BIG WORLD: AKU YANG KECIL, MELANGKAH TANPA KESEMPURNAAN DI DUNIA YANG BESAR

0
Sumber: Wikipedia

Judul: Big World
Sutradara: Yang Lina
Tahun Rilis: 2024
Durasi: 131 menit

Dunia dengan segala kebesarannya, terkadang tidak menyediakan ruang untuk kita. Semua orang ingin melangkah, semua orang ingin mewujudkan cita-citanya, dan semua orang memiliki mimpi. Tapi ada tubuh-tubuh yang sejak lahir sudah dianggap salah oleh dunia. Bukan karena mereka berbuat salah. Bukan karena mereka meminta dilahirkan berbeda. Hanya karena cara mereka bergerak tidak sama dan kehadirannya di dunia dianggap tidak sesuai untuk diberi ruang.

Liu Chunhe lahir ketika dunia pertama kali memutuskan ia berbeda. Pengidap Cerebral palsy atau kelumpuhan otak yang membuat kemampuan motoriknya terganggu menjadi label berat yang harus ia terima dengan kalimat menyakitkan yang sudah kadung menempel di punggungnya. Tidak normal, tidak berdaya, lemah, dan tidak perlu terlalu jauh melangkah.

“Seolah kehadiranya di dunia adalah sesuatu yang perlu dimaafkan terlebih dahulu sebelum dirayakan.”

Judul “Big world” terdengar ambisius, bahkan ironis; dunia yang dianggap besar untuk tubuh yang oleh banyak orang dianggap terlalu kecil dan lemah untuk melangkah. Film asal China yang rilis pada tahun 2024 ini berhasil menyayat hati penontonnya dan membekas haru di setiap adegan nya. Big World berhasil memperlihatkan kehidupan dari sudut pandang seorang disabilitas yang memiliki mimpi dan begitu saja dipatahkan oleh kenyataan dunia.

Bukan Tubuhnya yang Mengurung

Film ini berkisah tentang kehidupan dari seorang disabilitas yang memiliki impian sebagai seorang guru, mengajar, dan bermanfaat bagi banyak orang. Tapi apa daya bahkan tubuhnya terasa tidak merestui. Menelan makanan pun ia masih kesusahan, terkadang tersedak walau tidak tergesa-gesa, tangan masih gemetar memegang sumpit hingga butuh alat bantu, berjalan sempoyongan, dan menyeret-nyeret seperti mengangkat kaki yang terlilit pengekang besi.

Chunhe bukan hanya penyandang Cerebral Palsy yang terhalang untuk beraktivitas, tapi ia adalah manusia yang dikurung oleh orang-orang di sekitarnya. Chunhe tidak sedang mengeluh. Ia sedang berusaha memahami dan menerima betapa dunia bahkan dalam keindahannya terasa jauh dan tidak terjangkau. Hal yang paling menyesakkan, jarak itu bukan hanya lahir dari tubuhnya yang bergerak berbeda dengan yang lain, melainkan dari keputusan-keputusan kecil orang di sekitar yang tidak menerimanya.

Tidak cukup tubuhnya yang dianggap berbeda oleh dunia, tetapi orang lain entah dengan dasar apa selalu menatapnya dengan tatapan sinis, jijik, takut, kasihan, bahkan kebencian. Keberadaan Chunhe di rumah pun tidak jauh beda. Ibunya, Chen Lu selalu mengomel dan menyuruh Chunhe untuk mengikuti terapi dan masuk sekolah khusus tanpa menggubris keinginannya untuk lanjut belajar di universitas. Walau Chunhe hanya diam, ia paham betul bahwa tatapan yang sering ia dapat dari ibunya adalah tatapan penyesalan.

Ada satu ingatan yang melekat erat di memori Chunhe. Pada menit ke 95 lebih 42 detik, ketika ia ingin bermain petak umpet dengan orang tuanya dan bersembunyi di koper. Ia dengar sangat jelas ketika orang tua nya duduk sambil menunduk dan menghembuskan nafas dengan berat seraya berkata.

“Jika kita tidak menemukannya, apakah kehidupan kita akan lebih baik?” – Chen Lu.

Ibunya, Chen Lu, adalah sosok yang paling kompleks dalam film ini. Ia bukan ibu yang jahat. Ia mencintai Chunhe dengan cara paling sungguh-sungguh yang ia tahu. Tapi cinta yang terlalu takut kehilangan seringkali berubah menjadi penjara yang paling rapi tidak berkunci, tidak berterali, tapi tidak ada pintu juga. Chen Lu ingin Chunhe terlindungi. Yang tidak disadari bahwa ia sedang membatasi dan mengunci Chunhe dari hidup itu sendiri.

Sekarang bayangkan apabila seluruh orang, tanpa terkecuali, tanpa mengenal siapa dirimu, dan identitasmu menolak kehadiranmu. Kabar buruknya lagi, orang terdekat, orang tua yang mengenalmu sangat lama dan bahkan sempat mengharapkanmu hadir di dunia, bertingkah seperti kau bukan keluarganya. Dalam film, Chunhe yang seharusnya diberitahu bahwa ia akan menjadi seorang kakak lantaran ibunya hamil pun disembunyikan. Pada menit ke 79 lebih 46 detik, terjadi pertengkaran hebat Chunhe dengan ibunya, Chunhe dengan segala momok pikirannya mengeluarkan segala kekesalannya pada ibunya.

“Ibu adalah orang yang benar-benar membenciku dan meremehkanku. Aku tahu aku hanya beban bagi keluarga ini, aku tahu selama ini. Jadi kenapa kau masih berpura-pura peduli padaku?” – Chunhe

Pertengkaran itu berakhir dengan luka. Ibunya membalas pernyataan Chunhe dengan mengatakan bahwa itu adalah takdir mereka berdua untuk sengsara. Chunhe yang merasa bahwa ia tidak pernah meminta takdir seperti itu hanya bisa diam dan memendam amarah yang tidak tau harus pergi ke mana.

Puisi yang Tak Tersampaikan

Saat semua orang menolak dan mencampakkannya, setitik harapan muncul ketika Chunhe bertemu dengan seorang gadis bernama Yaya. Ia adalah gadis periang, cantik, ramah, dan yang terpenting, Yaya mau berteman dengan Chunhe tanpa menatapnya dengan sorot mata jijik, takut, dan benci seperti kebanyakan orang. Chunhe tidak menemukan sedikitpun rasa terkucilkan dan dibedakan ketika bersama dengan Yaya. Untuk pertama kalinya, Chunhe dapat merasakan dirinya dirayakan oleh orang lain yang bukan keluarganya. Dunia pun terasa lebih berwarna bagi Chunhe. Perasaan itu ia tuangkan dalam bait puisinya yang belum selesai.

Kau bintang diatas awan
Aku orang aneh yang menyeberangi sungai kesepian
– Chunhe

Tapi dunia kembali menunjukan sisinya yang kejam. Ketika Chunhe memberanikan diri untuk menunjukkan perasaannya, Yaya hanya terdiam dan menjauh. Dari kejauhan Yaya melambaikan tangan sebagai isyarat perpisahan. Saat itu juga Chunhe baru mendapati sorot mata Yaya yang menunjukkan rasa kasihan padanya. Ia merasa pada akhirnya tidak ada yang menganggapnya sebagai manusia biasa tanpa label yang menempel di punggungnya. Puisinya selesai dengan cara yang paling menyesakkan.

Kau bintang diatas awan
Aku orang aneh yang menyeberangi sungai kesepian
Algojo di jembatan, Membunuh impian
Suara tembakan dari tanggul, Membunuh keinginan
Aku menggenggam alamat yang sudah usang, Isinya
“Di tepi bukit yang sepi ini, adalah tempat aku melihatmu saat kau begitu cantik.
Tapi sekarang, Hatiku yang bergejolak menjadi mati rasa.
Tubuhku sudah terlihat tua.
Aku akan segera melupakan betapa lamanya aku terjebak.”
– Chunhe

Lumut pun Berbunga, meski Tanpa Matahari

Dibalik takdir dunia yang terus menolaknya. Hadirlah Chen Su Qun, nenek Chunhe dengan penampilan khasnya, rambut kriwil, gaun bunga warna-warni, dan cara tertawa yang terlalu keras untuk seorang perempuan seusianya. Chen Su tidak pernah membaca label yang menempel di punggung Chunhe. Baginya, Chunhe bukan anak yang pantas dikucilkan kehadirannya. Ia adalah cucunya, cucunya yang paling berharga, cucu yang tidak

butuh izin untuk memiliki mimpi di dunia. Chen Lu yang selalu membatasi Chunhe beraktivitas dan sibuk dengan pekerjaan, tidak pernah mengurus Chunhe secara langsungdigantik an oleh Chen Su yang selalu hadir untuk mendukung dan membantu Chunhe. Chun Su selalu memperbolehkan keinginan Chunhe dan membiarkan cucunya mengeksplorasi dunianya sendiri. Walau Chun Su paham betul bahwa takdir penolakan sosial akan dihadapi oleh Chunhe, tapi memberi Chunhe hak untuk menentukan arah hidupnya adalah hal yang paling penting.

Tentu saja semua semangat itu juga tumbuh dari keberanian Chunhe untuk berpegang teguh menggapai impiannya sebagai guru. Ia sering ikut tes pendaftaran masuk universitas di luar kota dan diterima, tetapi ibunya bersikukuh ia harus mendaftar di Universitas di dalam kota dan di sekolah khusus. Semangat dari Chunhe sendiri sudah mampu membuatnya lebih jauh melangkah saat itu. Chunhe juga berkesempatan mengirim lamaran kerja di sebuah kedai kopi dan akhirnya dapat bekerja disana sebagai satu-satunya karyawan disabilitas yang dipekerjakan.

Setelah mendapat pekerjaan tersebut, untuk pertama kalinya ia berdiri menghadapi keberatan ibunya bukan dengan amarah, tapi dengan sesuatu yang lebih kuat dari itu. Keyakinan bahwa hidupnya tidak perlu menunggu kondisi menjadi sempurna terlebih dahulu.

“Memiliki pekerjaan adalah martabat.”
– Liu Chunhe

Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi bobotnya luar biasa jika kita tahu dari mulut siapa kata-kata itu keluar. Kata-kata tersebut keluar dari seorang pemuda yang selama ini diajarkan untuk tidak terlalu berharap akan penerimaan keberadaanya dan seseorang yang selalu mengalami penolakan.

Dalam adegan ketika Chunhe menjalani tes praktik mengajar untuk menjadi seorang guru pada menit ke 16 lebih 14 detik, ia mengajarkan sastra China kepada anak-anak. Ia mengutip sastra seorang penyair Dinasti Qing bernama Yuan Mei berjudul “Lumut”.

“Bahkan di tempat gelap dimana matahari tidak dapat menyinari,

Lumut berjuang untuk tumbuh.

Ukurannya mungkin sekecil beras, tetapi ia tidak menyerah pada diri sendiri.

Ia menggunakan kekuatannya untuk hidup bermartabat seperti bunga peony”

– Yuan Mei, Dinasti Qing

Sastra tersebut bukan sekedar pengisi adegan, melainkan cerminan dari seluruh perjalanan Chunhe. Lumut adalah tumbuhan yang tidak menunggu kondisi sempurna. Ia tidak menunggu matahari datang, tidak meminta tanah yang subur, tidak memohon agar diakui sebagai bunga. Ia hanya tumbuh pelan, kecil, tapi sungguh-sungguh hidup. Dan Lumut tersebut adalah metafora dari perjalanan Chunhe selama ini.

Akhir pada film ini menunjukkan bahwa Chunhe akan terus menjalankan kehidupan yang sama. Tapi sekarang, ibunya sudah lebih baik padanya setelah serangkaian kejadian yang membuatnya sadar akan kesalahannya. Chunhe juga berkesempatan hadir di universitas yang ingin ia masuki. Tetapi ia hanya berhasil menceritakan pengalamannya di podium universitas. Tanpa gelar mahasiswa ataupun guru yang ia dapat. Film ini ditutup dengan adegan yang menunjukkan bahwa ia sekarang dapat bepergian sendiri secara bebas bersama neneknya tanpa pembatasan yang ia dapat sebelumnya.

Sebuah Celah Kosong

Akhir pada film ini terasa menggantung karena film ini bukan serta merta akan memuaskan semua orang. Ending nya tidak meledak, tidak memeluk, dan tidak juga menutup pintu masalah dengan rapi. Tetapi ending yang diberikan membuat kita sadar bahwa kehidupan seorang penyandang disabilitas tidak berakhir pada satu momen kemenangan yang dramatis. Tidak ada tepuk tangan di akhir perjuangan. Film ini seperti sengaja menolak memberikan katarsis yang mudah, karena hidup Chunhe memang tidak pernah menawarkan kemudahan seperti itu kepada penontonnya.

Dengan kata lain, ketidakpuasan yang kita rasakan sebagai penonton atas ending adalah bagian dari pesan itu sendiri. Kita terbiasa menonton kisah disabilitas yang berakhir dengan kemenangan yang dapat difoto, dipeluk, dan dibagikan. Big World menolak formula itu dan dalam penolakan itulah justru film ini paling dekat dengan kenyataan dunia.

Ada juga celah kekosongan lain yang sulit diabaikan sepanjang film; sosok ayah. Figur yang seharusnya hadir sebagai tiang penyangga dan pemimpin keluarga ini hanya muncul sekali atau dua kali, hampir seperti bayang-bayang sepintas, bahkan terkesan sebagai pemeran tambahan. Saya rasa ketidakhadiran itu bukan hanya soal pilihan naratif. Ia dapat berbicara tentang sesuatu yang lebih besar.

Dalam konteks disabilitas, absennya figur ayah menempatkan seluruh beban pengasuhan secara emosional dan sosial di pundak sang ibu. Maka kita pun menyaksikan seorang ibu yang tampil bukan sebagai penjahat, melainkan sebagai manusia yang kelelahan. Chen Lu terlalu sering disorot sebagai sosok yang menolak dan membatasi Chunhe. Namun jika kita berhenti sejenak, kita akan menyadari bahwa ia adalah perempuan yang bertahun-tahun menanggung beban yang seharusnya dibagi dua sendirian, tanpa jeda, tanpa ruang untuk rapuh.

Film ini selesai. Tapi kisah Chunhe tidak. Di suatu tempat, ia masih berjalan dengan langkahnya yang goyah, menatap dunia yang belum sepenuhnya siap menerimanya.

Penulis: Nayla Zulva Al-Ulya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.