KUMPULAN PUISI DALAM FRAGMEN: HAMPIR

0
Almost Complete Emptiness karya Aleksandr Petelin

Perihal Catatan Vas

Sering kita hias
Sering juga kita retak

Aneh, vas tanah liat kita bermacam motif
Bunga tertimbun adonan baru
Goresan terlukis gugus bintang

Tampilan selalu baru tapi bukan wujud
Usapan kita terus membentuknya
Menambal, memoles, melukis
Di tiap kehampiran lebur

Penulis: Na’ilatul Najmi Alifsya

Hampir Selanjutnya

Kadang kita hampir.
Tapi, jarak lebih kejam.
Darat lebih jauh,
laut lebih ganas.
Dan kita kembali dalam penjara
yang kita bangun sendiri.

Saat kita hampir,
kadang kita gembira,
kadang kita diam.
Hampir mencapai atau gagal.
Hampir selesai atau kalah.

Sudah sepersekian kali.
Hampir-hampir itu,
menyiksa kita,
hati kita.

Inikah hampir selanjutnya?
Karena aku tak tahan.
Kenapa belum tergapai?

Sayang,
kenapa masih ‘hampir’ ya?
Kenapa belum menang ya?
Akankah kita hampir kalah lagi?

Penulis: Nur Istiyanti

Saya, akan, Lawan!

Pintanya, kau ikuti
Tanpa sadar, dirinya adalah
bisikan setan

hasutan memelas
Menadah rasa kasih

Inilah cinta, katanya
Nyatanya, dimamah 
habis tubuhmu

tawaran penolong
Gelincir dosa

Hangat, peluknya
Sorenya, mata kecilmu
tersedu menangis kencang

nyaris tersesat
Kubangan maksiat

Kepada, nurani
Catatan: jangan dekat
dengan kemungkaran

juang lawan
Kendali atas nafsumu

Selamat berjihad (lagi)

Penulis: Khoiriyah Balqis

Sangat Dekat

Waktu terus berlalu
Berhenti sejenak, lalu terus melaju

Bunga bersemi di halaman
Dirawat dan disiram dengan kasih sayang

Pada suatu waktu, tiba-tiba ia membatu
Tak lagi terurai indah seperti dulu

Heran, tak sadar sang bunga jadi korban
Dari air yang tak pernah tertakar

Sejenak ia hampir saja mekar
Namun pupus dalam luapan kasih sayang

Penulis: Mochammad Zaidan Chanif Alharis

Katarsis, Katalis

dua jalan rima, yang terpotong-potong; terfragmentasi—membikin tubuhmu koyak. sisa mesin-mesin lestari.

tergerak satu cabang: menjalar. hampir menafikan segala apa yang tercantum sebagai takdir.

di dalam lanskap—jam dinding mengalun; menuntut cepat, lambat lamat, lari di dalam diri. membuat lumpuh gerakan rimpang yang terkujur sebadan-badan di resonansi kabar buruk.

jawah melunturkan gerak-gerik usahamu,” kata angin di seberang jurang kekalahan.

lalu mesin-mesin merangkak naik dan mempercepat langkah sambil berharap sayap tumbuh dalam rongga kampas remnya: tak peduli.

ia melonglong ke atas:

“tapi rima berjanji menuntun kita sampai meregang nyawa,” ucapnya sambil mempercepat kejatuhan yang tak sebetulnya ia canangkan.

Penulis: Muhammad Tajul Asrori

Meh

Uripku tak setegak gedebok pisang
Diri hanyalah jala yang merangkap cerita kasih kerinduan
Tapi sesekali kuingin menjadi engkau..,
Bukan,
Gedebok pisang

Biar seutas terang kuyakin bahwa diriku ada
Sederhana saja
Aku tak mau mati dibayang malam
Dan siang mendekat membawa kabur
Kembali hidup…, niscaya
Dia tahu
Waktu lincah-lincah yang menderu kebisingan
Aku memimpikan kemerdekaan gedebok pisang
Tapi tak mungkin,
Dia selalu ada

Sekali saja, aku hanya ingin merasakan sekali saja
Biar rasa ini selalu nyata
Gedebok pisang itu jahat
Meh-ae
(hampir saja)

Penulis: Fudhail Najmudin Al Muzaki

Alang-Kepalang, Kenyang

Alang-kepalang..
Rasanya menjadi betah pada lantai kota asing 
Sebab indra pencecapku rewel nan cengeng

Andai lidahku tak diculik: oleh 
Serat daging yang kau pikul hingga pipih
                                                                    …(dendeng)
Dan bumbu manis yang meresap pelan ke dalam tempe
                                                                                        (bacem)…

Aku pergi, jauh, bersama ambisi.
Tapi pulang dan runtuh, sebab semangkuk rindu akan nasi.
Yang resepnya tak mampu kutiru 
Sebagaimana minyak yang meletup di wajanmu,
      Bu.

Penulis: Aulia Hasti Zalika R.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.