AKSI KAMISAN KE-134: MASSA SOROTI KEKERASAN APARAT

0

Fotografer: Muhammad Rif'at

MALANG–KAV.10 Seruan “Hidup korban, lawan!” menggema di kawasan Balai Kota Malang dalam Aksi Kamisan ke-134 pada Kamis (5/3). Massa yang terdiri dari mahasiswa dan warga Kota Malang berkumpul menyuarakan keresahan atas berbagai kasus kekerasan yang melibatkan aparat. Dalam aksi tersebut, massa turut menyoroti kasus kematian dua orang remaja di Makassar dan Maluku, serta hilangnya seorang mahasiswa setelah mengikuti aksi demonstrasi beberapa waktu lalu. Ketiga kasus ini disebut sebagai pengingat bahwa kekerasan terhadap warga masih terus terjadi dan belum sepenuhnya mendapatkan kejelasan.

Aksi diawali dengan disediakannya mimbar bebas untuk para peserta aksi menyampaikan pandangan secara bergantian. Dalam orasi-orasi yang disampaikan, massa mengungkapkan keresahan terhadap tindakan aparat yang dinilai kerap menindas masyarakat. Salah seorang orator mempertanyakan kondisi negara hukum saat ini. “Sampai kapan kita menyaksikan negara yang disebut sebagai negara hukum, tetapi aparat yang melanggar justru tidak dihukum sesuai aturan yang berlaku?” ujarnya.

Dalam orasi lainnya, peserta aksi menyoroti sumpah aparat untuk melindungi dan melayani masyarakat. “Banyak janji yang disampaikan, tetapi sampai hari ini kasus yang merenggut nyawa warga masih terus terjadi,” ujarnya dalam orasi.

Mereka menilai sumpah tersebut seolah dikhianati ketika tindakan kekerasan justru datang dari pihak yang seharusnya memberikan perlindungan. Massa juga mengingatkan agar masyarakat tidak memilih diam, karena siapa pun berpotensi menjadi korban berikutnya apabila kekerasan semacam ini terus dibiarkan.

Sejumlah orator juga menyoroti penggunaan istilah “oknum” yang kerap digunakan setiap kali terjadi kekerasan oleh aparat. Menurut mereka, korban yang terus berjatuhan menunjukkan bahwa persoalan tersebut tidak lagi bisa dianggap sebagai kesalahan individu semata. “Katanya hanya oknum, tapi korban terus bertambah. Sampai kapan kita akan diam melihat orang-orang terbunuh yang mereka anggap sekedar angka.?” ujar salah satu peserta aksi. 

Selain itu, para orator mengingatkan bahwa setiap korban tidak seharusnya hanya dilihat sebagai angka dalam statistik. Mereka menegaskan bahwa setiap korban memiliki kehidupan, keluarga, dan masa depan yang terhenti akibat peristiwa tersebut. Maka dari itu, masyarakat diajak untuk tidak menutup mata terhadap berbagai kasus tersebut serta terus mengawal penegakan keadilan.

Kritik juga diarahkan kepada pemerintah yang dinilai belum sepenuhnya memahami kondisi nyata di masyarakat. Sejumlah pernyataan pejabat dalam rapat maupun pidato disebut sering kali bertolak belakang dengan situasi yang terjadi di lapangan. “Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Aparat yang seharusnya melindungi rakyat justru sering menjadi sumber ketakutan. Lalu di mana negara ketika rakyat membutuhkan perlindungan?” ujarnya. 

Massa diakhiri dengan nyanyian dan seruan solidaritas sebagai bentuk dukungan terhadap para korban. Massa meneriakkan slogan “Hidup korban, lawan!” yang menggema di depan Balai Kota Malang sebagai penutup aksi.

Penulis: Muhammad Rif’at (anggota magang)
Editor: Nabila Riezkha Dewi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.