PERINGATI INTERNATIONAL WOMEN’S DAY, PULUHAN MASSA TUNTUT RUANG AMAN BAGI PEREMPUAN

0

Fotografer: Ahmad Reza Uzfalusi

MALANG–KAV.10 Jalanan Kota Malang kembali merekam jejak perlawanan dalam peringatan International Women’s Day (IWD) ke-115, pada Minggu (8/3). Puluhan massa dari elemen mahasiswa hingga orang tua berkumpul di Alun-Alun Kota Malang untuk melakukan konsolidasi. Di bawah tema “Melawan Sistem Penghancuran, Rebut Kesetaraan, Ciptakan Ruang Aman bagi Perempuan”, massa menuntut pemenuhan hak-hak yang selama ini tersendat oleh ketimpangan struktural.

Sepanjang long march menuju ke kawasan Tugu Lokomotif, Kayutangan Heritage, pekik solidaritas seperti “Hidup perempuan yang melawan!” dan “Buruh, tani, perempuan, kaum miskin kota. Persatuan!” lantang bersahutan memecah bising kendaraan. 

Ruang jalanan seketika berubah menjadi mimbar bebas setibanya massa di Tugu Lokomotif. Berbagai alat peraga berisi tuntutan dan dukungan untuk kaum marginal dibentangkan lebar-lebar. Perempuan-perempuan secara bergantian mengambil alih pelantang suara, meluapkan keresahan lewat orasi dan puisi.

Salah seorang orator mengkritik tajam fakta bahwa banyak perempuan yang tubuh dan mimpinya masih dikontrol oleh sistem yang tidak adil. “Hari ini kita mengatakan cukup! Cukup diskriminasi, cukup untuk mengalah, dan cukup untuk dunia yang menganggap bahwa perempuan harus bertahan sendirian,” serunya di hadapan massa.

Ia menambahkan bahwa kesetaraan bukanlah hadiah melainkan hak yang harus dirasakan oleh semua perempuan. “Kesetaraan bukanlah hadiah, kesetaraan adalah hak, sebuah hak yang jika belum dirasakan semua perempuan maka kita tidak akan pernah diam. Kita tidak akan berhenti untuk terus bersuara,” tambahnya tegas.

Massa kembali merapatkan barisan untuk bergeser ke titik puncak aksi di Bundaran Balai Kota Malang. Di tengah keriuhan lalu lintas sore, semangat peserta aksi justru kian berkobar. Suara-suara yang selama ini dibungkam kembali menemukan ruangnya melalui bait-bait puisi bertajuk “Siapapun” karya Isrina Suryanto–mempertanyakan kesenjangan sosial yang selalu menyudutkan perempuan.

Aksi pun berlanjut dengan kritik tajam terhadap normalisasi pelecehan verbal di fasilitas publik yang mengikis ruang aman bagi perempuan. “Masih banyak perempuan tidak merasa aman di ruang publik. Berapa banyak yang harus menundukkan kepala saat berjalan karena siulan dan komentar dianggap candaan?” teriak salah satu orator. 

Ia juga menegaskan bahwa tindakan tersebut menyakitkan. “Kami ingin berjalan tanpa dihakimi dan dihargai sebagai manusia tanpa rasa takut.”

Suasana demonstrasi mencapai titik paling emosional manakala seorang penyintas kekerasan seksual maju ke tengah barisan. Dengan suara bergetar namun sarat ketegasan, ia menggugat impunitas hukum bagi pelaku pelecehan dan fenomena victim blaming yang masih subur di masyarakat.

“Sedih sebenarnya ketika kita merayakan IWD ke-115 ini, teman-teman perempuan di luar sana masih banyak yang menangis di atas luka struktural maupun psikologis. Sementara pelaku yang melakukan penindasan justru malah mendapatkan kebebasan dan bisa tertawa lepas,” ungkapnya.

Lebih jauh, ia melontarkan peringatan keras terhadap sistem yang melanggengkan kekerasan. “Saya sebagai penyintas kekerasan seksual di sini, saya mau bilang, siapa pun yang bikin struktur [sistem yang melanggengkan kekerasan] ini terus berjalan, terus dipertahankan, itu perlu dipertanyakan.”

Menjelang magrib, massa merapatkan barisan untuk menyimak pembacaan press release yang merangkum seluruh poin tuntutan. Aksi sore itu ditutup dengan satu kesadaran kolektif yang menggema dari pelantang suara bahwa mengubah nasib perempuan bukan hanya tugas perempuan, melainkan tugas kemanusiaan.

Penulis: Ahmad Reza Uzfalusi
Editor: Fenita Salsabila

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.