Ilustrator: Aura Bella Ranai Putri

Kuakui aku terguncang, dan tak apa. Setidaknya bayangan hitam itu selalu menemaniku di saat-saat terendahku meskipun aku tak yakin dia adalah hantu atau manusia.

Si Hitam—aku memanggilnya begitu—adalah yang paling mengerti aku. Dia lebih memahamiku daripada Kirana, sahabatku sendiri, dan Satrio, mahasiswa Teknik Sipil yang sok keras itu. Si Hitam tahu apa yang aku butuhkan.

Maka siang itu, saat waktu istirahat antar mata kuliah, dia mengajakku ke lantai teratas gedung fakultas. Aku berhasil menjawab pertanyaan staf gedung yang penasaran, jadi aku bisa menerobos ke rooftop. Aku berdiri di pinggir. Si Hitam ada di sampingku, berbisik menyaingi angin. “Lompatlah, Ani. Ini akan menyelesaikan masalah.”

Jantungku berdetak pelan. Ejekan anak-anak organisasi terngiang. “Oh, pantas kamu enggak punya teman. Kamu punya ‘gangguan’ rupanya.” Tawa sarkas mereka bergema selama heningku. Dadaku berat, mataku langsung basah.

“Lompatlah, Ani. Ini akan menyelesaikan masalah,” bisik si Hitam lagi.

Saat itulah, pikiranku mantap. Badanku terhuyung, kepalaku siap pecah. Namun, sebelum aku benar-benar menjatuhkan diri, aku merasa kemejaku ditarik dari belakang. “ANI! JANGAN!” soraknya, nyaring. Aku tak jadi jatuh, kepalaku tak  jadi pecah. Yang terjadi malah aku ditarik dan didekap. Beberapa saat kemudian, terdengar tangisan. Itu tangisan Kirana. “Ani, ini tidak menyelesaikan masalah,” cicitnya, sengau.

Mungkin setelah hari itu, aku berutang maaf dan terima kasih pada Kirana dan Satrio. Mereka ternyata menyusul ke rooftop, mereka menggugat organisasiku yang menjadi biang kerok, mereka menemaniku meminta pelindungan. Mereka berdua ada di sisiku.

Namun, aku rasa, si Hitam tetaplah pemenang pada akhirnya.

***

Kakiku gemetar. Aku sebenarnya sudah tak sanggup berdiri. Aku bersandar lemah di dinding bilik toilet. Bau pesing tidak mengganggu penghidu, tapi mataku yang mulai basah membuat pandanganku kabur. Aku meraih ponsel dan mencari sebuah kontak, lalu menelepon.

“Kirana.” Aku langsung menangis. “aku membutuhkanmu,” ujarku, nyaris berbisik.

Gadis kepang dua itu langsung panik. Setelah aku memberitahu aku di mana, telepon pun mati. Aku mengusap mataku, aku harus tenang, aku meremas bajuku, aku menormalkan napas. Bagaimana aku mau bercerita jika keadaanku kacau?

Namun, saat aku bertemu Kirana di luar bilik toilet perempuan, tangisku kembali pecah. Ia langsung menggandengku dan kami pergi ke sudut sepi fakultas. Di sana, aku menceritakan apa yang sudah aku dapat, hal-hal apa lagi yang dikatakan anak-anak organisasi tentangku, perkataan apa yang mereka layangkan padaku.

“Kiran, aku tahu aku berbeda. Aku tahu kok kalau aku punya gangguan. Tapi mereka seharusnya tidak mengatakan itu,” kataku sambil sesenggukan. Entahlah Kirana dan Satrio akan mengerti atau tidak. Kirana hanya memelukku, bajunya mulai basah akan air mataku.

Air mataku tak kunjung berhenti saat aku terngiang lagi perkataan-perkataan yang sama. “Oh, pantas kamu enggak punya teman. Kamu punya ‘gangguan’ rupanya.” Aku juga mendengar suara tawa mereka yang tampak puas melihatku terpuruk. Beberapa dari mereka juga mendorongku sampai bersimpuh, sampai laptopku jatuh dan keyboard-nya rusak, kemudian membasahi laporan praktek lapangan yang sedang kukerjakan dengan air minumku yang mereka ambil paksa.

Padahal aku dan mereka berada di satu organisasi kampus yang inklusif, organisasi yang sering disebut sebagai organisasi ‘ramah’. Organisasi yang dikenal tidak membedakan disabilitas dan non-disabilitas, serta selalu terbuka dengan anggota yang mengerut karena kondisi mentalnya. Bagi mereka, manusia berhak dimanusiakan, mereka berhak berorganisasi sebagaimana mahasiswa pada umumnya.

Namun, setelah masuk ke sana, aku rasa branding ‘inklusif’ itu fana. Teman-teman difabel, juga mereka yang memiliki kondisi mental sepertiku, banyak yang akhirnya mundur karena tak tahan. Kami seperti digunakan untuk memperkuat penjenamaan organisasi, untuk mendapatkan penghargaan-penghargaan, bukan untuk diberdayakan sebagaimana mahasiswa yang ingin berserikat.

Mereka yang bertahan harus menghadapi berbagai ejekan. Keistimewaan mereka dilucuti, dipermasalahkan sebagai penghambat program kerja.

Biasanya saat Satrio mendengar itu, dia akan mencaci, “Si Anjing! Satu divisi lho anggotanya banyak. Proker enggak jalan kok nyalahin yang lain?” Kirana pasti akan menyenggol lengannya, mengingatkannya akan makiannya itu.

Hari ini, mereka tidak mendengarkan cerita yang sama. Mereka hanya mendengarkan isakanku. Kata-kata penyemangat tak mempan—dan Kirana tahu itu, makanya dia memilih untuk mendekapku. Satrio hanya memandang ke bawah dengan tatap serius selagi mulutnya sibuk mengunyah roti susu.

***

Beberapa hari setelah kejadian di rooftop fakultas, Kirana mengajakku berjalan-jalan di area kampus. Suara motor dan mobil seakan beradu, diiringi suara tawa mahasiswa yang sedang berkelakar. Siang itu tidak terik, udaranya tidak panas, dan aku bisa melihat si Hitam sekelebat. Dia tidak melakukan apa-apa sih, hanya muncul sebelum menghilang dibawa angin.

“Aku akan adukan organisasi itu. Satrio berhasil mengumpulkan para korban dan menyakinkan mereka untuk membuat laporan. Kau tidak keberatan, ‘kan?”

Atensiku beralih. Angin berhembus pelan. Kirana memegang tanganku, erat, seakan ia ingin menghangatkannya.

Aku meneguk ludah, aku takut. “Kau tahu, ‘kan, apa yang akan terjadi padaku jika laporan itu sampai ke tangan mereka?”

“Aku tahu, makanya aku bertanya dulu,” jawab Kirana. “Mengingat kau adalah orang yang sering mereka rundung, mereka pasti akan mengincarmu.”

Dadaku sesak seakan jantungku mau meletup. Aku sudah membayangkan bagaimana anak-anak organisasi mengelilingiku dan menoyor kepalaku.

Mereka mati-matian menjaga marwah organisasi inklusif untuk bisa mendapatkan pujian dari civitas akademik dan mahasiswa. Banyak tokoh-tokoh ternama ikut memuja branding itu. Organisasi mereka bisa hancur jika kebusukannya menguar lewat laporan itu.

“Ani, aku tak tahu pasti kamu akan setakut apa nantinya.”

Aku mendongak. Kirana menatapku lekat-lekat. Kata-katanya terdengar berharap.

“Tapi, jika tidak dari laporan ini, kapan semuanya akan terbongkar? Kau mau dirimu diperlakukan begitu lagi?”

Aku terdiam, lalu menunduk. Hati kecilku bilang, “Tidak mau.”

“Percayalah, semuanya akan baik-baik saja.” Kirana memegang erat kedua bahuku. “Aku akan ada di sampingmu jika kau kenapa-kenapa dari laporan ini. Aku janji.” Gadis itu tersenyum, menatap yakin.

Aku mengenal Kirana. Dia sahabatku sejak SMA. Ia memahamiku meski tidak sepaham si Hitam yang tempo hari berbisik, menyuruhku untuk melukai diri sendiri. Namun, daripada menuruti si Hitam, akan lebih baik aku menuruti sesosok gadis kepang dua yang nyata di depanku ini. Teman baikku. Teman yang selalu ada untukku.

Aku pun mengangguk mantap. Aku harus siap dengan resikonya. Lagipula, aku tidak ingin menjadi lemah lagi.

Setelah hari itu, Satrio, Kirana, dan para korban yang melaporkan organisasiku langsung ke direktorat universitas. Laporan itu kemudian diproses dan organisasiku diperiksa.

Kemudian, entah apa yang terjadi, base twitter kampus tiba-tiba penuh kemarahan kepada organisasi itu dan cuitan para korban. Beberapa dari mereka yang bersuara bahkan mentalnya baik-baik saja dan non-disabilitas, tetapi mereka tetap diperlakukan tidak layak hanya karena mereka terlihat culun.

Bersamaan dengan itu, Whatsapp-ku penuh caci-maki dari anak-anak organisasi. “Kamu ya yang melapor?”, “Awas saja kalau ketemu”, “Kamu akan kami apa-apakan jika laporanmu tidak dicabut!”, begitulah kata mereka. Pikiranku kembali terguncang, dan si Hitam muncul lagi, menyuruhku untuk ‘pergi’ agar masalahku selesai.

Kondisi mentalku memburuk saat organisasiku terkesan membela para pelaku. Dengan pernyataan klise berbunyi, “Organisasi ini memang ramah, tapi kami juga tidak bisa sejinak itu dalam membimbing anggota. Bisa jadi yang dirasakan korban tidak seperti kenyataannya. Mereka berlebihan, padahal yang terjadi tidak seganas yang dilaporkan”, mereka membela organisasi. Tentu saja, alasan itu langsung dilahap api kemarahan dan tuntutan untuk melakukan klarifikasi.

“Pernyataan blunder! Apa-apaan dengan kemampuan komunikasi kalian. Korban berlebihan? Bangsat sekali pikiran itu. Udah ada buktinya lho.” Ini adalah komentar dengan like belasan ribu milik Satrio di Twitter. Komentar ini kemudian dihapus bersamaan dengan pernyataan klise itu.

Setelah pernyataan itu dihapus, sebuah surat ancaman yang dititipkan kepada teman sekelas sampai kepadaku. Surat itu ditulis seakan dengan darah padahal aku tahu itu hanyalah cat akrilik warna merah yang digores menggunakan jari. Warna merahnya membuatku parno, terlebih kata-kata di dalamnya yang berbunyi, “Kami tahu kamu akan ada di mana saja seminggu ke depan. Jadi, tunggulah.”

Saat aku memberitahu hal itu, Satrio merebut surat ancaman itu dari tanganku dan meludahinya. Dia berkata dengan lantang, “SIAPA YANG ‘NGIKUTIN ANI? BERHADAPAN SAMA AKU SINI! KATANYA TAHU ANI BAKAL ADA DI MANA AJA SEMINGGUAN INI?” Kirana langsung menenangkannya yang mulai memancing perhatian mahasiswa-mahasiswa lain. Satrio jadi kesal sendiri. Ia kembali menggigit roti susunya dengan muka garang.

Berbekal surat ancaman itu, Kirana dan Satrio langsung meminta perlindungan dari kampus atas namaku, sekaligus menyarankanku untuk tidak berorganisasi dan berkuliah dulu. Aku pun mengambil jatah cutiku selama seminggu lebih untuk menenangkan diri.

“Dia korban dan dia diancam.” Kirana bahkan sempat berdiri dengan dua tangan bertumpu pada meja. Matanya menatap galak. Pegawai Satgas PPKPT kampus yang tadinya tak serius dengan masalah mereka sampai mengerut di kursinya. “Saya mohon Anda bisa mendampinginya.”

Orang itu mengangguk cepat, ia ketakutan.

Dengan saran Kirana, pesan-pesan Whatsapp bernada ancaman itu kubiarkan, tetapi selalu ku-screenshot untuk menjadi barang bukti jika diperlukan. Surat ancaman dari cat akrilik itu difoto oleh Satrio untuk diarsipkan.

Tak berselang lama, press release organisasiku keluar. Mereka membenarkan apa yang sudah terjadi, lalu meminta maaf, dan memberitahu bahwa para pelaku sudah dikeluarkan. Press release itu membuat organisasiku dikecam, terancam bubar, dan para pelaku nyaris dikeluarkan dari kampus. Meskipun begitu, saat aku kembali beraktivitas di organisasi, samar-samar aku tetap diejek sebagai ‘gangguan’. Tidak seterang-terangan ejekan yang dulu, tetapi mengetahui bahwa ada pelaku lain yang ternyata beanak-pinak, mentalku mulai kacau dan semakin kacau saat aku keluar dari sana.

Dari situ aku sadar bahwa mentalku tak akan aman lagi selama aku masih satu kampus dengan orang-orang yang merundungku. Aku masih bisa menemukan mereka di trotoar jalan, di kantin, di gedung fakultas, dan lain-lain. Wajah mereka masam seakan ingin meludahiku.

Jadi, saat aku sendirian, saat si Hitam kembali berdiri di sampingku dan berbisik, “Ani, ‘pergi’ akan menyelesaikan masalah. Jika kau ‘pergi’, semuanya selesai,” aku akhirnya membenarkan pernyataannya. Setidaknya aku tak perlu menyusahkan Kirana dan Satrio lagi. ‘Pergi’ adalah jalan terbaik, dan akan lebih baik jika kali ini aku ‘pergi’ diam-diam.

Penulis: Nur Istiyanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.