TEATRIKAL DAN PATOLOGISASI KESINTINGAN DI TEGALURUNG

Judul: Aib dan Nasib
Penulis: Minanto
Tahun Rilis: 2020
Penerbit: Marjin Kiri
Jumlah Halaman: 263 halaman
“Orang-orang bilang kita ini sama-sama sinting. Tapi, coba kita lihat siapa lebih sinting di antara kita,” ujar Bagong Badrudin ketika bersiap menerjang Boled Boleng.
“Jadi, kita akan tetap di sini sambil nunggu kamu ngaceng, atau kita sekap dulu perempuan sinting itu sampai malam?” ejek Susanto pada Bagong Badrudin karena takut menyergap dan memerkosa Uripah.
Beberapa waktu lalu, saya tengah menonton penjelasan Fahruddin Faiz soal kesehatan mental. Kebetulan tokoh yang dikutip saat itu adalah Michel Foucault—seorang poststrukturalis Perancis yang menurutnya aneh, tapi keanehan itu juga merupakan bagian dari filsafatnya. Foucault sendiri bukanlah tokoh yang asing dalam kajian kekuasaan dan pembentukan wacana. Dalam konteks saat itu, pembentukan wacana yang dimaksud berkaitan dengan kesehatan mental. Mengutip Foucault, Faiz membedakan tiga istilah sakit, yakni disease (penyakit biologis), illness (apa yang dirasakan seseorang), dan sickness (konstruksi sosial tentang kondisi sakit tersebut).
Secara ringkas, sickness-lah yang kemudian menjadi wacana pada pengajian itu. Sebab memang, pemikiran Foucault berfokus pada penjelasan terkait cara-cara kekuasaan memberi seseorang label “sakit”. Kekuasaan, dalam konteks ini, adalah para ilmuwan psikiatri yang membuat kesepakatan atas labelisasi tersebut. Karena memiliki legitimasi atas keilmuan mereka, para ilmuwan tersebut berkuasa menentukan siapa yang sakit dan siapa yang sehat. Salah satu bentuk kekuasaan itu terwujud dalam sebuah asosiasi raksasa bernama American Psychiatric Association (APA). Supaya lebih jelas, Faiz mencontohkan: misalnya semua orang di dunia ini tidak waras kecuali satu, maka orang yang waras itulah yang dianggap tidak waras.
Dan kondisi semacam itulah yang terjadi di Tegalurung. Bahkan lebih buruk. Orang-orang Tegalurung, entah dengan legitimasi keilmuan apa, selalu saling mempatologikan satu sama lain. Setiap hari, orang-orang di desa itu menyempatkan diri untuk merumuskan sesuatu tentang kesintingan, tak peduli seberapa sinting kehidupan masing-masing mereka ketika pulang. Uniknya, kesintingan itu memang terjadi setiap hari di Tegalurung, sehingga topik atas perumusan itu sendiri tak pernah habis. Uniknya lagi, kendati berbenah dari kesintingan, mereka lebih nyaman untuk hadir dan terlibat dalam kesintingan itu. Sebab di dunia yang semuanya sinting, apa perlunya menjadi waras? Mungkin itu pikir mereka.
***
Hal yang sama juga berlaku untuk pembaca. Para pembaca, tentunya anda sekalian, tak perlu menjadi waras ketika menghayati kisah-kisah di Tegalurung. Jalan ceritanya tidak enak untuk dinikmati dalam paradigma waras psikiatri. Anda perlu menjadi gila untuk hanyut di dalamnya. Di awal cerita, anda akan menemui beberapa tokoh yang mati akibat kejadian-kejadian yang aneh, lalu secara aneh juga, tokoh-tokoh itu kembali hidup dalam logika kesintingan Tegalurung.
Secara keseluruhan, kisah-kisah itu tersusun atas pecahan fragmen yang terpisah-pisah. Pecahan-pecahan itu kemudian diceritakan dalam empat latar yang berbeda. Kesemuanya ada di Tegalurung, namun hadir dengan fokus tokohnya masing-masing. Dari empat latar tersebut, karena beberapa keterbatasan, hanya dua yang akan dibahas dalam tulisan ini. Keduanya berkisah tentang stigma sosial yang berlaku pada orang yang dianggap sinting.
Boled Boleng dan Teatrikal Kesintingan
Tak seperti anak tunggal pada umumnya, kisah hidup Boleng jauh dari kata manja. Ayahnya, Baridin—jika pantas disebut ayah—mendidik Boleng dengan cara-cara yang tidak seperti manusiawi. Pernah suatu saat, ketika Boleng—entah dengan sengaja atau tidak— “meminjamkan” motornya kepada orang yang tidak dikenal, Baridin sontak memukuli punggungnya dengan gagang sapu. Untunglah saat itu Ratminah, ibu Boleng, sempat melerainya sebelum Boleng benar-benar “lumat”.
Meski demikian, Boleng tak kenal kapok. Di lain hari, Boleng dengan sengaja mempreteli sepeda motor tetangga, tak tahu apa alasannya. Melihat itu, Baridin tak segan-segan menceburkan bocah itu ke sumur hingga hampir mati. Sudah lama pengen kubunuh dia, tapi selalu tidak sempat, kata Baridin. Tapi entah bagaimana caranya, Boleng bisa lolos dari percobaan pembunuhan itu.
Peristiwa-peristiwa tersebut memberi gambaran atas hubungan Boleng dengan orang tuanya. Tren kekinian menyebutnya daddy issue. Pendidikan semacam itu menyebabkan agresivitas Baridin juga ditiru oleh Boleng. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, kata sebuah pepatah. Adalah kepastian bagi Boleng untuk mengimitasi perilaku orang yang ada di sekitarnya. Tak heran di kemudian hari, Boleng tak segan-segan memukul temannya, Bagong, sampai bonyok karena tidak meminjamkannya HP.
Akibat hubungan itu juga, masyarakat Tegalurung mulai menganggap Boleng sebagai orang sinting, seperti yang dicuplik dalam epigraf sebelumnya. Buruknya hubungan Boleng dengan Baridin membuatnya jarang pulang ke rumah. Karenanya, ia sering dianggap hantu oleh warga sekitar. Biasanya ia akan hilang satu-dua hari, lalu muncul pada hari ketiga dalam kondisi yang tak terduga. Paling parah, ia pernah dituduh mencuri HP karena gelagatnya yang sinting. Cuplikan di bawah ini akan menjelaskan seberapa sinting Boleng di pandangan warga sekitar:
Manusia masih bisa hidup tanpa makan dalam tiga hari sedangkan makanan bisa ditemukan bahkan dari tempat sampah. Maka Boled Boleng masihlah hidup. Pak RT Sumarta mengakui kalau Boled Boleng memang suka menghilang dalam dua hari, namun di hari ketiga ia kembali sama utuh seperti saat ia menghilang (hal. 74).
Padahal jika dilihat dari perilaku Boleng, ia sebenarnya tak sepenuhnya sinting. Warga Tegalurung pun sebenarnya tahu akan hal itu. Terbukti bahwa sesinting-sintingnya Boleng, ia masih tahu arah tempatnya pulang. Lebih meyakinkan lagi, Boleng sering meminjam HP Bagong untuk chattingan dengan pacarnya di Facebook. Orang sinting mana yang mampu memainkan HP dengan lancar, bahkan sampai memiliki pacar?
Si Rustini, seperti para tetangga lain juga, tahu dia itu pura-pura edan. Kalau dia pura-pura edan, dia tidak akan pulang ke rumah Ratminah. Kalau dia benar-benar edan, dia tidak akan mencuri gelang kalung milik Ratminah, papar Bi Sartinah (hal. 126).
Dia bisa bermain-main di Pesbuk. Tapi, entahlah, ada orang bilang dia memang edan betulan setelah melihat dia pasang foto pantat di Pesbuk itu. Kata orang dia pernah melubangi pelepah pisang untuk dijolok-jolok dengan kontol (hal. 126).
Kata orang sih begitu. Sebab itu juga aku curiga dia bisa saja memerkosa Uripah,” pungkas Bi Sartinah (hal. 126).
Dalam hidup yang seperti itu, Boleng seperti bermain teater. Barangkali sebagai cara balas dendamnya pada Baridin, ia berperilaku seperti itu supaya leluasa mempermainkan orang. Dengan anggapan bahwa dirinya sinting, orang-orang tak akan berlarut-larut menyalahkannya, meski tetap menggunjingnya di belakang. Imbasnya adalah pada Baridin yang pusing tujuh keliling. Dan di saat-saat itu, Boleng akan menari dan bergumam seperti Sujiwo Tejo, “hidup ini teater!”. APA akan kesulitan mengklasifikasi ini sebagai penyakit.
Begitulah contoh bahwa kesepakatan orang-orang terkait kesintingan (sickness) tidaklah bisa disamakan dengan pengalaman pribadi orang tersebut (illness). Boleng, dengan kelakuannya yang seperti itu, hampir tak ada orang di Tegalurung yang menganggapnya masih waras. Tapi apa yang dirasakan oleh Boleng, tidak seharusnya orang lain bisa menganggapnya sebagai penyakit karena mereka tidak merasakannya secara langsung. Dan terbukti, Boleng seharusnya memang sehat wal afiat.
Nasib dan Trauma Perempuan Sinting
Uripah lahir dalam keadaan piatu. Ibunya, Turi, tak mau proses melahirkannya dibantu orang, kecuali suaminya. Sota, sang suami, hanya bisa meratapi mayat istrinya setelah Uripah lahir. Kalau kau membiarkanku meminta pertolongan orang lain, kamu tidak akan ati begini, Turi, sesal Sota. Kacaunya lagi, kendati bersimpati pada Sota, masyarakat Tegalurung malah menganggapnya sebagai pembunuh karena membiarkan istrinya melahirkan sendirian.
Kondisi itu membuat Sota, si tua miskin, mengalami distress berlebih. Ia seperti menghindar dari tanggung jawab akan statusnya sebagai ayah. Barangkali itulah nasib terlahir sebagai miskin. Penghayatan Sota atas kemiskinannya menjadikan ia tidak bisa mendidik Uripah dengan baik. Setiap hari, Sota hanya berpikir cara untuk hidup di hari itu, tak kurang tak lebih:
Segala harapan seolah-olah pupus dari hidup Mang Sota. Ia bekerja seperti untuk hidup di hari itu saja. Ia tidak memedulikan hari kemarin tidak pula dengan hari esok. Seperti biasa, ia bangun lebih pagi dari matahari, pergi ke sumur, pergi ke pangkalan becak di pasar, meninggalkan Uripah, dan pulang dengan beberapa lembar receh pada malam hari (hal. 43).
Imbasnya, ia menganggap Uripah seperti gulma yang bisa tumbuh di mana pun. Maka jadilah Uripah sebagai seorang gelandangan yang sering mengais sampah di pengkolan pasar baru. Pernah suatu malam, Sota mencoba menjadi sosok ayah yang baik. Ia mengajak Uripah untuk mengobrolkan hal-hal ringan. Apakah berhasil? Malam itu, percakapan payah antara ayah dan anak telah terjadi:
“Enak?” tanya Mang Sota saat melihat Uripah lahap makan ikan goreng. Uripah pun mengangguk.
“Besok kamu mau makan apa?”
“Mbuh.”
“Mau ikan goreng lagi?”
“Ya,” jawab Uripah, tetapi kemudian menggeleng.
“Jadi kau mau makan apa besok?”
“Mbuh.”
Untungnya Sota masih memiliki tetangga yang—meski juga menggunjingnya di belakang—masih berbaik hati membantu merawat Uripah. Namanya Yuminah. Berkat Yuminah, Sota diberi tahu siklus bulanan. Uripah—mau semiskin apapun, Uripah tetaplah perempuan.
Yuminah juga seringkali memberikan makan secara cuma-cuma untuk Uripah. Tapi Yuminah bukanlah wali yang sabarnya minta ampun. Dengan gunjingan beberapa tetangga, ditambah lagi anaknya baru saja mati, Yuminah terkadang menolak untuk mengurus keseharian Uripah.
Tumbuh dengan minimnya pendidikan, Uripah tak sepenuhnya tahu cara menjaga diri. Dalam logika kesintingan Tegalurung, menjadi perempuan tentu menjadi risiko tersendiri. Dengan ketidaktahuannya, Uripah menurut saja ketika ada yang mengajarinya menaik-turunkan baju—ia segera ditertawakan. Kelak dengan ketidaktahuan itu, cuplikan yang disebutkan di epigraf terjadi. Uripah diperkosa dalam rimba kesintingan Tegalurung. Akibatnya ia hamil dan Sota segera memiliki cucu.
Setelah pemerkosaan itulah, Uripah menjadi sering termenung di teras rumah. Barangkali kejadian itu membuat Uripah menjadi seorang pengidap Posttraumatic Stress Disorder (PTSD). Suatu ketika Yuminah mencoba memperjelas apa yang terjadi saat Uripah diperkosa dengan menghadirkan kucing bunting. Melihatnya, Uripah ketakutan dan melempari kucing itu dengan sandal dan batu. Gejala ini menunjukkan adanya suatu hal traumatis yang mengepul di kepalanya. Ia tak mau kejadian traumatis itu kembali terulang pada dirinya—meski suatu saat, logika kesintingan Tegalurung kembali membuatnya diperkosa lagi.
Begitulah, proses pembentukan Uripah sebagai orang sinting tak bisa dilepaskan begitu saja dari lingkungan tempatnya tinggal. Lahir sebagai perempuan di lingkungan miskin menjadikan Uripah serampangan menjalani hidup. Kemudian, keserampangan itu menjadi label tersendiri dalam masyarakat—seorang sinting. Mirisnya, buntut kesintingan itu hanya menyebabkan stigma buruk dalam masyarakat. Dalam kondisi paling parahnya, kesintingan itu menjadi alasan Uripah bisa diperkosa—suatu hal yang tentu sangat menyakitkan, bahkan bagi orang “waras”.
Masalah ini tentulah hadir secara struktural dalam kehidupan masyarakat Tegalurung. Dalam kesehariannya, terbentuk wacana bahwa orang-orang seperti Uripah adalah sinting. Kalaupun benar Uripah sinting, penuduhnya perlu sadar bahwa ia tak terlepas dari suatu tatanan yang memproduksi kesintingan itu. Dan kalaupun benar ia sinting, seharusnya si penuduh ikut membantunya supaya tidak sinting lagi. Tapi apa daya, tak ada satupun dari mereka yang bisa melakukan itu. Mereka lebih suka terus-menerus memproduksi normalitas dalam kemiskinan dan kesintingan mereka.
Keseluruhan cerita Tegalurung seperti menyiratkan satu hal: bahwa selalu ada kondisi sosial yang menyebabkan seseorang dianggap sebagai sinting. Kondisi itu makin menguat sepanjang waktu karena penuduhnya, alih-alih membantu proses penyembuhan, malah hanya menyaksikan kesintingan itu dari jauh—sambil sesekali ikut memperkuat stigma pada si sinting. Novel ini, Aib dan nasib, seolah menjelaskan bahwa kondisi sosial-lah yang seringkali membuat orang menjadi sinting atas konstruksi yang dibuatnya. Konstruksi kesintingan itu dibuat, kemudian dipaksakan masuk sebagai identitas bagi si sinting, meski secara sadar si sinting tak sesungguhnya merasakan itu.
Penulis: Muhammad Tajul Asrori
