AKSI KAMISAN KE-136 DI MALANG SUARAKAN PERLAWANAN TERHADAP KEKERASAN SEKSUAL DI KAMPUS

0

Fotografer: Zalfa Qonita

MALANG-KAV.10 Sore itu, awan kelabu menggelayuti langit Kayutangan, Malang pada Kamis (16/4). Tak lama hujan deras membasahi jalanan dan orang-orang yang bertahan di bawahnya. Namun, hujan saja tak cukup untuk mematikan semangat dari para massa Aksi Kamisan ke-136. Aksi ini digelar sebagai bentuk respons terhadap kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh sejumlah mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI).

Genangan air tak menghentikan massa untuk bergantian menyampaikan orasi yang menyoroti maraknya kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus. Suara seorang orator terdengar lantang menembus kerumunan. “Perempuan tidak sedang menyangga setengah langit, perempuan hari ini justru tertimbun oleh langit yang runtuh,” ujarnya menyoroti kondisi perempuan yang masih terpinggirkan dan rentan terhadap kekerasan. 

Fasilitator aksi, Indah Gita atau yang kerap disapa Ghea, menegaskan bahwa aksi ini tidak berhenti pada kemarahan semata, melainkan sebagai bentuk perlawanan terhadap kekerasan seksual yang terus berulang. 

“Tujuan kita bukan hanya untuk marah saja, tapi mengawal kasus ini [kekerasan seksual] hingga tuntas, jangan sampai hanya viral lalu hilang begitu saja,” tegasnya.

Menurut Ghea, penting untuk mengawal kasus kekerasan seksual, terlebih pada kasus yang terjadi di FH UI secara konsisten agar tidak berhenti sebagai perhatian sesaat. Ia juga menegaskan pentingnya kesadaran publik mengenai edukasi tentang kekerasan seksual, “Karena masih banyak banget teman-teman yang menganggap kalau ini itu cuman bercandaan ataupun normal di group chat cowok-cowok,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu peserta aksi, Nisa, terdorong untuk mengikuti aksi karena rasa marah setelah melihat bukti kasus kekerasan seksual yang beredar di publik. “Saya merasa marah ketika melihat screenshot dari group chat mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia yang melakukan kekerasan seksual terhadap perempuan,” ujarnya.

Ia juga menilai bahwa lingkungan sekitarnya masih belum sepenuhnya aman bagi perempuan. “Menurut saya, lingkungan sekitar saya saat ini belum aman bagi perempuan, karena sebagian besar laki-laki itu masih belum teredukasi atau masih mewajarkan perilaku seksisme dengan dalih hanya bercanda,” pungkasnya. 

Lebih lanjut Nisa berharap aksi seperti ini dapat meningkatkan kesadaran publik terhadap pentingnya ruang aman. “Semoga semakin banyak orang yang sadar dan lebih peduli, serta ikut menyuarakan pentingnya ruang aman bagi semua gender.”

Monumen lokomotif yang terletak di samping Taman Wilhemina, Kayutangan menjadi saksi bisu suara-suara perlawanan terus bergema. “Hidup perempuan yang melawan! Jangan diam, lawan!” seru orator menutup Aksi Kamisan, menegaskan bahwa diam bukan lagi pilihan. 

Penulis: R. AJ. Afra Aurelia Luqyandysa
Editor: Sofidhatul Khasana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.