SEDATIF TERAKHIR UNTUK SANG ALKEMIS BETON

0
Ilustrator: Nur Istiyanti

Dunia Raka adalah sebuah mahakarya geometris yang dibangun di atas fondasi kebanggaan. Dahulu, ia adalah sang “Alkemis Beton” alias seorang arsitek yang mampu mengubah lahan kumuh menjadi pencakar langit berlapis kaca yang mencium awan. Baginya, presisi adalah satu-satunya Tuhan yang ia sembah. Ia mencintai garis lurus, sudut siku-siku yang tajam, dan angka-angka di rekening banknya yang berderet seperti tentara yang patuh.

Dan di pusat semesta kejayaannya, berdirilah Maya. Wanita cantik itu bukan hanya sekadar istri, ia adalah cahaya-cahaya yang memantul di atas rancangan-rancangan Raka. Maya adalah kurator hidupnya, yang memilihkan warna dasi senada dengan suasana hatinya, dan wanita yang selalu membisikkan bahwa dunia ini terlalu kecil untuk ambisi suaminya.

Lalu kecelakaan itu datang. Sebuah ledakan di situs konstruksi—katanya begitu. Dunia Sang Alkemis Beton itu meledak dalam kilat putih, lalu padam menjadi jelaga abadi. Kegelapan yang menyelimuti Raka sekarang terasa seperti beludru mahal setidaknya begitulah Maya mendeskripsikannya.

“Pelan-pelan ya, Sayang,” suara Maya mendarat di telinga Raka, lembut seperti kelopak bunga yang jatuh ke air tenang. Jemarinya yang halus membelai punggung tangan Raka. “Apartemen baru di lantai empat, di sini, kamu aman.”

Maya mendeskripsikan istana baru mereka dengan presisi seorang penyair. Lantainya terbuat dari kayu jati yang hangat, dindingnya dicat warna biru laut yang tenang dan jendela-jendela setinggi langit-langit yang menghadap ke taman kota. Raka bisa membayangkannya: matahari sore yang menembus kaca, memberikan kehangatan pada kulitnya, sementara angin membawa aroma petrichor dan bunga melati dari bawah sana.

“Langkahmu, Raka,” instruksi Maya lembut. “Aku menghabiskan sisa tabungan kita untuk memastikan dinding ini sedingin samudera, agar matamu yang lelah bisa beristirahat dalam bayangan.”

Raka tersenyum, sebagai seorang arsitek, Raka merasa tenang. Meski buta, ego profesionalnya terpuaskan mendengarnya. Ia menghafal geometri ruang ini. Sepuluh langkah dari ranjang ke meja jati tempat sarapan disajikan. Lima belas langkah menuju balkon di lantai empat, tempat ia bisa menghirup napas kota yang makmur. hidup dalam narasi itu.

Setiap pukul empat sore, Raka mendengar suara sayup tawa anak kecil. “Maya, ada taman bermain di bawah ya?” tanya Raka suatu hari. Maya menjawab lembut sembari menyisir rambut Raka, “Iya Sayang, anak-anak tetangga sedang main ayunan. Manis sekali, bukan?”

Namun, naluri arsitek Raka mulai berontak mendengar pernyataan istrinya. Suara tawa itu tidak datang dari arah bawah seperti seharusnya suara dari taman di lantai dasar. Suara itu datang dari samping, mendatar, dan anehnya, ritmenya selalu sama. Ada jeda tiga menit di setiap lengkingan tawa itu.

“Waktunya vitamin harianmu,” ucap Maya lembut. Raka merasakan usapan alkohol yang dingin di lengannya, disusul tusukan jarum yang halus. “Ini agar sarafmu tetap kuat, agar kau bisa segera merancang lagi di dalam pikiranmu. Kau tahu aku tidak bisa melihatmu lemah, Raka. Aku mencintaimu lebih dari nyawaku sendiri.”

Raka mengangguk patuh. “Terima kasih ya, Istriku.” Setiap kali cairan itu masuk, kepalanya terasa ringan, mimpinya menjadi lebih berwarna, dan suara bising di luar sana berubah menjadi simfoni yang indah. Ia merasa seperti raja yang sedang beristirahat di kastilnya, dirawat oleh ratu yang ketaatannya melampaui logika.

Suatu sore, Maya pamit sebentar untuk mengambil pesanan anggur mahal di lobi. Raka, yang merasa tubuhnya sedang bugar macam efek semu dari obat penenang itu memutuskan untuk memberikan kejutan. Ia ingin berdiri di balkon, menyambut kepulangan. Maya dengan berdiri tegak, memamerkan bahwa sang Alkemis Beton belum sepenuhnya hancur. Ia bangkit dari ranjang. Ia mulai menghitung. Satu, dua… lima… sepuluh. Ia sampai di meja jati. Langkahnya mantap. Namun saat ia sampai pada dinding yang katanya berwarna “biru laut” ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Saat jemari meraba permukaan dinding yang seharusnya halus, seharusnya dingin seperti cat berkualitas tinggi. Namun, yang ia rasakan adalah guratan kasar, pori-pori yang tajam, dan serpihan yang rontok saat disentuh. Itu bukan dinding apartemen mewah, semuanya terasa seperti beton mentah yang mulai berlumut.

Raka merasa janggal, tapi ia segera menepisnya. Maya begitu baik, Maya menjagaku saat aku tak punya apa-apa lagi. Jangan menjadi monster yang meragukannya, batinnya.

Ia kembali melangkah. Sebelas, dua belas… empat belas. Langkah kelima belas.

Tangannya terulur ke depan, mencari pagar balkon dari besi tempa yang menurut Maya bermotif sulur mawar yang megah. Jemarinya bersentuhan dengan sesuatu, tapi sensasinya salah. Bukan besi dingin yang solid, melainkan kayu lapuk yang kasar, mengerutkan kening. Secara arsitektural, ini adalah penghinaan. Tidak ada balkon lantai empat yang memiliki pagar serendah ini. Ia menghirup udara, mencoba mencari wangi melati dari taman bawah yang selalu dideskripsikan Maya. Namun, yang menyerbu paru-parunya adalah bau pesing, aroma pembersih lantai murahan dan bau logam berkarat yang amis.

,Degup jantungnya memacu, kemudian Raka mendengar suara tawa anak-anak. Ah, taman bermain di bawah, berarti sudah pukul empat sore, pikirnya. Namun suara itu terdengar aneh.Nadanya statis, ritmenya berulang setiap tiga menit. Ada bunyi klik halus di setiap awal suara. Raka memanjat pagar rendah itu dengan tangan gemetar. Ia tidak jatuh menuju maut. Kakinya justru menyentuh tanah yang keras, berlumpur, dan penuh dengan beling. Ia merangkak, meraba sekelilingnya. Jemarinya menyentuh kawat berduri yang dingin dan sebuah papan kayu lapuk. “Taman kota…” bisiknya parau. Namun yang ia raba adalah onggokan sampah plastik dan rumput liar yang tajam.

Tiba-tiba, suara tawa anak-anak itu terdengar lagi. Sangat dekat. Raka meraba sumber suara itu. Tangannya menyentuh sebuah kotak plastik dingin dengan kabel-kabel mencuat. Sebuah radio tua yang memutar kaset kusut secara berulang. Suara “peradaban” itu hanyalah rekaman yang diputar untuk menipu telinganya.

“Raka? Kenapa kau di luar kandang?”

Suara Maya. Tapi kali ini tidak lagi terdengar seperti kelopak bunga yang jatuh pada air yang tenang. Suaranya datar, dingin, dan berbau antiseptik. “Maya… di mana kita? Kenapa aku bisa menyentuh tanah? Di mana apartemen lantai empat itu?” Raka berteriak, air mata mengalir dari matanya yang keruh.

“Kau tidak pernah punya apartemen, Raka,” langkah kaki Maya mendekat, bunyi sepatu karet di atas lantai semen terdengar nyata. “Kau tidak pernah mengalami kecelakaan di situs konstruksi. Kau menghancurkan matamu sendiri dengan pisau dapur, bukan hanya menghancurkan matamu. Kau menghancurkanseluruh kewarasanmu alih-alih hidup dalam kemiskinan kau lebih memilih buta daripada melihat dirimu jatuh melarat.”

Dunia Raka berputar hebat. Ingatan yang selama ini ditekan oleh suntikan itu merayap naik seperti uap racun. Ia ingat sekarang. Ia ingat rasa besi dingin yang menusuk kelopak matanya sendiri karena ia terlalu sombong untuk melihat dunia sebagai orang biasa.

“Kau bukan arsitek hebat, Raka,” ucap Maya dingin sembari mendekat. “Kau adalah pasien dengan gangguan delusi paling berat yang pernah kutangani.” Maya sebenarnya bukan istrinya. Ia adalah perawat di bangsal isolasi sebuah gedung rongsok yang hampir roboh, tempat terakhir bagi orang-orang yang dibuang dunia. Ia telah menciptakan narasi “istri” dan “apartemen mewah” hanya agar Raka tetap tenang dan tidak menjerit sepanjang malam.

Maya mengeluarkan jarum suntik berisi cairan bening—sedatif dosis tinggi yang selama ini Raka kira sebagai vitamin. “Di luar sini, kau hanya orang buta yang gila di gedung rongsok. Tapi di dalam kepalamu, dengan suaraku, kau adalah sang Alkemis Beton yang punya istri cantik. Kenapa kau memilih melihat kebenaran yang jelek ini?”

Raka terisak. Kebenaran itu menghantamnya lebih keras daripada besi manapun. Kehancuran identitasnya terasa lebih perih daripada luka di matanya. Ia menyadari bahwa tanpa kebohongan Maya, ia hanyalah sampah di sudut bumi.

Raka mengulurkan lengannya yang gemetar ke arah Maya. Air matanya jatuh ke atas tanah. “Suntik aku lagi, Maya…,” bisiknya dengan suara hancur. “Bawa aku kembali ke angan-angan itu. Tolong… bawa aku kembali ke lantai empat.” Maya mendesah pelan, namun ada sisa rasa iba di wajahnya. Ia berjongkok, mengusap kepala Raka dengan kasih sayang yang palsu namun dibutuhkan.

“Tentu saja, Sayang. Mari kita kembali ke atas. Mataharinya sedang sangat indah hari ini.” Jarum itu menusuk kulit Raka. Cairan sedatif itu mengalir, perlahan menghapus bau tanah lembap dan menggantinya dengan aroma melati. Radio tua itu kembali berputar. Dan sang Alkemis Beton pun kembali membangun istananya di atas reruntuhan kewarasannya sendiri.

Penulis: Refa Al-Zahfa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.