KELUARGA KORBAN TOLAK LAGA AREMA VS PERSEBAYA YANG AKAN DIGELAR DI STADION KANJURUHAN
Sumber: Keluarga korban
Pada Jum’at Sore (3/4), lima orang keluarga korban Kanjuruhan berangkat menuju Stadion Kanjuruhan. Menempati gate 13, mereka menyelenggarakan aksi diam dan doa bersama. Aksi tersebut dilaksanakan sebagai bentuk protes atas rencana pertandingan antara Persebaya vs Arema pada 28 April mendatang.
Ifah, salah satu keluarga korban, menjelaskan bahwa dilangsungkannya pertandingan tersebut akan kembali menimbulkan luka lama yang bahkan sampai sekarang belum sembuh. Menurutnya, para korban yang gugur di momen itu menjadi alasan luka mereka kembali kambuh jika pertandingan tetap dilaksanakan. “Karena itu kami melakukan aksi yang diam, tapi mengena,” terang Ifah.
Ia juga menegaskan bahwa aksi diam tersebut tidak bermaksud untuk membenci Persebaya. Jauh dari maksud itu, Ifah sebenarnya mengutuk pertandingan-pertandingan yang dilangsungkan di Kanjuruhan saat kasusnya belum diusut tuntas. “Istilahnya pertandingan ini tuh ngelunjak. Kok malah mendatangkan Persebaya ke sini sebelum kasusnya selesai,” ujarnya.
Setelah melakukan aksi diam dan berdoa, para keluarga korban bergeser ke Polres Kabupaten Malang untuk melakukan pernyataan sikap. Menurut Ifah, pernyataan yang dilakukan di Polres itu dilaksanakan karena kaitannya dengan institusi negara. “Kami anggap Polres bisa menjadi wakil dari pemerintah atas protes yang kami laksanakan,” sambungnya.
Apabila pertandingan tersebut tetap dilaksanakan, Ifah menegaskan bahwa para keluarga korban akan kembali menyelenggarakan aksi. Ia juga menganggap bahwa panitia pelaksana tidak menghargai perasaan keluarga korban. “Entah apa bentuknya, jika pertandingan tetap dilaksanakan, kami akan melakukan aksi lagi.”
Penulis: Muhammad Tajul Asrori
Editor: Nabila Riezkha Dewi
