KUMPULAN PUISI DALAM FRAGMEN: “PERSIMPANGAN”

Tetap Belok
Antara simpang.
Kau dan aku,
cinta dan tangis,
Adam dan Hawa,
khuldi dan rusuk.
Anehkah bagimu jika,
“Sayang, apakah kita sampai?”
Jika belum, belok ke mana?
Salah jalan, kemudian apa?
Apakah tersesat?
Dombanya Yesus
Kaum kafir Islam
Apakah itu kita sekarang?
Dan mengapa,
di simpang ini,
Kita berdua tetap berbelok,
tak peduli jalannya sesat?
Tak peduli jalannya salah?
“Karena aku bersamamu?” Tidak.
Karena kita
memahami konsekuensi.
Sesat? Sesatlah sana.
Sampai dengan jalan sesat pun,
kita tetap sampai tujuan.
Mungkin kotor sedikit.
Penulis: Nur Istiyanti
Ke Mana-Mana
Dari segala ikatan
Engkau menarik paksa
Keluar dari rantai sarang
Angin melayangkan pikiran
Kalimat kehilangan arahnya
“Mari pergi makan.”
Semua terasa spontan
Apakah ini me-nyawit?
Dua orang ber-sawit
Membabat persimpangan
Dari penjemputan tergesa
Kau menjemput kalimat baru
“Ke mana lagi kita pergi?”
Penulis: Na’ilatul Najmi Alifsya
Aku diminta Ibuk Memotong Kangkung–2
Terkantuk mataku membasuh helaiannya.
Pisaunya telah bersiap,
tiap–tiap batang berongga aku belah dua–2
Mengelakkan <ulat> atas dalamnya.,.
Kutilik salah satu batang yang belum kubelah;
… nyata. Kanan bersih dan hijau dan segar,
… nyata. Kiri coklat (kecil) mulai membusuk.
Terbelah jadi dua–2
tak nampak secuil <ulat>
.. yang, hijau jelas aku letakkan di wadah suci
.. yang, kiri hanya coklat (kecil)
Apakah dibuang?
Sayang: ‘mubadzir(?)’
Tapi bila ku oseng???
bisa-bisa sekeluarga sakit perut
Ibuk,
anakmu sangat penakut ><
Penulis: Khoiriyah Balqis
Ustad Berkata,
lalu manakah yang engkau pilih antara:
laju-laju kendaraan di luar sana, yang membuatmu
terkepalkan dan membuat biru baru
di sekujur tubuhmu
;meski pada akhirnya kau bebas
mengambil seluruh angan di kepala
(seolah kau benar merasa bebas)
#tapibebasapayangkauharapkan
di dunia yang justru membatasimu. atau sebaliknya:
kau memilih berlindung di balik pintu
yang menahanmu untuk turun dan
berjaga di persimpangan
:alih-alih menekuni diri guna
berdzikir perkara duniawi
dan sekarang tinggal saja dirimu
u/ melambai pada lampu merah
tanpa sadar bensinmu
telah habis
Penulis: Muhammad Tajul Asrori
Panduan Singkat Menjadi Dua (Atau Barangkali, Melawan Dunia)
Persimpangan paling purba di dunia
Bukanlah perjumpaan dua garis di atas peta
Melainkan sepasang kepala kita
Sebab, mereka terlalu gemar menabung cemas, sembab.
Apakah kita sedang berjalan pulang,
Atau hanya sedang mendekati remang?
Tempat ini sedang sibuk melipat dirinya sendiri, Kasih.
Menjadi origami berbentuk peti mati
Tarif di atas piring melompat lebih tinggi
Dari apa yang kita—dan tangan kosong kita—bisa imingi
Aku bertanya:
“Apakah kita akan baik saja?”
Dan kau menjawab:
“Tidak, tapi aku punya bensin penuh, meski penuh peluh.”
…untuk kita coba lagi.
…untuk kita patah lagi.
Penulis: Aulia Hasti Zalika R.
