SUARA-SUARA MELANKOLIS DI GEMA MAY DAY

0
Fotografer: Nabila Hanifaty Nuryasha

Sekelebat cahaya sapaan matahari merangsek ke merenggut nyenyak seorang paruh baya dari tidurnya. Hari itu, pagi memiliki binar yang berbeda dari biasanya. Nurrahman—seorang buruh pabrikan—terbangun dalam hening sejenak. Tidak ada lagi sisa-sisa kepanikan ketika seorang pekerja pabrik dipaksa oleh waktu untuk segera menyiapkan dirinya berangkat kerja. Pagi itu, Nurrahman berkata kepada dirinya sendiri. Ia menegaskan bahwa hari ini adalah hari miliknya: hari buruh.

Nurrahman ialah seorang pekerja pabrik yang sibuk pada bidang industri bahan bangunan di sebuah daerah di Kabupaten Malang. Ia merupakan satu dari beberapa buruh yang memiliki usia sudah tidak lagi muda. Umur yang sudah hampir uzur tidak dianggap menjadi alasan yang masuk akal untuk berhenti berjuang bagi Nurrahman. Dalam diri Nurrahman, curah semangat itu bisa selalu muncul selama jasmaninya masih dikaruniai tenaga.

Hal yang sama dengan seorang perempuan yang juga menjalani garis tangan sebagai sosok pekerja keras. Yuli—seorang buruh pabrik rokok—adalah satu dari kaum perempuan yang memancang riuh rendah kehidupan sebagai wanita pekerja. Semangat ia bercerita menampilkan bagaimana ia mengisahkan suatu perjalanan hidup yang berat dan panjang. Ketika selalu ditanya tentang nafkah suami, dalam benaknya, “Luwih penak nyekel dewe-dewe [lebih enak megang uang sendiri-sendiri].”

Jumat, 1 Mei 2026 adalah pengumuman penting bagi orang-orang seperti Nurrahman dan Yuli. Jutaan kaum buruh di seluruh dunia menanggalkan pakaian kerja mereka rapi-rapi dalam gantungan lemari. Kendati demikian, bukan semata artinya mereka diliburkan atas pekerjaan mereka. Mereka yang lama terkulai nasibnya oleh duniawi, tiba saatnya berkeras-keras mengungkap suara yang telah lama menjadi gumaman.

Riuh Rendah sebagai Seorang Buruh

Bangun dari tidurnya, Nurrahman mencanangkan satu kesaksian atas dirinya sendiri. Ia mendebar wajah semangat ketika menanggapi bahwa hari ini adalah hari dimana dirinya patut bersorak merayakan. Sebuah suasana yang cukup dirasakan setahun sekali oleh para buruh di seluruh dunia.

Nurrahman bergegas menuju seremoni pelepasan semangat itu dengan mencangking motor Yamaha tua. Tak sendirian, ia membonceng temannya menuju seremoni. Mereka kompak berangkat dari daerah Krebet, Bululawang pagi itu. Jumlah mereka sekitar 30 orang. Mereka serempak berangkat menggunakan sepeda motor masing-masing sampai menuju titik kumpul di Stadion Gajayana, Kota Malang. Sesampainya di sana, mereka segera bergabung dengan Solidaritas Perjuangan Buruh Indonesia (SPBI).

Arek-arek kumpul mulai jam 9 nde Stadion Gajayana, terus ngumpul nang kene [Balai Kota] jam 1 an,” terang Nurrahman.

Kumpulan massa solidaritas buruh pada waktu itu diseragamkan dengan identitas kaos berwarna merah dengan penggambaran lambang organisasi SPBI di tengahnya. Massa yang terdiri dari ratusan warga buruh (pria dan wanita) dikumpulkan atas satu arah tujuan yang sama. Tujuan itu tidak lain adalah perayaan hari buruh yang dipentaskan dengan momen-momen pertunjukan orasi di depan Balai kota Malang, nyanyian-nyanyian, dan konvoi. 

Suasana bergemuruh oleh gerombolan masa buruh pada hari itu mengalihkan sejenak simpang siur kendaraan di jalanan kota. Balai Kota Malang, menjadi titik aktivitas para buruh dan banyak elemen masyarakat lainnya. Aktivitas yang sampai dengan menjaring antusias dari ratusan orang kala itu dibarengi oleh satuan penanggung jawab yang menjadi pengawas kondusivitas lapangan. Polresta Malang turut ikut menjadi pengawas lapangan sampai dengan acara berujung usai.

Di balai kota, banyak cerita itu dirajut. Ratusan wajah-wajah yang menyimpan semangat itu menyeruak ramai dalam satu peristiwa yang sama. Massa buruh yang berdatangan menuju pada titik kulminasi. Acara yang telah dipersiapkan matang jauh hari kini telah berjumpa masanya. 

“Ayo ayo ayo, buruh!” sentakan suara terdengar di balik kerumunan.

Sementara, di pusat pusaran peristiwa itu nampak seberkas cerita lain yang hingar-bingar menyusun alurnya. Di tengah deru bising suara knalpot motor mendesir satu persatu hilang, sebuah pemandangan banyak angkot yang tak kalah banyak berdatangan. Satu diantaranya nampak penuh diisi oleh banyak kalangan perempuan buruh.

Mereka yang datang dari kalangan perempuan, banyak dari mereka semula menampakkan wajah riang tak kalah semangat dengan yang lain. Dalam kerumunan itu, terlihat Yuli melipat tangannya di dada erat-erat. Seorang pria dari kerumunan sontak mendatanginya, “Ini ketua kelompok buruh wanita pabrik rokok Karanglo!” candanya kepada orang-orang disitu ketika mendatangi Yuli. Yuli membalasnya dengan sungging lengkung ceria di wajahnya.

Hari itu, semua buruh datang dengan celengan batin keresahan menumpuk penuh. Mereka datang dari berbagai daerah di Malang atas satu tujuan yang sama. Hari buruh, bagi mereka, adalah hari dimana setiap buruh di pelosok daerah manapun membunyikan satu suara dengan semangat: keadilan.

Hari Perayaan Nestapa

Ketika merundung nasib menjadi seorang buruh, Nurrahman susah mengatakan bahwa ini adalah pilihan hidup. Menyingkap kesah batinnya, Nurrahman tetap mencoba berdamai dengan kata-kata, “Anane ngene, mas…” meluncur pasrah melalui kedalaman batinnya. Ketika berucap seperti itu, Nurrahman terlihat sedang berteka-teki dalam tutur. Dalam lisannya yang rendah hati tersimpan sebuah kemauan besar: mengubah nasib.

Hal itu dimulai ketika tempat Nurrahman bekerja telah banyak menuai sisi problematik yang sampai mengarah kepada aksi demonstrasi oleh para pekerjanya. Sisi pilu yang diyakini Nurrahman menjadi masalah utama dirinya dan teman-teman kerja yang lain adalah gaji proyek.

“Masalah gaji wes bolak-balik demo, Mas,” tuturnya.

Saat berbicara, Nurrahman terlihat mengulum bibir pasrah. Menandakan bahwa nasib yang menjadi bagian dari dirinya adalah suatu perjalanan hidup yang sudah ditetapkan oleh takdir dan susah diubah. Hal itu lebih-lebih dirasakan ketika Nurrahman bercerita bahwa aksi demonstrasi terhadap atasan pabrik sudah seringkali dilakukan.

“Demo mulai sebelum 2009 sering. Tekok 2009 demo iku wes mundak [naik gaji], tapi saiki wes mulai gak mundak maneh,” tambahnya.

Di tengah kondisi fluktuasi harga pasar yang selalu naik, sebagai buruh yang turut merasakan dampaknya, Nurrahman merasa bahwa setiap perubahan itu harus dibarengi dengan kenaikan gaji oleh pabrik tempat ia bekerja. Oleh karena itu, tak heran apabila aksi demonstrasi kerap dilakukan. Hal itu adalah perwujudan pengalaman batin yang tersiksa ketika kondisi tempat bekerja tidak cukup mendukung pemenuhan kesejahteraan para pekerja.

Ketika menjelaskan soal gaji, Nurrahman memperlihatkan kembali wajah sendu berkata, “seminggu full ya gajian 600. Berarti sak wulan e 2400,” artinya ketika bekerja secara penuh, dalam sebulan gajinya cukup hanya sebatas dua juta empat ratus ribu—uang yang tak cukup sepadan mengingat waktu kerjanya yang cukup menyita.

Menerima kenyataan bahwa gajinya dari pabrik saja tidak cukup memenuhi segala kebutuhan finansial keluarganya, Nurrahman berkata bahwa untuk menopang kebutuhan hidup, ia banyak mencari jalan keluar dari hal-hal yang lain. 

Gae bayar sekolah [anak] carae yo utang, mas,” ujar Nurrahman terkekeh lirih.

Sambil berkata seperti itu, Nurrahman sedang menyembunyikan beban di balik senyum yang ia paksakan sendiri. Kadang kala untuk menutup kekurangan gajinya, Nurrahman menyempatkan diri menjadi seorang kuli bangunan. Hal itu ia lakukan di kala pabrik sedang tidak berproduksi. “ya nggolek-nggolek, mas. Dadi kuli bangunan misale,” ujarnya sambil melanjutkan aksi.

Ketika menceritakan pengalaman atmosfer demonstrasi kepada atasan pabrik, Nurrahman terlihat bangga dengan mengatakan, “arek-arek yo guyub, mas,” jelas Nurrahman dengan senyum semangat. Ia meyakinkan bahwa aksi ini dibangun atas antusiasme solidaritas yang kuat sesama rekan sepekerjaan. Dengan semangat sesama buruh, mereka yakin bisa melakukannya.

Di tengah reriuhan lautan manusia yang selalu bergemuruh sorak, di sana nampak pula rasa keteguhan yang tak mau kalah dari kaum perempuan. Hadirnya tidak diikuti dengan suruhan siapapun. Mereka bergerak sepenuhnya dengan kesadaran atas diri mereka sendiri. Banyak dari mereka yang hadir menampakkan tawa yang memulas lelah.

Ketika bersua, mereka sangat terbuka atas cerita-cerita tentang kesibukan mereka di rumah. Di dalam gelak tawanya, beberapa dari mereka bercerita tentang jumlah anak yang dibuntuti kerepotan yang menyertainya. Menjadi bagian dari mereka, Yuli terlihat masih berdiri dengan semangat yang tak lekang. Dirinya juga turut asyik dalam perbincangan itu.

“Anakku cowo-cewe. Keseharianku kalau kerja di pabrik, ya tangine lebih awal, biasae tangi jam 4 masak disek sampe mari,” ujar Yuli.

Cerita penuh peluh dan keringat itu tidak tampak seperti sebuah kesedihan di mata mereka. Mereka menceritakan lalu-lalang setiap kesibukan sebagai perempuan dengan kemantapan hati yang membuat mereka terlihat tetap tegar. 

“Jelas kalo orang hidup itu ada susah ada senang. Tapi lek susahe tak skip, tak singitno,” kata Yuli.

Rasanya, Yuli tidak ingin termangu akan nasib bersusah-payah yang dialami oleh dirinya. Oleh karena itu, ia menampakkan wajah cerah tawa untuk menutupi kepedihannya. Baginya, hal itu adalah satu-satunya jalan untuk menutupi sejenak bayang-bayang ketakutan yang mereka rasakan. Dengan perlakuan seperti itu, Yuli bisa bertahan hidup dan semakin tegar sebagai seorang perempuan pekerja keras.

Kondisi susah payah itu menjelma layaknya denting jarum jam yang menjadi ritme yang terus berjalan dan sukar hilang. Namun, Yuli selalu memiliki cara untuk berlagak dengan caranya sendiri agar tetap bisa menjalani hidup sebagaimana harusnya. Yuli memandang bahwa susah payahnya dalam pekerjaan adalah keniscayaan atas logika materi untuk bertahan hidup. Pilihan tersebut terbentuk atas dasar pikiran bahwa hidup selalu membutuhkan uang.

“Sehari full kerja, di pabrik dari jam 5 pagi sampai jam 5 sore, “ jelas Yuli, “pas waktu makan, cuma diberi waktu 15 menit di jam 9 pagi.”

Yuli menambahkan, “Waktu singkat itu kan diuber cek gak kepor.” Ketika menjelaskan itu, ia seperti orang yang terus berkejaran dengan tuntutan. Di wajahnya terukir kerutan pekerja keras. Tekadnya adalah ketika waktu istirahat diberikan dalam waktu yang lama, maka waktu untuk produksi akan berkurang. Alhasil, target harian produksi akan susah tercapai. 

“Sehari itu menyesuaikan target. Misalnya, milih garapan 3000, jadi 12 jam itu harus [menghasilkan] 3000 batang rokok,” jelas Yuli, “ya menyesuaikan kekuatan sama kebutuhan di rumah.”

Pabrik tempat Yuli bekerja membuka keleluasaan mengenai target produktivitas kerja. Keleluasaan mengatur target itu membuat setiap buruh pabrik bisa memiliki waktu kerja yang berbeda satu sama lain.

“Kalau aku kan jam 6 pagi berangkat dari rumah, jam 7 sudah sampai di pabrik, ngambil target 5000. Jadi, jam 4 sudah selesai aku pulang,” terang Yuli.

Masa-masa yang berat ketika bekerja sudah dirasakan oleh Yuli selama 28 tahun. Ia adalah seorang perempuan tamatan sekolah dasar yang memutuskan menjadi buruh pabrik semenjak dari tahun 1997. Keputusan yang berani bagi seorang anak lulusan SD pada waktu itu. Dalam usianya yang masih kanak-kanak kala itu, Yuli sudah mengenal bagaimana tapak jejak kehidupan yang diselimuti oleh susah payah.

“Dulu iku ibuku nyuruh sekolah SMP aja. Aku nggak mau, alah aku sekolah SMP juga kerjane yo nang kene podo ae,” kata Yuli tersenyum renyah.

Penulis: Fudhail Najmuddin Almuzakki
Editor: Muhammad Tajul Asrori

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.