SUARA YANG LAMA TERTAHAN DALAM TUBUH YANG DIPANDANG

0
Sumber: Amazon

Judul: Sitting Pretty: The View from My Ordinary Resilient Disabled Body
Penulis: Rebekah Taussig
Tahun Rilis: 2020
Penerbit: HarperOne
Jumlah Halaman: 256

Ada hal-hal yang selama ini diceritakan tentang seseorang, tetapi jarang benar-benar diceritakan oleh orang itu sendiri. Dari situlah buku Sitting Pretty seperti menemukan suaranya.

Karya Rebekah Taussig ini tersusun dalam kurang lebih 240 halaman, terbagi ke dalam 17 esai yang mengalir seperti potongan ingatan—tidak selalu berurutan, tetapi saling terhubung oleh satu hal yang sama: pengalaman hidup di dalam tubuh yang sering dianggap “berbeda”.

Di bagian awal, tidak ada pernyataan besar yang menjelaskan tujuan buku ini. Namun, dari cara ia menulis, terasa bahwa ia sedang mengambil kembali sesuatu yang lama diambil darinya: hak untuk mendefinisikan hidupnya sendiri.

Ia tidak menulis untuk membuktikan apa pun. Ia menulis karena selama ini, kisah seperti miliknya terlalu sering disederhanakan—antara menjadi tragedi, atau justru dilebih-lebihkan sebagai inspirasi, langkah ini dapat dibaca sebagai upaya merebut representasi, di mana seseorang dari setiap kelompok berbicara atas dirinya sendiri, bukan lagi melalui lensa orang lain.

Tubuh yang Tidak Pernah Sepenuhnya Milik Sendiri

Pelan-pelan, Taussig membawa kita masuk ke pengalaman yang lebih intim—tentang bagaimana rasanya hidup dalam tubuh yang selalu lebih dulu “dibaca” daripada didengar. Ada satu kesadaran yang berulang: bahwa keberadaannya sering kali ditangkap melalui

tatapan. Bukan sekadar dilihat, tetapi dinilai. Ia seolah mengisyaratkan bahwa:

ada jenis perhatian yang tidak pernah diminta, namun terus hadir, melekat pada tubuhnya ke mana pun ia pergi.

Tatapan-tatapan itu tidak selalu kasar, tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa dirinya tidak pernah benar-benar dianggap biasa.

Di sisi lain, ada pula cara dunia mengagungkannya—menjadikannya simbol kekuatan, bahkan untuk hal-hal yang sederhana.

Namun di balik itu, tersimpan kegelisahan:

mengapa hidup yang dijalani apa adanya harus selalu diberi makna lebih oleh orang lain?

Hal ini dikenal sebagai “inspiration porn”, di mana kehidupan difabel direduksi agar menjadi alat motivasi, tanpa benar-benar memahami kompleksitasnya.

Dunia yang Diam-diam Membatasi

Semakin jauh, Taussig tidak lagi hanya bercerita tentang dirinya, tetapi tentang dunia yang ia tinggali—dunia yang, tanpa disadari, membentuk batas-batasnya. Tangga yang terlalu tinggi, pintu yang terlalu sempit, jalur yang tidak tersedia—semuanya menjadi pengingat bahwa tidak semua tubuh dipertimbangkan saat dunia dibangun.

Ia seperti ingin mengatakan:

ada banyak hal yang disebut “keterbatasan”, padahal sebenarnya hanyalah hasil dari lingkungan yang tidak memberi ruang.

Dalam kondisi tertentu, ia harus bergantung pada orang lain. Namun, ketergantungan itu bukan semata-mata karena tubuhnya, melainkan karena pilihan yang tidak pernah tersedia.

Hal ini selaras dengan model sosial disabilitas, yang melihat bahwa hambatan utama bukan pada individu, melainkan pada sistem yang tidak inklusif.

Antara Tubuh dan Penerimaan

Di bagian ini, narasi terasa lebih sunyi—seperti percakapan dengan diri sendiri yang lama tertunda. Masyarakat memiliki gambaran tentang tubuh yang dianggap “lengkap”.

Dalam bayangan itu, tubuh seperti miliknya sering kali ditempatkan di luar. Namun, ia tidak menolak dengan keras. Ia hanya menyadari. Penerimaan yang ia capai bukanlah bentuk kekalahan, melainkan pilihan untuk berhenti melawan standar yang tidak pernah diciptakan untuknya.

Ia seperti membiarkan dirinya berkata:

bahwa menjadi utuh tidak selalu berarti menjadi sama.

Di antara refleksi yang dalam, Taussig tetap menyisakan ruang untuk hal-hal yang sederhana—yang justru paling manusiawi. Ia tetap memiliki hubungan, tawa, dan cerita. Dunia kecil yang tidak selalu dipengaruhi oleh bagaimana orang lain memandangnya.

Ada keraguan dari luar—seolah-olah tubuh disabilitas tidak layak untuk dicintai atau mencintai. Namun, melalui kisahnya, ia menunjukkan bahwa perasaan tidak mengenal batas-batas itu.

Menjelang akhir, buku ini tidak menawarkan kesimpulan yang keras. Ia hanya meninggalkan jejak pemikiran. Bahwa mungkin selama ini, yang perlu diubah bukanlah tubuh yang berbeda, melainkan cara kita memahami perbedaan itu sendiri. Ia tidak memaksa pembaca untuk berubah. Ia hanya membuka kemungkinan.

Cara Baru untuk Melihat

Sitting Pretty bukanlah kisah tentang perjuangan yang ingin dielu-elukan, juga bukan cerita sedih yang meminta belas kasihan. Ia adalah rangkaian refleksi yang tenang—tentang hidup, tentang tubuh, dan tentang bagaimana manusia seringkali lupa untuk benar-benar melihat satu sama lain.

Dengan bahasa yang lembut namun mengendap, Rebekah Taussig menghadirkan sesuatu yang jarang: kejujuran yang tidak dibuat dramatis. Dan dari situlah, buku ini menemukan kekuatannya.

Karena pada akhirnya, yang tertinggal bukan hanya cerita tentang dirinya—melainkan pertanyaan yang pelan-pelan tumbuh dalam diri pembaca: selama ini, kita benar-benar melihat… atau hanya sekadar memandang?

Penulis: Zaskia Hermanda Andromeda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.