LUBANG-LUBANG ABLEIST DI KAMPUS INKLUSI

Seiring kehidupan kampus yang terus melangkah, terdapat sudut-sudut yang kerap terpijak, meskipun tidak terlalu diperhatikan. Langkah kaki di tepi Fakultas Ekonomi dan Bisnis mengarah kepada setapak pejalan kaki timbul yang beregelombang. Retakan-retakan kontur jalan yang perlahan melebar membuka dirinya untuk dipenuhi dengan lumut lumut hijau, usaha alam dalam menambal kembali jalur yang telah pecah oleh pijakan-pijakan seiring waktu.
Dengan hati-hati, tapak kaki pun mulai melambat, sembari mencoba memperhatikan langkah dan alam yang mengelilingi tepi jalan. Kaki perlahan menyebrangi keping-keping pijakan trotoar, melintasi lubang-lubang yang kasar dan tak rata. Meski tepian terasa luas, namun arah tapak kaki terasa sempit melalui gelombang permukaan yang tak rata, disertai puing-puing sisa pecahan setapak.

Mendekati waktu kelas, mahasiswa terlihat terburu-buru untuk memasuki ruang kelas gedung C Fakultas Ilmu Administrasi. Untuk menuju kelas, terdapat tangga yang menjulang dan memutar ke arah lantai-lantai tempat kelas berada. Dari pandangan, tangga itu dibangun dengan tepi pegangan dan tapakan dari tingkat-tingkat lantai curam. Meskipun tapakan-tapakan tersebut terlihat lebar, ia hanya dapat ditempuh oleh langkah-langkah kecil. Jalan menanjak terlihat seperti pendakian melalui jalan yang tak mungkin terlewati.

Perlahan, tangan mulai mengepal tepi tangga, menggenggam dengan erat untuk menopang lebar kaki yang berusaha beranjak untuk melangkah ke permukaan selanjutnya. Arah pandangan terus bergantian untuk memperhatikan langkah demi langkah setiap tanjakan dan keramaian yang berlalu lalang, langkah kaki keramaian dan denting sepatu terbang lincah untuk menaiki dan menuruni tangga, melompati tapak satu dan tapak lainnya.
Perlahan, sedikit demi sedikit, permukaan di bawah kaki kembali datar. Ruang-ruang kelas berjajar rapi dengan kedipan cahaya terang dan suara suara keramaian yang kedap dikepung dinding. Kursi-kursi kelas dengan setengah hati menjadi sarana tempat belajar pada tiap ruang kelas. Meja-meja tertata bersebelahan untuk memenuhi ruang kelas dengan puluhan siswa, namun masih memiliki kewajiban untuk menjadi tempat siswa merebahkan alat tulis dan telapak tangan mereka.

Di belahan waktu lain, di sudut GOR Pertamina, terdapat fasilitas Pusat Layanan Disabilitas. Memasuki gedung tersebut, terdapat dua lorong di bagian kanan dan kiri bangunan, dilengkapi dengan tangga yang menjulang ke atas dan kamar mandi di sebelah kanan tangga dari arah masuk. Tangga melingkar dari tengah menuju bagian kanan dan kiri bangunan. Tepian tangga masih tetap sama, tetapi permukaan menanjaknya dengan enggan memberi satu kesempatan untuk menaiki bangunan. Setiap sudut permukaan dasar pun menjadi tempat kembali untuk menjalani keseharian dan kebutuhan di lingkungan kampus.

Di antara ramainya lorong gedung B Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, terdapat beberapa ruang kamar mandi yang memiliki sekat yang padat. Ruang ini menjadi lorong kecil tersendiri sebelum memasuki ruang kamar mandi. Kedua dinding sekat menjadi labirin tersendiri untuk memasuki fasilitas tersebut. Seiring menaiki gedung, terdapat beberapa sudut kamar mandi aksesibel khusus disabilitas. Ruang yang terbentang luas, tepian gagang yang kokoh, dan isi yang sederhana memberi rentangan terbuka untuk langkah-langkah dan dorongan perlahan untuk masuk ke dalam.
Menyebrang menuju Gedung Teknik Mesin Fakultas Teknik, setelah beranjak dari tepi setapak menuju pintu masuk, terlihat sejumlah anak tangga menuju ruang laboratorium teknik mesin. Permukaan bertingkat itu menjadi langkah panjang untuk sekedar memasuki ruangan, dengan tepi menanjak di sisi atas yang ditempuh melalui jalan memutar.

Memutar kembali untuk mencari jalan menaiki pintu masuk, kehadiran mahasiswa disambut dengan tiga sudut lorong bagian kanan dan kiri dengan akses ke atas yang merupakan tanjakan-tanjakan menuju bidang selanjutnya. Melihat udara yang redup dan enggan, Satu demi satu tapak kaki diangkat untuk mencoba kembali mendaki ke atas, dengan genggaman tepian yang berusaha menopang langkah demi langkah, entah berapa pijakan lagi sampai genggaman tangan mencapai ujung tepian dan tapak kaki mencapai bidang datar.
Seiring meredupnya keramaian pelajar, di balik keramaian menjulangnya gedung rektorat baru, berdiri sebuah bangunan lama di ujung kanan dari arah memasuki gedung. Entah bila mahasiswa memilih untuk melewati jalan setapak di sisi pintu masuk gedung rektorat baru atau masuk menaiki kendaraan, terlihat sebuah bangunan yang sedikit menurun dari bangunan lainnya. Papan tulis terbengkalai di bagian kanan setelah memasuki gedung mengatakan bahwa meski gedung ini sudah lama ditinggalkan dan hanya menyisakan puing-puing korporat, gedung lama rektorat tetap digunakan untuk kegiatan-kegiatan tertentu.

Bahkan jika ditarik mundur dan diintip dari pintu kaca yang cukup berdebu, terlihat kembali untuk kesekian kalinya sejumlah langkah anak tangga yang memutar. Tidaklah permukaan itu terlihat payah, namun rambatan anak tangga itu merupakan jalan terjauh untuk menuju menara tinggi hingga pada puncaknya pada lantai empat. Jika dilihat dari pandangan di dasar, putaran-putaran tangga akan menjalar menuju sudut-sudut lain pada gedung rektorat lama pada saat itu. Suatu bidang kecil menanjak yang terletak di sudut tangga menjadi pengingat lantang antara potensi aksesibilitas dengan perjalanan mengitari tangga merupakan hal yang mustahil untuk dilakukan tanpa arah yang berliku.

Jauh ke sisi timur kampus, pemandangan serupa terpamerkan dengan jelas. Dua gedung UKM, tempat mahasiswa berlalu lalang, menampakkan diri tanpa memiliki alat transportasi vertikal antarlantai. Kedua gedung tersebut hadir sehari-hari tanpa memfasilitasi anggotanya yang membutuhkan. Intensinya untuk memberdayakan, seolah berlalu hilang tanpa kepeduliannya pada masyarakat inklusi.
Tapi dilihat dari gelagatnya, ia sepertinya juga menggumam. Ia tampak seperti tunduk atas titah atasannya yang tak mengizinkan untuk merangkul. Jika ia bisa berteriak, mungkin dirinya akan berkata pada tiap insan yang tiap hari bergumul di atasnya, “hei, kalian, sediakan fasilitas yang memadai di tubuhku. Tak seharusnya membuat temanmu kesulitan dalam mengakses diriku.”
Tak adanya fasilitas itu bukanlah keinginannya untuk memamerkan diri. Ia sebenarnya gundah, dan mengutuk segala diskriminasi yang ada di dalam dirinya.
Penulis: Hasna Radita
Fotografer: Hasna Radita & Aulia Hasti Zalika R.
