Ilustrator: Dewi Cantika

Meja Perjamuan

Tertaut manis mereka di sekitarku–
Netra kelam pekat,
bibir kecil kelu, pejalan dengan roda
wujud-wujud langka semesta

Senjang merasakannya
kiprah, mereka sedarah
lumrah, Bani Adam tunai

Hidangan dimamah nikmat, tanpa terpaut asing.
Lantaran;
para daksa benar mahir
para wicara sungguh membatin
para rungu menangkap gerak berbisik
para netra membaca raba,
nyata warna jagat merdu oleh nada
Lantaran, larasnya
manusia

Dria Pantai

Tirta ber-gemerisik
sekali waktu ber-debur
Hawa melengket
asin ,amis ,suam

Langkah mengayun,
merapat.
Pesisir menjilati tungkai

dingin..,
gelap

” ‘gelap’ baru hitam ,”
ujarnya pelatih
Apa hitam ber-rupa?

biru dan hijau dan putih
dan ;Pancarona
boleh, tahu
–?

Penulis: Khoiriyah Balqis

“Aku Bukan Retakmu”

Waktu berjalan seperti biasa,
katamu
Tapi tidak bagiku
Ia melambat di sendi-sendi
Mengental di tiap langkahku
Lalu berhenti
di tempat-tempat
yang tak menyediakan ruang untukku

Di lekuk tubuh yang kau sebut cacat
Aku menanam semesta yang tak kau baca
Urat-uratnya berdenyut seperti kata
yang tak pernah selesai diucapkan

Aku bukanlah retak pada cerminmu
Bukan kisah pilu yang bisa kau petik
Untuk menebalkan rasa syukurmu
Untuk kau jadikan cermin keangkuhanmu

Aku adalah bahasa yang kau abaikan
Aksara yang sengaja kau tinggalkan
Di pinggir halaman yang usang

Keadilan bukanlah tangan yang terulur
Bukan pula belas kasihan
Bukan pula suara lembut
Yang datang saat rasa iba bergetar

Keadilan bukan sekadar landai pada tangga
Bukan kursi yang kau sisakan dengan ragu
Ia adalah ruang yang tak lagi menghakimi
Siapapun yang berjalan
dengan langkah yang berbeda

Penulis: Andini Daniswari Wibowo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.