkan dia punya sayapnya sendiri. Cintai dia tanpa membuatnya terpenjara.”
Bidara mengangguk. Air mata panas itu bersaksi tentang sebuah perjanjian.
“Kalian telah selesai, ” kata Sang Utusan mendekat dan berada di tengah keduanya. Sabrang dan Bidara saling berpandangan.
” Aku tak sesali keputusanku, Bidara.”
Kemudian udara memuai rendah. Kabut menebal diiringi kerlip cahaya yang lamat-lamat redup.
“Selamat tinggal,” bisik Sabrang bersama halimun yang membawa mereka. Semua pupus seperti asap halus.
Bidara membuka mata. Terbaring pada sebuah bangsal. Bau alkohol dan obat-obatan menusuk hidungnya. Suara sirine meraung. Dan di sampingnya, seseorang memegang tangannya erat-erat. Bidara menoleh perlahan.
“Kinan,” sebutnya lemah.
Wajah Kinan sembab, matanya bengkak, rambutnya acak-acakan.
“Kakak!” suaranya serak diiringi pelukan.
Dengan keadaan lemas, Bidara menyambut pelukan itu. Mencium dan mengusapi rambut Kinan.
“Sedang apa aku di sini? “
“Kalian kecelakaan, Kak,” jawab Kinan sesegukan.
“Sabrang?”
Dan tangisan Kinan meledak dengan wajah membenam di dada Bidara. Dengan gemetar telunjuknya mengarah kepada satu bangsal di belakangnya. Seonggok tubuh telah terbungkus kantong jenazah berwarna senja.
Penulis: Heri Haliling* (kontribusi pembaca)
(* Heri Haliling merupakan nama pena dari Heri Surahman. Dia seorang guru di SMAN 2 Jorong. Selain mengajar, Heri Haliling juga aktif menulis. Beberapa karyanya meliputi novel, novelet, dan kumpulan cerpen telah terbit baik di media/majalah cetak atau online. Untuk berdiskusi dengan Heri Haliling pembaca dapat berkunjung ke akun instagram @heri_haliling, email heri.surahman17@gmail.com atau nomor WA 083104239389.
